Dugaan Kekerasan Jurnalis Tempo, Nurhadi Beri Klarifikasi

Penandatanganan petisi tolak kekerasan terhadap Jurnalis di depan bundaran Masjid Agung Mahmud Badaruddin I Palembang. Kamis (01/04/2021). Ukhuwahfoto/M Ilham Akbar

Surabaya – Ukhuwahnews | Jurnalis Tempo, Nurhadi menceritakan fakta kronologi kejadian atas kekerasan yang dialaminya pada Sabtu, 27 Maret 2021 lalu. Hal ini disampaikannya pada Konferensi Pers Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya yang diadakan melalui Zoom Meeting dan Live Streaming Youtube Minggu (18/4/21) kemarin.

Dalam konferensi online tersebut, Nurhadi mengatakan fakta sebenarnya kejadian yang dialaminya. Kekerasan bermula saat ia mendatangi Gedung tempat dimana dilangsungkannya pernikahan anak Ditjen Kementerian Keuangan.

“Saat itu, saya sedang melakukan reportase tentang kasus suap pajak yang diduga menyeret Direktur pemeriksaan Ditjen Kementrian Keuangan, Angin Prayitno Aji. Kekerasan bermula ketika saya mendatangi Gedung Samudra Bumimoro yang saat itu sedang berlangsung acara pernikahan anak Prayitno Aji,” ujarnya.

Kemudian, Hadi memasuki gedung tersebut untuk melakukan investigasi dan memotret Angin Prayitno Aji yang berada di atas pelaminan. Saat ia akan meninggalkan Gedung tersebut, dirinya dihadang oleh beberapa panitia dan ditanya identitasnya.

Setelah salah satu keluarga mengkonfirmasi bahwa ia tidak mengenalinya, keluarga meminta petugas untuk menyita ponsel Hadi. Kemudian ia diminta untuk mengikuti petugas untuk keluar gedung oleh oknum aparat yang diduga adalah ajudan pribadi Angin Prayitno Aji.

“Sesaat sampai di sana, belum sempat saya menginjakkan kaki di atas tanah. Saya mengalami beberapa kekerasan seperti dipiting, ditampar dan dipukul hingga saya dicekik dan disudutkan di dinding kerumunan pompa air dan diinterogasi oleh beberapa petugas yang berjumlah 15 sampai 20 orang”, lanjutnya.

Hadi menceritakan juga bahwa ia disekap sekitar dua jam lamanya dengan beberapa penyiksaan terhadap alat-alat vitalnya seperti di bagian kepala, dada dan perut. Petugas juga meminta Hadi untuk membuka ponsel guna me-reset semua isi memori.

“Mereka sempat meminta saya untuk membuka ponsel dan diminta untuk membuka password, setelah itu me-reset dan mematahkan memori ponsel saya,” tuturnya.

Setelah mengalami penyekapan selama dua jam, ia dipindahkan ke Hotel Arcadia bersama temannya Purwanto dan Firman. Saat itu mereka ingin memastikan bahwasaanya foto yang ia ambil tidak diberitakan di sosial media.

“Sejak awal sudah saya jelaskan bahwa saya tidak akan memberitakan foto yang saya ambil, karena maksud kepentingan saya bukan meliput acara tetapi untuk mewawancarai pak Angin,” katanya.

Di akhir klarifikasinya, ia berharap agar para aparat tidak semena-mena melakukan kekerasan kepada siapapun termasuk Jurnalis yang telah dilindungi dengan undang-undang pers.

“Ini bukan perkara wartawan Tempo saja, tetapi ini merupakan perkara serius yang harus diperhatikan untuk semua Jurnalis. Saya berharap agar apa yang saya sampaikan dapat menjadi pelajaran kepada seluruh Jurnalis dan mengandalkan peraturan Yurisprudensi bila terjadi kasus yang serupa,” tutupnya.

Reporter : Shalsabilla, Yahya
Editor : Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *