8 Tahun Kasus Perundungan, MS Ungkap Nama Pelaku Lewat Rilis Pers

Ilustrasi perundungan
Sumber Foto: IdnTimes

Nasional – Ukhuwahnews | Pria berinisal MS, pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mengaku menjadi korban bullying dan pelecehan seksual di kantor KPI Pusat. Hal tersebut ia ungkapkan melalui rilis pers yang saat ini viral di media sosial.

Rilis pers ini ditujukan kepada Presiden RI, Joko Widodo. Dalam rilisnya, MS mengatakan sudah tak terhitung lagi berapa kali ia dilecehkan oleh sekelompok orang di KPI pusat.

Menanggapi hal tersebut, ketua KPI Pusat, Agung Suprio mengatakan akan memberi sanksi tegas kepada pelaku apabila terbukti benar melakukan tindakan tersebut.

“Menindak tegas pelaku apabila terbukti melakukan kekerasan seksual dan perundungan terhadap korban, sesuai hukum yang berlaku,” katanya dikutip dari laman resmi KPI.

Sementara itu, penasehat hukum MS, Muhammad Mu’alimin membenarkan kalau kliennya sudah melaporkan kasus ini ke Polres Metro Jakarta Pusat.

“Alhamdulillah saudara MS sudah melapor ke Polres Metro Jaya dengan didampingi Komisioner KPI, Ibu Nining Rodiyah,” katanya. Kamis (02/09/2021).

Sebelumnya, kasus ini terungkap karena beredarnya rilis pers yang diposting oleh akun instagram @grassroot.id, pada Rabu, (01/09/2021) lalu. Yang mana telah terjadinya pelecahan seksual dan perundungan di kantor KPI Pusat.

Dalam rilis pers tersebut, MS menuliskan nama-nama terduga pelaku yang melecehkan dirinya sejak tahun 2012 dan menceritakan kronologinya.

“Sepanjang 2012-2014, selama 2 tahun saya dibully dan dipaksa untuk membelikan makan bagi rekan kerja senior. Mereka bersama-sama mengintimidasi yang membuat saya tak berdaya,” tulis MS pada pesan yang tersebar itu.

Parahnya, terduga pelaku dalam hal ini adalah sesama pria. MS mengatakan sudah tidak terhitung berapa kali rekan kerjanya memukul, melecehkan, merundung dirinya tanpa bisa ia lawan.

“Mereka beramai-ramai memegangi kepala, kaki, tangan, menelanjangi, memiting, melecehkan saya, ” katanya.

MS mengaku kehilangan kestabilan emosi dan merasa stres karena mendapat perlakuan tidak senonoh tersebut. Pelecehan seksual dan perundungan tersebut mengubah pola mental dan menjadikan MS stres.

“Kadang di tengah malam saya teriak-teriak sendiri seperti orang gila. Penelanjangan dan pelecehan itu begitu membekas,” sambung rilis pers itu

Stres berkepanjangan yang dialami MS membuatnya kerap kali jatuh sakit.

“Saya mengalami Hipersekresi cairan lambung akibat trauma dan stres dan Post Traumatic Stress Disorder,” tuturnya.

Tidak tinggal diam, tahun 2017, MS mengadukan hal ini kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melalui e-mail. Baiknya, Komnas HAM memberi respon dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut termasuk dalam kejahatan atau tindak pidana. Lalu menyarankan MS untuk membuat laporan ke kantor polisi.

Karena tidak kuat dengan perlakuan rekan kerjanya, tahun 2019, MS membuat laporan ke Polsek Gambir. Akan tetapi, petugas polisi malah menyarankan untuk mengadukan hal tersebut ke atasan kantor KPI.

“Lebih baik adukan dulu saja ke atasan. Biarkan internal kantor yang menyelesaikan,” kata petugas polisi dalam pesan viral tersebut.

Setelah MS mengadukan kejadian yang menimpanya ke atasan, akhirnya MS dipindahkan ke ruangan yang dianggap lebih aman. Meski demikian, keputusannya membuat laporan malah membuat rekannya makin merundung dirinya.

“Sejak pengaduan tersebut, para pelaku makin mencibir saya sebagai manusia lemah dan si pengadu.Tapi mereka sama sekali tak disanksi dan akhirnya masih menindas saya dengan kalimat lebih kotor,ujarnya.

Karena perundungan yang terus terjadi dan membuat MS semakin lemah, pada tahun 2020 MS kembali membuat pengaduan ke Polsek Gambir. Akan tetapi, para petugas polisi tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh MS. Sehingga hal tersebut makin membuatnya merasa frustrasi.

“Sebagai warga negara Indonesia, bukankah saya berhak mendapat perlindungan hukum? Bukankah pria juga bisa menjadi korban bully dan pelecehan? Mengapa semua orang tak menganggap kekerasan yang menimpaku sebagai kejahatan dan malah menjadikannya bahan candaan?,” keluhnya dalam pesan tersebut.

Melalui pesan tersebut, dirinya berharap mendapat perhatian dari Presiden Joko Widodo untuk menindaklanjuti insiden ini.

“Dengan rilis pers ini, saya berharap Presiden Jokowi dan rakyat Indonesia mau membaca apa yang saya alami,” pungkasnya.

Reporter: Jeniedya
Editor: M. Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *