UKPM Teknokra Adakan Diskusi Publik Mengenang Tragedi UBL Berdarah

Diskusi publik yang diadakan Teknokra untuk mengingat tragedi UBL Berdarah. Selasa, (28/9/21). Sumber foto: Doc Ukhuwah

Lampung – Ukhuwahnews | Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra adakan diskusi publik untuk mengenang 22 tahun tragedi Universitas Bandar Lampung (UBL) atau gerakan mahasiswa Lampung. Selasa, (28/9/21).

Tragedi itu menewaskan dua mahasiswa Universitas Lampung (Unila) tahun 1996, Yusuf Rizal dan Saidatul Fitriah.

Pemimpin Umum UKPM Teknokra Periode 1998-1999, Juwendra Asdiansyah mengatakan, hingga saat ini belum diketahui secara pasti kejadian yang menimpa Saidatul Fitriah dan Yusuf Rizal.

Meski dugaan sementara pelaku merupakan aparat Koramil Kedaton dan sempat menjalani persidangan.

“Kami telah membuat tim untuk melakukan konstruksi dengan menanyai para saksi yang ada di tempat kejadian. Namun, banyak yang tidak berani untuk berbicara mengenai masalah tersebut,” ujarnya.

Juwendra menjelaskan, saat itu Saidatul Fitriah tengah melakukan peliputan ketika terjadinya bentrok di UBL. Saidatul ketika itu, tidak ditugaskan untuk peliputan tetapi ia tetap bersi keras untuk turun ke lapangan.

“Itu memang inisiatif dari Atul sendiri, ia sampai naik ke pilar gedung rektorat UBL untuk mendapatkan hasil foto yang bagus,” jelasnya.

Mantan Pemimpin Umum Teknokra itu juga mengungkapkan pasca bentrok tersebut Atul dilarikan ke Rumah Sakit Advent dan ditangani oleh Dr. Rosalina karena Atul mengalami patah tulang dibagian tengkorak kepalanya dan mengharuskan untuk dioperasi.

Menanggapi hal tersebut, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, Prabowo Pamungkas berpendapat, kasus Atul dan Yusuf ini merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), selain itu pemerintah dianggap kurang berkomitmen dengan undang-undang yang ada.

“Jika dilihat adanya unsur serangan terhadap demonstran, ini sudah termasuk pelanggaran HAM, seharusnya ada upayah yang dilakukan oleh aparatur negara untuk mengatasinya. Tetapi, pemerintah saja tidak meminta maaf kepada keluarga korban,” ujarnya.

Prabowo menambahkan, selain faktor pemerintah yang kurang berkomitmen, kondisi pada saat itu kurang mendukung karena kurangnya teknologi serta adanya tekanan politik kekuasaan masa orde baru.

“Tidak ada yang mendokumetasikan kejadian pelanggaran tersebut, sehingga sangat sulit untuk mengusutnya,” tambahnya.

Tak hanya itu, Prabowo memberikan teknis pengaduan pelanggaran HAM, jika ada tindak pelanggaran yang terjadi pada diri sendiri ataupun orang disekitar kita.

“Kita harus tau jenis pelanggraan HAM, setelah itu akan ada penyelidikan oleh Komisi Nasional (Komnas) HAM untuk menyelidiki kasus tersebut, dengan meminta kesaksian dan bukti kongkret, barulah nanti dilakukan penyidikan oleh jaksa agung untuk mengetahui pelaku,” sampainya.

Selanjutnya, Pemimpin Umum Teknokra tahun 2021, Andre Prasetyo Nugroho mengatakan peringatan UBL setiap tahunnya merupakan sebagai bentuk merawat ingatan terharap kejadian UBL berdarah dan sebagai bentuk hormat atas meninggalnya dua aktivis Lampung.

“Bukan untuk membuka luka lama bagi crew Teknokra ataupun warga Unila, tetapi sebagai bentuk salam hormat kami terhadap dua aktivis Lampung yang telah mengorbankan kenyamanannya demi orang lain,” imbuhnya

Selain diadakan diskusi online, Andre bersama seluruh crew teknokra akan mengadakan ziarah di rumah Almarhumah Saidatul Fitriah yang bertempat di Gading Rejo Kabupaten Pringsewu Lampung.

“Minggu ini kita akan menyekar ke makam Saidatul Fitriah sebagai bentuk penghormatan dan kami akan berkunjung ke rumah orang tuanya untuk memperpanjang silatuhrahmi,” ujarnya.

Terakhir, Andre berharap kedepannya bukan hanya ada diskusi saja. Tetapi, ada suatu simbolis yang dapat dibuat untuk mengingat kedua aktivis tersebut seperti, monumen atau membentuk tim penyelidik untuk menyelesaikan masalah itu.

Reporter: Siti Alicia Zahirah, Wilda Halimatunnisa
Editor: M. Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *