Senyum Anak Nusantara di Tumpukan Sampah TPA Sukawinatan

Foto bersama pengajar (tengah) dan peserta TPA Sukawinatan di akhir sesi belajar, Minggu, (17/10/21). Ukhuwahfoto/Delta Septi

Topik terkait pandemi Covid-19 masih menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat, semua unit kegiatan terdampak akibat permasalahan ini. Krisis ini menimpa hampir seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Mengulik kembali keprihatinan terkait tingkat pemerataan Pendidikan, Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah, hal ini semakin bertambah buruk dengan adanya krisis akibat pandemi, dunia Pendidikan dibuat binggung dengan peraturan penyesuaian yang menuntut semua sekolah dan instansi Pendidikan menerapkan sekolah daring.

Pada awal pemberlakuan sekolah daring, ada beberapa permasalahan yang timbul, mulai dari pengadaan sinyal internet yang tidak merata sampai kepelosok daerah, tidak adanya gadget siswa sebagai alat utama belajar online dan mahalnya paket internet yang harus dibeli.

Dari berita resmi yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pada tahun 2020 bekerja untuk memastikan peningkatan kualitas pembelajaran tetap berjalan sekaligus memastikan bahwa segala kebutuhan di masa krisis pandemi Covid-19 tetap terpenuhi.

Namun masih saja ada beberapa permasalahan yang belum terselesaikan, hal ini memberi imbas besar bagi siswa kurang mampu yang kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan belajar online.

Hal ini menjadi salah satu landasan adanya rumah belajar gratis bagi anak di lingkungan TPA Sukawinatan yang diadakan salah satu komunitas sosial di Palembang, mereka tergabung dalam komunitas Senyum Anak Nusantara (SAN), komunitas yang baru satu tahun berdiri di Kota Pempek Sumatra Selatan ini membuka sekolah anak dan rumah baca.

Berfokus pada bantuan Pendidikan terhadap anak, SAN gandeng generasi muda sebagai relawan pengajar, hal ini yang disampaikan salah satu divisi Acara Komunitas Tamiya Anggraini di sela waktu mengajar, Minggu (17/10/21).

“Relawan yang datang tergantung dengan kesibukan anggota, tapi minimal dua minggu sekali. Dan 80% dari mahasiswa sisanya ada yang sudah kerja,” jelasnya sambil membagikan jajanan kepada peserta belajar.

Lanjutnya, Tamiya menjelaskan beberapa pertimbangan memilih TPA Sukawinatan sebagai tempat diadakanya Sekolah anak, lingkungan dan juga fasilitas tersedia menjadi poin penting pertimbangan.

“Sebelum memutuskan di sini kami sudah adakan survey kebebrapa tempat, tadinya mau kepanti asuhan tapi kurang cocok karena anaknya kurang begitu banyak seperti di sini, dan biasanya mereka sudah sekolah semua,” terangnya.

Ketersediaan ruang kosong serta banyaknya anak kurang mampu dan putus sekolah menjadikan alasan kuat penentuan lokasi, hal ini dibarengi dengan sambutan aparat pemerintah dan masyarakat yang menyambut baik bantuan SAN.

Renovasi ulang serta pengadaan fasilitas menjadi langkah awal komunitas ini sebelum mulai pembelajaran, belum lagi permasalahan pola tingkah laku anak yang tidak bisa disamakan dengan sekolah reguler, kotor dan susah diatur adalah dua poin yang ditemukan.

“Ya dilingkungan seperti ini gak jauh-jauh dari kotor, susah diatur dan sebagai macem, gak bisa disamakan dengan anak disekolah formal,” katanya.

Ada 70 peserta terdaftar, dengan agenda rutin satu kali seminggu, ada 15 sampai 30 murid yang datang, selain itu SAN juga berikan bantuan berupa Jumat Berkah bagi masyarakat kurang mampu dari hasil pengumpulan donasi.

Pengembangan tema belajar dengan kemasan menarik dan edukatif menjadi cara menumbuhkan semangat relawan yang notabenya tinggal ditempat lumayan jauh dari lokasi belajar, Tamiya juga mengatakan para relawan tiap minggunya merogoh kantong pribadi untuk akomodasi kegiatan.

Di tengah proses belajar, salah satu murid Syafira Dwi Anastasya sambil membaca buku dongeng Kancil dan Buaya mengungkapkan ketertarikanya pada pembelajaran di sekolah anak ini.

“Kalau datang ya baca buku, berhitung, mewarnai, aku sudah dua kali mewarnai bunga dan rumah, belajar mencuci tangan, datang bersama teman-teman dan adik saya,” ucapnya dengan nada bersemangat.

Syafira adalah satu dari puluhan anak yang rutin hadir tiap minggunya. Di samping kegiatan membantu ibu berjualan gorengan di area tempat pembuangan akhir.

“Ibu juga tidak bisa membantu dalam pengerjaan tugas jadi selain google, kadang juga bawa PR ke sini,” keluhnya yang sambil tetap memagang buku dongennya.

Pengalaman suka duka mengajar, pusingnya mengatur anak-anak, jauhnya lokasi menjadi harapan bagi Tamiya dan kawan relawan lain untuk perubahan lebih baik, terkhusus dalam hal Pendidikan dan pengetahuan peserta. Menjadi perantara membantu anak yang kesulitan belajar dimasa pandemi.

Reporter: Delta Septi Asmara
Editor: Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *