Siapkan Jaketmu, Fenomena Bediding Masuk Palembang

Ilustrasi : Dwi Reynaldi

Belakangan ini suhu udara di Palembang terasa lebih dingin dari sebelumnya. Palembang yang dikenal sebagai kota yang memiliki intensitas cuaca yang panas dengan suhu bisa mencapai 35 derajat, sudah hampir satu minggu mengalami cuaca dingin.

Warga Palembang mengalami cuaca yang hampir sama dengan daerah Sumatera Selatan yang memiliki intensitas cuaca dingin seperti Lahat, Pagaralam, Semendo dan beberapa daerah lainnya.

Dari data Badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika (BMKG) pada hari Rabu, (14/7/21) cuaca di Palembang mencapai 26 derajat celcius. Ternyata, bukan hanya Palembang saja yang mengalami hal serupa. Pada belahan daerah di Indonesia juga mengalami hal yang sama.

BMKG memberikan penjelasan mengenai suhu udara dingin yang terjadi di Indonesia. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal menjelaskan, fenomena suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi pada bulan-bulan puncak musim kemarau, yakni Juli-September.

Dikutip dari Kompas.com, Peneliti di Pusat Penelitian Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Andi Pangerang Hasanuddin mengatakan, posisi Bumi terhadap Matahari akan berlangsung pada titik terdekat dan terjauh. Setiap tahunnya, Bumi berada pada jarak terdekat dengan Matahari yang disebut perihelion, dan ini terjadi setiap bulan Januari.

Sementara, Bumi akan berada pada jarak terjauh dari Matahari yang disebut sebagai aphelion, dan terjadi setiap bulan Juni. Aphelion di tahun ini terjadi pada tanggal 6 Juli 2021, di mana puncaknya terjadi pada pukul 05.27 WIB, 06.27 WITA, 07.27 WIT pada jarak 152.100.527 kilometer.

Namun ternyata, faktor yang mendasari mengapa suhu udara terasa dingin bukan hanya disebabkan oleh fenomena ini saja, tetapi bisa jadi juga disebabkan karena pola angin.

Distribusi yang paling signifikan memengaruhi cuaca bumi adalah pola angin. Pada bulan Juli hingga Agustus nanti, posisi rotasi sumbu yang menghadap ke matahari di belahan utara menyebabkan suhu di belahan utara bumi lebih panas dibanding di selatan.

Pada Juli, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia, menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia.

Angin monsun Australia ini akan bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin, sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa terasa juga lebih dingin.

Perubahan cuaca yang tidak biasa ini, orang Jawa menyebutnya sebagai Bediding. Bediding (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦶꦣꦶꦁ bedhidhing) adalah istilah untuk menyebut perubahan suhu yang mencolok khususnya di awal musim kemarau.

Wilayah yang biasanya mengalami fenomena bediding merupakan wilayah yang tipe hujannya monsunal, yaitu yang pola hujannya mengalami puncak di sekitar bulan Desember-Januari-Februari dan mengalami kondisi kering (hujan minimal) pada Agustus-September-Oktober.

Wilayah yang termasuk tipe hujan monsunal yakni pada Indonesia bagian selatan, yaitu Sumatera Selatan, Lampung, Pulau Jawa, Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Jadi, siapkan jaketmu dan tetap berada di dalam rumah jika tidak ada kegiatan apapun. Karena, ada banyak sekali dampak dari fenomena Bediding ini. Tubuh akan merasa lebih kedinginan dari biasanya dan berdampak menurunkan imun tubuh. Jaga asupan gizi dan mengontrol cairan dalam tubuh sehingga tidak terjadi demam.

Penulis : Yuni Rahmawati (Pemimpin Redaksi LPM Ukhuwah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *