RMOL Sumsel Bahas Dampak Pertambangan Sumsel Lewat FGD

Aktivis HAM, Haris Azhar saat memberikan materi dan mengajak pemerintah serta rakyat agar lebih memberdayakan kerusakan lingkungan, Minggu,(05/06/2022).

Palembang – Ukhuwahnews | Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Kantor Berita Republik Merdeka Sumatera Selatan (RMOL Sumsel) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Dampak Aktivitas Pertambangan di Sumsel dalam Perspektif Lingkungan Hidup dan Keadilan Ekonomi.” Kegiatan ini berlangsung secara Dalam jaringan (Daring) dan Luar Jaringan (Luring) pada Minggu, (05/06/2022).

Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Ari Wibowo mengungkapkan kejahatan ekonomi ini merupakan perbuatan yang dilakukan suatu bisnis untuk mendapatkan keuntungan finansial.

“Kejahatan ekonomi ini sering masuk ke bidang korporasi pertambangan, walaupun tidak selalu. Pada dasarnya untuk mendapati keuntungan finansial pribadi korporasi,” ujarnya.

Kejahatan ekonomi ini bersifat kompleks. Berorientasi dengan hubungan finansial, nafsu yang menggebu-gebu untuk memperoleh keuntungan pribadi. Kejahatan Ekonomi yang terjadi saat ini disebut dengan White Collar Crime. Yang artinya kejahatan yang dilakukan secara halus dan memanfaatkan kedudukan.

“Kejahatan Kerah Putih (White Collar Crime) ini cenderung dilakukan oleh korporasi, dengan ciri tanpa disertai kekerasan, dikelilingi kecurangan, penyesatan, manipulatif, pengelekan terhadap peraturan undang-undang yang berlaku,” katanya.

Ia mengatakan perlu memiliki cara pandang ekosentrisme dalam penegakan hukum lingkungan. Karena yang menjadi korban bukan hanya masyarakat yang tertindas saja.

“Yang menjadi korban kejahatan itu bukan hanya manusia, tapi ekosistem berupa hewan dan tumbuhan disekitarnya pun turut terancam. Kalaupun dipidananya pengurus korporasi, tidak ada jaminan bahwa korporasi tersebut tidak akan mengulanginya,” imbuhnya.

Baca juga: Foto: Komunitas Musik Mahasiswa Berkolaborasi dalam Pagelaran Seni

Salah Satu Aktivis HAM, Haris Azhar mengungkap jika bencana lingkungan ini terus terjadi dan tidak adanya pemberantasan, akan ada dampak besar, jangan sampai menyesal sampai kita menyesal di akhir.

“Kerusakan ini jangan dijadikan trend oleh pimpinan. Orang-orang yang memiliki kekuasaan inilah bisa membuka atau memberantas kekerasan kejahatan ekonomi tersebut,” ujarnya.

Haris juga berharap semoga pemerintah cepat menindaklanjuti masalah lingkungan semacam ini agar tidak berlarut-larut.

“Saya harap dalam permasalah ini pemerintah dapat segera menemui titik terangnya, sebab jika dibiarkan ini kan berdampak pada lingkungan kita dan yang rugi pasti kita juga,” harapnya.

Di samping itu Ketua AJI Palembang Prawira juga mengatakan, sangat disayangkan jika masyarakat masih merasakan jika masalah ini tak penting, padahal jika ini dibiarkan maka bencana besar akan datang pada waktunya.

“Bagaimana masyarakat bisa tau di mana pertimbangan potensi rusaknya lingkungan, untuk itulah media massa bisa dipergunakan sebagai jembatan pendapat dan pengawasan,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan dengan adanya kontroversial ini masyarakat dan pemerintah bisa lebih tegas dan berani akan keberdayaan lingkungan sekitar.

Ya, kalo kata anak Jakarta Selatan dalam masalah lingkungan seperti ini ga relate. Untuk jurnalis ini penting dalam menjalankan kontrol sosialnya dan harapannya di bulan berikutnya sudah mendapat tanggapan lebih baik lagi,” tutupnya.

Reporter: Odelia Winneke, Ellysa Melyana, Adrian Sidiq
Editor: Siti Alicia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *