Citizen Journalism: Strength in Democracy

Ilustrasi: Dwi Reynaldi

Banjarmasin – Ukhwahnews | Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta Jitu Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin menggelar Webinar Nasional mengusung tema Citizen Journalism : Strenght in Democrazy, Minggu, (18/7/21) kemarin.

Koordinator Wilayah (Korwil) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kalimantan, Novi Abdi mengatakan jika jurnalisme warga bukan berarti Jurnalis profesional dan praktik ini sudah ada sejak lama bahkan lebih tua dari umur jurnalisme itu sendiri.

“Secara sederhana, jurnalisme warga atau citizen journalism adalah kejadian yang pelapor aslinya bukan berasal Jurnalis profesional, melainkan akar dari jurnalisme,” katanya.

Novi juga mengatakan jika Jurnalis warga pun muncul sebagai alternatif dan berorientasi pada pasar melaporkan yang menguntungkan serta berpihak pada satu golongan dan mengabaikan golongan yang lain.

Dikutip dari laman presentasi di power point bahwa Jurnalis warga seringkali ditemui dan telah menyaingi Jurnalis profesional dalam hal kecepatan. Dengan bermodal smartphone, seseorang dapat merekam suara, gambar, serta video yang bisa langsung diunggah di sosial media. Namun, validitas berita yang di sajikan Jurnalis warga tentunya tidak bisa disamakan dengan data valid dari Jurnalis profesional.

Selaras dengan itu, Andreas Harsono selaku pegiat Jurnalis sastrawi dan penulis buku “Agama Saya adalah Jurnalisme”.

Webinar Warta Jitu dengan tema Citizen Journalism pada Minggu, (18/07) kemarin. Sumber foto: Doc Ukhuwah

Ia mengatakan bahwa wartawan seharusnya lebih menguasai interenet, karena perlu waktu 200 tahun sejak muncul mesin cetak hingga terbentuk jurnalisme melalui surat kabar kuno di Inggris.

“Wartawan merupakan penjaga gawang informasi dengan verifikasi penuh. Wartawan juga harus transparan serta jujur tentang diri sendiri baik metode dan motivasi serta kata tanya mencakup 5W 1H dalam peliputan,” jelasnya.

Ia melanjutkan, seharusnya wartawan jangan ber-rotasi dengan diri sendiri. Buat langkah yang baru untuk menunjukkan identitas seorang Jurnalis

“Kini setiap orang bisa jadi wartawan dengan Twitter, penyiar televisi dengan youtube dan penyiar radio dengan podcast dan ketika sudah mempunyai account instagram itu sudah bisa didefinisikan sebagai Jurnalis untuk itu , keahlian seperti ini harus bisa dipertanggungjawabkan ketika informasi yang diberikan itu salah ,” tutupnya.

Reporter : Elysa, Odelia
Editor : Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *