Di Tengah Ancaman Kepunahan, Orangutan Kembali Lahirkan Penerusnya

Sumber: menlhk.go.id

Di salah satu kawasan konservasi di Kalimantan Tengah, tepatnya di Suaka Margasatwa (SM) Lamandau, lahir seekor anak Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) pada April 2021.

Induk orangutan bernama Ilik ini kembali melahirkan seekor orangutan. Setelah terkonfirmasi hamil pada Maret 2021, Ilik terpantau sedang menggendong bayinya saat datang ke Kamp Pelepasliaran dan Pemantauan Gemini di SM Lamandau pukul 11.50 WIB, 13 April 2021.

Kelahiran ini menjadi kelahiran ke-18 yang terjadi selama kurun waktu 2016-2021 di SM Lamandau. Dari 18 kelahiran tersebut, tercatat 11 individu berjenis kelamin jantan, 6 individu betina, dan 1 individu yang baru lahir belum teridentifikasi.

Masa reproduksi dari orangutan Kalimantan berlangsung selama 233-263 hari. Jumlah anak yang dilahirkan biasanya tidak lebih dari dua, hanya satu individu dalam satu kelahiran. Berat bayi yang dilahirkan rata-rata memiliki berat 1,7-2 Kg.

Perbedaan Orangutan

Di Indonesia sendiri orangutan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu Orangutan Sumatera (Pongo abelli), Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus), dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Saat ini primata berbadan besar tersebut memiliki sebaran yang terbatas, yaitu hanya di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Prayogo, H., Thohari, A.M., Sholihin, D.D., Prasetyo, L.B., dan Sugardjito dengan judul “Karakter Kunci Pembeda Antara Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) Dan Orangutan Sumatera (Pongo abelli)” menjelaskan bagaimana perbedaan morfologi antara Orangutan Kalimantan dengan Orangutan Sumatera.

Perbedaan dari kedua orangutan ini bisa dilihat dari perawakannya, contohnya rambut. Orangutan Kalimantan memiliki rambut yang pendek dan kurang padat, berbeda dengan orangutan Sumatera yang memiliki rambut panjang, lebih tebal dan lebih berbulu.

“Orangutan Kalimantan memiliki badan lebih tegap serta kulit, wajah, dan rambut yang lebih gelap dibanding orangutan Sumatera,” tulis Prayogo dan kolega.

Ciri lainnya juga dilihat dari kantung tenggorokan yang besar dan berjumbai untuk orangutan jantan Kalimantan, sedangkan orangutan jantan Sumatera memiliki tenggorokan yang lebih kecil.

Kemudian dari pola perilaku, hewan herbivora ini bisa dikatakan hampir sama meski terdapat beberapa perbedaan.

“Pola perilaku orangutan Kalimantan dan Sumatera hampir seluruhnya identik walaupun ada perbedaan kemampuan sosialnya. Kedua jenis ini merupakan jenis arboreal yang jauh lebih banyak menghabiskan waktunya di atas pohon, dan bergerak berpindah tempat dari tajuk ke tajuk lainnya,” lanjut Prayogo dan kolega.

Orangutan Sumatera lebih banyak menghabiskan waktunya di atas pohon karena menghindari predator utamanya yaitu harimau. Berbeda dengan orangutan Kalimantan yang tidak ada predator seperti harimau.

Ancaman Kepunahan

Saat ini populasi orangutan dikatakan terancam, seperti dikutip dari WWF untuk populasi dari orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) sebanyak 14.600 ekor. Hewan ini tersebar dan hidup di habitat hutan hujan tropis dataran rendah dan hutan rawa gambut.

Menurut World Wide Fund for Nature (WWF) ancaman utama berkurangnya orangutan Kalimantan adalah kehilangan habitat, pembalakan liar, kebakaran hutan, perburuan, dan perdagangan orangutan untuk menjadi satwa peliharaan.

“Dalam satu dekade terakhir, setiap tahunnya paling tidak terdapat 1,2 juta hektar kawasan hutan Indonesia telah digunakan untuk aktivitas penebangan berskala besar, pembalakan liar, serta konservasi hutan yang dijadikan lahan pertanian, perkebunan, pertambangan, dan pemukiman,” Tulis WWF dalam lamannya.

Selama 20 tahun terakhir, paling tidak sekitar 55% habitat dari orangutan Kalimantan berkurang. Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), status dari orangutan Kalimantan saat ini terancam punah (Critically Endangered).

Reporter: Humaidy Aditya Kenedy
Editor: Wisnu Akbar Prabowo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *