Verifikasi di Era Digitalisasi dalam Industri Media

Vina Mubtadi sebagai International Brodcaster VOA sedang menjelaskan digital fake checking diperlukan, yang harus dilakukan jurnalis pada webinar bertema Mengupas Jurnalisme Pengecekan Fakta dalam Menopang Industri Media melalui Platform Webex dan Youtube. Kamis, (01/10/20).

Ukhuwahnews | Guna meminimalisir terjadinya berita hoax dan memverifikasi informasi di era digitalisasi industri media, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bersama dengan Voice Of America (VOA) mengadakan webinar bertema Mengupas Jurnalisme Pengecekan Fakta dalam Menopang Industri Media melalui Platform Webex dan Youtube.

Ketua AJI Indonesia, Abdul Manan, mengatakan jurnalisme cek fakta sudah berkembang cepat. Cek fakta adalah kode etik pertama dari kerja jurnalistik yang menjadi benefit dari media.

“Diketahui beragam media yang memberikan pemberitaan terhadap issu kejadian yang terkadang mendapat kepercayaan dari publik begitu cepat termasuk media sosial yang hanya mengejar kecepatan viewers, sehingga ini menjadi peluang bagi jurnalis untuk melakukan peran sebagai verifikator,” ucapnya pada Kamis, (01/10/20).

Selurus dengan itu, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Wahyu Dhyatmika mengatakan, peran jurnalisme dalam melakukan tugas memverifikasi berita yang sampai ke publik dari media sosial ataupun media lainnya menjadi hal yang wajb untuk dilakukan.

“Sangat penting setiap media memiliki cek fakta di digitalisasi, media juga harus punya sesuatu yang menonjol dan memiliki keterikatan dengan audiens,” ujarnya.

Senada juga dengan Wahyu, Suwarjono Sebagai Pemimpin Redaksi Suara.com juga mengatakan, adanya mis dan disinformasi yang banyak datang dari media digital sebagai tantangan sulit yang harus dihadapi. Untuk itu diperlukan content yang terverifikasi dan berkualitas yang sebaiknya dilakukan oleh tenaga ahli di bidang jurnalisme.

“Pekerjaan utamanya jurnalisme yaitu verifikasi, dibutuhkan kekuatan atau kemampuan yang bisa mengelolah human dengan mesin, orang yang sangat profesional, teliti menggunakan mesin dan tools yang mulai banyak untuk dapat mengantisipasi meluasnya mis dan dis informasi,” jelas Suwarjono.

Kemudian, Vina Mubtadi sebagai International Brodcaster VOA menuturkan Ekosistem misinformasi dan disinformasi yang terjadi di Amerika Serikat (AS) tidak jauh berbeda dengan Indonesia yakni beragam mis dan disinfromasi dari yang ringan sampai buruk yang memerlukan pemeriksaan fakta untuk memastikan kebenaran yang terjadi.

“Seperti di Indonesia di AS juga diwarnai tipe mis dan dis informasi, dari yang ringan sampai yang buruk. Digital fake checking diperlukan, yang harus dilakukan jurnalis dengan digital verification dengan mengecek maps atau lokasi kejadian,” pungkasnya.

Reporter : Khofifah

Editor : Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *