Sempat Anjlok di Tengah Pandemi, Usaha Tempe Kini Stabil

Agustiawan (36) selaku pelaku usaha di sektor pangan yakni tempe sedang membungkus kedelai yang selesai diolah di rumahnya, Jalan Gotong Royong III, Kelurahan Sukodadi, Kecamatan Sukarami Palembang, Selasa (2/9/2020). Ukhuwahfoto/Adam Rahman

Palembang – Ukhuwahnews | Adanya wabah pandemi Covid-19 membuat sebagian sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus bertahan. Salah satunya pelaku usaha pembuatan tempe di Jalan Gotong Royong III Kelurahan Sukodadi Kecamatan Sukarami Palembang.

Agustiawan (36) merasa diuji dan harus bertahan memproduksi tempe untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Lonjakan harga kedelai menjadi problem utama usaha tempe Agus.

“Sewaktu awal masa pandemi, harga kedelai ini mencapai Rp10 ribu per kilogramnya. Setiap pembelian, saya harus membeli satu ton setengah kedelai,” ujar Agus.

Sebelum adanya Covid-19, Agus bisa mendapatkan satu kilogram kedelai dengan harga Rp7 ribu. Lonjakan harga yang hampir 50% itu tak bertahan lama. Saat ini pasaran harga kedelai sudah kembali normal.

Namun begitu, dari kejadian kenaikkan harga itu Agus berusaha melakukan strategi baru agar tidak rugi. Dirinya lebih memilih memangkas keuntungan penjualannya daripada merubah ukuran tempe.

Baginya, kualitas produksi harus tetap dijaga.Selain dari bahan baku yang melambung, daya beli masyarakat yang rendah akibat ketidakstabilan ekonomi juga mempengaruhi penjualannya. Meski begitu, lelaki yang megenakan kaos sejari berwarna biru itu tetap mempertahankan usahanya.

Tiap hari dirinya bekerja selepas azan Isya hingga pukul 11 malam. Kurang lebih sudah 5 tahun Ia menekuni usaha ini. Berbekal pengalaman selama satu tahun, Agus memberanikan diri memproduksi tempe buatannya sendiri.

Tak heran jika jari jemarinya cekatan ketika memasukan kacang kedelai yang sudah diolah sebelumya ke plastik panjang transparan. Salah satu proses pengolahan sebelum dilakukan fermentasi menjadi tempe.

Agus memasukkan kedelai yang sudah melalu berbagai proses ke wadah plastik dan akan di fermentasi sebagai proses akhir. Proses tersebut dilalukan dirumahnya. Ukhuwahfoto/Adam Rahman.

Bagi Agus, pada saat proses fermentasi ini sangat penting sebab akan memunculkan rasa serta aroma yang khas, proses fermentasi juga menjadikan tempe lebih mudah dicerna oleh tubuh.

Kedelai ini sudah melalui beberapa tahapan sebelum dimasukan ke dalam plastik. Kedelai yang hendak diolah harus dicuci dulu sampai bersih kemudian direbus selama dua jam setengah, kemudian direndam di dalam bak penampungan khusus selama satu malam,” jelasnya.

Dibantu sang istri, Nurhasanah (40) Agus mulai mempersiapkan bahan baku setengah jadi untuk kemudian dibungkus menjadi tempe daun ataupun tempe dengan bungkus plastik.

“Biasanya saya ditemani istri dalam memproduksi tempe ini. Kita bagi tugas, saya yang memasukan kedelai, sementara istri menyusun tempe ini ke dalam rak susun yang kita buat sendiri,” imbuh ayah satu anak ini.

Selain wadah plastik, Agus juga memanfaatkan daun pisang sebagai tempat kedelai yang sudah diolah untuk melalui proses fermentasi yang dilakukan di rumahnya. Ukhuwahfoto/Adam Rahman

Sebelum masa pandemi, Agus mampu memproduksi sekitar satu kwintal setiap harinya. Namun sejak pandemi Covid-19, Dirinya mangaku hanya mampu memproduksi sekitar 70 kilogram untuk setiap harinya. Tempe hasil produksinya dijajahkanya di pasar, terkadang juga ada beberapa pembeli yang datang langsung ke rumah Agus.

“Saya berjualan di Pasar KM 12 Palembang, tapi terkadang ada juga orang yang memesan dalam jumlah tertentu kepada saya,” pungkasnya.

Reporter: Adam Rahman

Editor: Melati Arsika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *