Sungai Musi Dan Pencemaran Parah Di Dalamnya

Sumber: WordPress.com

Penulis: Ega Dwi Lestari (Anggota LPM Ukhuwah)

Selain sebagai sumber utama pasokan air bagi warga Palembang, Sungai Musi tergolong sebagai salah satu sarana transportasi utama di provinsi Sumatera Selatan. Sungai dengan panjang 750 kilometer ini memiliki hulu di pegunungan Bukit Barisan lalu bermuara ke Selat Bangka dan Laut Cina Selatan.

Saking panjangnya, sungai musi sanggup membela kota Palembang menjadi dua bagian, seberang Ilir dan seberang Ulu. Selain itu, kalian tahu gak sih mengapa sungai musi saat ini memiliki warna orange dan cenderung cokelat kehitaman.

Dikutip dari liputan6.com, Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Pencemaran Lingkungan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumsel, Rezawahya mengatakan, dari puluhan sungai yang diteliti nilai status mutu airnya, 13 sungai masuk kategori tercemar berat, lima sungai tercemar sedang dan tiga sungai tercemar ringan.

Dari 13 sungai dengan status tercemar berat tersebut, enam sungai berada di kawasan Palembang, salah satunya Sungai Musi. Dari data tersebut Sungai Musi termasuk ke dalam kategori sungai tercemar berat.

Menurut data dari Pemerintah Kota Palembang, 69 persen limbah pencemar di Sungai Musi berasal dari warga Palembang sendiri dengan limbah sampah rumah tangga yang mendominasi. Sementara itu, selain limbah padat rumah tangga, Sungai Musi juga darurat pencemaran air sungai akibat limbah cair yang menyebabkan air sungai berwarna keruh dan berlumpur.

Jika kondisi pencemaran terus terakumulasi, bisa berbahaya. Misalnya zat racun yang ada di air masuk ke dalam ikan, dan ikan dimakan manusia bisa keracunan. Dalam jangka panjang bisa berdampak bagi kesehatan manusia.

Dilansir dari mongabay.co.id air sungai musi menjadi keruh dan berlumpur karena adanya penambangan emas rakyat di hulu Sungai Musi yang airnya dibuang ke Sungai Rawas lalu bermuara ke Sungai Musi.

Penambangan tradisional ini dilakukan di daratan maupun di badan dan tepian sungai yang menghasilkan ratusan kubik lumpur per hari yang sebagian besarnya mengalir ke Sungai Musi.

Sumber: Sumeks.co

Untuk mengatasi hal ini, Walikota Palembang, Harnojoyo juga menggaungkan kegiatan gotong royong sebagai bentuk penyadaran kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah ke aliran sungai sebagai bentuk upaya mengatasi limbah padat.

Sedangkan sarana untuk mengatasi limbah cair akan dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan target beroperasi awal tahun 2022. Harapan dari pembangunan proyek IPAL ini agar air Sungai Musi ke depannya akan lebih bersih.

Lebih lanjut, pada musim hujan menurut Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Musi Palembang terjadi penurunan kualitas baku mutu air yang berdampak pada pengurangan debit dan tekanan air yang akan diterima masyarakat.

Hal itu membuat Instalasi Pengelolaan Air (IPA) tidak dapat mengelola air sungai yang sangat keruh akibat curah hujan yang ekstrem. Ironisnya, limbah padat yang berasal dari sampah rumah tangga kian menumpuk bahkan jika setiap hari diangkut oleh petugas kebersihan.

Hal  ini terjadi karena sampah yang terseret dari anak sungai yang bermuara ke rumah penduduk dapat berbahaya dan dapat menimbulkan berbagai penyakit dari bakteri di sampah tersebut. Minimnya fasilitas bak sampah menyebabkan masyarakat memilih membuang sampah ke sungai sebagai pilihan terakhir.

Menanggapi hal itu pemerintah hendaknya lebih serius dalam menangani pencemaran ini dengan menyediakan fasilitas yang lebih baik lagi. Harus ada sosialisasi dari Pemerintah Kota Palembang tentang bahayanya membuang sampah ke sungai karena dampaknya akan berdampak panjang bagi lingkungan.

Editor: Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *