Rakernas ke-IX, JKPI Adakan Seminar Internasional

Penyampaian materi diskusi oleh Dirjen Kemendikbud dan Ristek RI, Hilmar Farid (kanan) dalam acara Rakernas JKPI ke-IX melalui Zoom Meeting. Kamis (03/10/2022). Ukhuwahfoto/Desi Sari Cahyani.

Palembang – Ukhuwahnews | Jaringan Kota Pusaka Indoensia (JKPI) mengadakan seminar internasional dengan membahas perkembangan kota yang ada di Indonesia. Acara dilakukan di Hotel Aryaduta Palembang secara semi daring, Kamis (03/11/2022).

Acara ini salah satu rangkaian kegiatan dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) JKPI ke-IX, yang pada tahun ini Kota Palembang ditunjuk sebagai tuan rumah.

Direktur Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Dirjen Kemendikbud dan Ristek RI), Hilmar Farid mengatakan dinamika sejarah suatu kota terekam dalam berbagai pusaka.

“Bagi saya pusaka ini bukan hanya soal bangunan tetapi tentang berbagai macam ekspresi budaya yang sifatnya intensible dalam merekam perjalanan sebuah kota,”  ujarnya via Zoom.

Kata Hilmar, keberadaan dan keberagaman budaya tersebut dapat menjadi basis dalam membangun kota yang lebih baik lagi.

“Keragaman dan keberadaan budaya ini mestinya menjadi basis kita untuk membangun kota yang lebih sehat, kondusif dan berkelanjutan di masa mendatang,” lanjutnya.

Ketika proses pembangunan suatu kota sedang berjalan, Hilmar menambahkan hal itu tentu tidak lepas dari adanya tantangan yang akan dihadapi.

“Saat ini pembangunan kota berlangsung sangat cepat, seperti kita sedang berlomba untuk menjadikan kota kita sebagai ruang ekonomi yang optimal. Tentu saja semua itu akan ada tantangan yang kita hadapi dalam proses pembangunan tersebut,” katanya.

Baca Juga: Potret Masjid Raya Baiturrahman, Saksi Bisu Tsunami Bandah Aceh

Lebih lanjut, ia menuturkan keberhasilan sebuah kota tidak hanya dalam pembangunan ekonomi saja tetapi dalam bidang sosial suatu kota juga menjadi salah satu faktornya.

“Keberhasilan sebuah kota bukan semata-mata pembangunan ekonomi tetapi kehidupan sosial di dalamnya juga menjadi faktor kesuksesan ssuatu kota,” tuturnya.

Terakhir, Hilmar mengatakan kebudayaan di sebuah kota merupakan bagian dari esensial.

“Kebudayaan tidak hanya dilihat sebagai dekorasi sebuah kota tapi juga bagian dari esensial. Sehingga, suatu kota haruslah mempunyai ruang-ruang budaya dan tentunya strategi yang penting,” tambahnya.

Ketua Presidium JKPI, Bima Arya Sugiarto menjelaskan hal-hal yang menjadi tantangan domestik market dalam suatu pembangunan kota. Hal ini dapat membuat pemerintah kesulitan uuntuk melakukan intervensi.

“Pertama, tidak semua mempunyai komitmen kuat karena semua bisa melihat betapa seksinya titik-titik itu apabila digarap secara maksimal. Kedua, tidak semua infrastruktur bisa dicapai dan diakses dengan nyaman oleh pengunjung. Ketiga, terkait persoalan ligel karena banyak lahan yang berdiri di atas lahan swasta atau pribadi,” jelasnya.

Bima menambahkan, dalam pembangunan kota, saat ini ruang untuk funding sudah terbuka.

“Kita bisa memasukkan proposal kepada lembaga dunia seperti UNESCO atau menyiasatinya dengan private funding. Dalam hal ini, pemerintah juga bisa mengucurkan dana dengan dasar-dasar hukum yang kemudian kita modifikasi,” tutupnya.

Acara ini dihadiri oleh Gubernur Sumatera Selatan, Wali Kota Palembang, Ketua Presidium JKPI sekaligus Wali Kota Bogor, Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV, Jaya Wikrama R. M. Fauwaz Diradja, perwakilan Organisasi Perangkat Daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Palembang.

Reporter: Desi Sari Cahyani
Editor: Annisa Dwilya Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *