Pakai Egrek dan Kapak, Surdin Panen Buah Sawit

Surdin (34) memanen sawit menggunakan egrek. Menjadi petani sawit sudah dilakoninya sejak 2011. Hingga saat ini Surdin masih bekerja di PT Bumi Sawit Permai (BSP) Desa Rambang Kuang Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Senin (30/3/2020). Ukhuwahfoto/Firdaus.

Ogan Ilir – Ukhuwahnews | Berteman akrab dengan egrek dan kapak, sudah dilakoni Surdin (34) sejak 2011. Pada tahun itu, ia masih menjadi pegawai biasa. Berjalannya waktu hingga tiga tahun, Surdin fokus menjalankan pekerjaannya sebagai petani sawit milik PT Bumi Sawit Permai (BSP) Desa Rambang Kuang Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Nasib baik menghampiri Surdin di tahun 2014. Dia diangkat menjadi pegawai tetap di perusahan sawit tersebut.

Egrek dan kapak menjadi alat yang selalu Surdin gunakan. Egrek sendiri merupakan pisau yang berukuran panjang seperti galah dan memiliki mata pisau berbentuk sabit. Egrek digunakan untuk menarik pelepah dan buah sawit. Selain egrek, Surdin juga menggunakan kapak untuk memotong buah ketika sudah dijatuhkan dari batangnya.

Resiko pekerjaan pun harus dihadapi Surdin, seperti ketika bertemu dengan hewan liar di lahan sawit tersebut. Ular dan burung hantu pun kerap dijumpainya.

Tak hanya itu, Surdin bercerita kepada Ukhuwahnews.com kalau dirinya sempat tertimpa pelepah sawit bahkan buahnya. “Kadang pelepahnya, kadang juga buahnya. Jatuh menimpa saya. Ya alhamduilillahnya pihak perusahan memberikan tanggungan pengobatan untuk saya,” ujar dia. Senin (30/3/2020).

Mengenakan kaos abu-abu dengan celana pendek berwarna merah dan biru tua, Surdin tetap fokus mengaitkan mata pisau ke atas pohon sawit yang tingginya mencapai 24 meter. Satu pelepah berhasil terlepas dari pohon sawit dan tak lupa juga buah sawit ikut jatuh ke dasar tanah.

Ketika buah sawit sudah dilepas dari batangnya, Surdin menggunakan kapak untuk memotong buah sawit tersebut. Pekerjaan ini dilakukan Surdin setiap Senin hingga Sabtu di PT Bumi Sawit Permai (BSP) Desa Rambang Kuang Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Senin (30/3/2020) Ukhuwahfoto/Firdaus.

Tiap bulan Surdin mendapatkan upah Rp3.050.000 per bulan di luar bonus yang akan diperolehnya. Upah tersebut jatah normal bagi pegawai sawit di perusahan tersebut. Surdin mengatakan kalau dirinya dan pegawai lain bisa mendapatkan upah berkali lipat ketika buah sawit dipanen dalam jumlah besar.

“Bisa mencapai Rp5.000.000 sampai Rp6.000.000 per bulannya. Upah itu saya gunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari,” ucap dia.

Pekerjaan ini dijalani Surdin setiap Senin hingga Sabtu. Buah sawit yang dihasilkan Surdin tiap harinya sekitar 50 tandan. Di hari Ahad, Surdin mendapatkan waktu luang bersama keluarga. Sesekali juga Surdin menyempatkan untuk meluangkan waktu libur untuk memancing.

Menjadi hobi yang sedari dulu disenanginya, memancing bisa ia lakukan disekitar aliran sungai atau danau dekat lahan sawit tersebut. “Disini alamnya masih asri, jadi, ikan tidak sulit untuk didapat,” pungkas dia.

Reporter: Firdaus
Editor: Melati Arsika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *