Pamor Thrifting Meningkat, Masyarakat Lebih Pilih Pakaian Thrift untuk Hari Raya

Tak ada batasan usia, acara Palembang Thrift Fest ini Dihadiri semua kalangan mulai dari orang dewasa hingga anak-anak (27/03/21). Ukhuwahfoto/M Ilham Akbar

Palembang – Ukhuwahnews|Jelang Lebaran, tentunya banyak masyarakat yang berbondong-bondong membeli baju baru yang akan dikenakan saat bersilaturahmi ke rumah tetangga, kerabat bahkan keluarga. Namun, bagaimana dengan lagu yang sering kita dengar ditelinga yang isinya “Baju baru Alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya. Tak punya pun tak apa-apa. Masih ada baju yang lama.” Dari penggalan lirik tersebut, bisa kita ambil maknanya bahwa tak harus mengenakan baju baru yang dibeli di swalayan atau mall besar, masih ada baju lama yang tentunya masih layak digunakan kembali.

Merujuk makna tersebut, mungkin Sahabat Ukhuwah sudah tidak asing lagi mendengar istilah “Thrifting”. Sebab, istilah ini sudah hype sejak lima tahun terakhir khususnya di Kota Palembang. Dalam kamus urban, Thrifting artinya adalah upaya membeli barang dengan harga terjangkau dan tidak pasaran. Istilah ini juga belum banyak diketahui, karena sebelumnya masyarakat menganggap bahwa Thrifting adalah barang-barang bekas tak layak pakai.

Terkenal dengan sebutan Preloved atau barang bekas pakai, Thrifting mampu mencandu konsumen untuk membelinya. Loh kok begitu ya? Karena, barang tersebut terjamin kualitasnya. Tak jarang, saat nge-Trift konsumen menemukan barang yang masih menggunakan segel tag, bahkan juga tak jarang konsumen menemukan barang branded.

Konsep Zero Waste dari Thrifting ini jugalah yang mendukungnya terkenal. Dengan mengurangi limbah tekstil, para penggiat lingkungan juga berbondong-bondong untuk mendukung gerakan membeli baju bekas ini.

Harga pakaian thrift yang relatif murah dibandingkan pakaian baru menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk datang ke acara Palembang Thrift Fest ini. Ukhuwahfoto/M. Ilham Akbar

Salah satu Mahasiswa asal perguruan tinggi negeri di Kota Palembang, Herliansyah yang juga termasuk konsumen baju Thrifting mengatakan bahwa ia menggandrungi dunia Thrifting sejak 2020. Terbilang awam sebenarnya, sebab ia juga baru tahu keuntungan dari nge-Thtift.

“Senang thrift baru sih, baru tahun 2020. Berawal dari punya uang cuma 100rb tapi ingin dapet baju dan celana. Kalau ke mall ga mungkin dana segitu dapat baju dan celana. Akhirnya, lebih sering beli pakaian hasil Thrift. Karena selain murah dengan kantong mahasiswa akhir seperti saya, kualitasnya juga masih ada yg bagus dan juga masih ada yg berlabel tag,” kata Herli.

Hari raya tahun ini pun, Herli mengaku lebih memilih untuk membeli baju hasil nge-Thtift dibanding beli baju baru di Mall.

“Kalo untuk baju lebaran tahun ini lebih memilih ngethrift. Karena, sudah paham dengan apa yang ingin dicari. Kalau beli baju lebaran di mall bawa uang satu juta mungkin hanya dapet berapa setel pakaian dan celana. Tapi kalo thrifting cukup bawa uang 200rb bisa dapet lima setel, baik pakaian ataupun celana,” akunya.

Herli juga menambahkan, Jika lagi beruntung ia bisa dapat barang dengan brand terkenal. Dan kualitas thrifting juga sama dengan di mall. Asal bisa mencari barang dengan teliti.

Sepaham dengan Herli, Muhammad Shahab yang juga salah satu pemburu pakaian Thrifting juga mengatakan jika diapun lebih memilih pakaian Thrifting dibanding baju yang ada di Mall besar.

“Kalo aku lebih milih thrift dari pada di mall. Alasan pertama yaitu di thrift masalah harga jauh lebih murah dibandingkan mall. Yang membedakan cuma masalah baru sama enggak nya aja,” ujar Shahab.

Shahab mengatakan, sensasi yang didapat saat nge-Trift tidak akan didapat saat mencari baju di Toko-toko. Dia juga mengaku tak lagi membeli baju di Mall, ia lebih suka beli di Toko Thrifting.

“Ada sensasi beda yang ga kita temuin pas nyari baju di Mall. Aku juga sekarang ga lagi beli pakaian di Mall. Karen menurutku, Thrifting sama aja,” ungkapnya.

Hari raya tahun ini, Shahab juga memborong pakaian Thrift sampai beberapa pasang. Uang yang dihabiskan pun tak sampai 500 ribu.

Reporter : Yuni Rahmawati
Editor : Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *