Mengenal Masjid Godang Koto Nan Ampek

Sumber : Google Image

Masjid Godang Koto Nan Ompek sekarang menjadi Masjid Godang Balai Nan Duo. Kata Godang Koto Nan Ampek sendiri berasal dari bahasa minang yang artinya Masjid Besar Kota yang Empat, sedangkan Masjid Godang Balai Nan Dua sendiri berarti Masjid Besar Balai Dua.

Terletak di Balai Nan Duo Kecamatan Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh, Sumatra Barat dan menjadi masjid tertua yang ada di Payakumbuh. Masjid ini pun didirikan sebagai salah satu syarat untuk mendirikan Nagari (wliayah/sekumpulan kampung yang dipimpin oleh penghulu).

Alasan bergantinya nama masjid ini karena perubahan status tempat masjid tersebut yang sebelumnya dari masjid nagari menjadi masjid kecamatan.

Pada saat sedang berkumpul dengan pengurus masjid lainnya di malam hari, Ketua Penggurus Masjid Godang, Tedi Rahman mengatakan bahwa masjid ini sudah didirikan sejak tahun 1691.

“Kalau pada tonggak (tiang) masjid tertulis bahwa masjid ini sudah didirikan pada tahun 1691 dan menurut sejarah masjid ini sudah ada sesudah 1691” ujar Tedi yang sangat antusias saat di wawancarai.

Masjid ini dibangun oleh masyarakat Koto Nan Ompek secara gotong royong, yaitu seminggu sesudah pekerjaan Rumah Gadang yang pada waktu itu di pimpin oleh Sultan Chedoh, seorang penghulu andiko (biasa) dari Nagari Koto Nan Ompek

Masjid ini memiliki 3 lapis atap yang meruncing ke atas. Bangunan utama masjid ini berbentuk persegi yang berukuran 20 × 20 meter. Di dalam bangunan utama sejumlah tiang yang dipancang miring, kecuali tiang utama di tengah. Dengan kontruksi berupa panggung seperti halnya Rumah Gadang, lantai masjid ini memiliki ketinggian sekitar 1,2 meter dari permukaan tanah. Karena keawetan kayunya, lantai, dan dinding yang semuanya terbuat dari kayu belum pernah diganti sejak pertama kali masjid ini dibangun hanya saja sekarang di lapisi oleh triplek.

Selain itu masjid ini juga memiliki bangunan tambahan seperti perpustakaan, rumah garin (marbot masjid) dan Tempat Pengajian Anak anak (TPA). Meski masjid yang telah berusia 3 abad dan telah beberapa kali direnovasi tetapi tidak terlalu banyak mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.

“Atapnya dulu terbuat dari ijuk (daun kelapa yang dikeringkan) sekarang sudah diganti dengan seng, atapnya ada 3 tingkat dan tidak ada plafon kemudian direndahkan dan dikasih palfon.” ujar Tedi atau yang kerap disapa Atuk Tedi (panggilan untuk laki laki yang di tuakan di lingkungan setempat).

Kegiatan di masjid ini sama seperti masjid yang lain pada umumnya. Yaitu, sholat 5 waktu, memiliki TPA dan pengajian setiap setelah subuh dan maghrib pada hari-hari tertentu. Jamaahnyapun datang dari sekitaran lingkungan masjid Nagari Koto Nan Ompek.

Masjid ini dianggap istimewa oleh masyarakat balai nan duo karena masjid ini adalah masjid nagari bukan masjid kecamatan, Surat keputusan (SK) dikeluarkan dari kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan karena usia masjid ini berdiri hingga sekarang.

Reporter : Bunga Yunielda
Editor : Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *