Pramita, Pengrajin Songket Rumahan Yang Bertahan Hingga Kini

Pramita saat sedang melakukan kegiatan menenun songket. Biasanya ia akan melakukannya setiap kali sudah mengerjakan tugas rumahnya di Sungai Pinang, Kabupaten Ogan Ilir. Kamis, (29/07). Ukhuwahfoto/Vandea.

Sungai Pinang – Ukhuwahnews| Pramita (30) warga Desa Sungai Pinang lagati Kecamatan Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir, seorang ibu rumah tangga (irt) yang menjadi satu-satunya pengrajin songket rumahan hingga saat ini.

Menurut pengakuannya, ia sudah menjadi pengrajin sejak 17 tahun yang lalu dan bisa dikatakan otodidak, berawal dari sering melihat kakak perempuannya membuat songket.

“Kalau mau kursus mahal, jadi sering bertanya, kemudian diingat lama kelamaan bisa sendiri,” katanya saat ditemui pada Kamis (29 /07).

Dalam pembuatan songket ini, Mita mengerjakannya setiap hari setelah segala pekerjaan dirumah selesai. Ia lanjut membuat songket dengan motif sesuai dengan keinginannya sendiri.

“Kalau ingin harganya mahal, ya buat yang mahal yang lebih rumit, karena harganya juga tergantung dari rapi dan tidaknya kain songket yang dibuat,” ungkapnya.

Kain songket ini nantinya akan ia jual di pasar pasar terdekat, misalnya saja Indralaya. Dalam satu bulannya Mita bisa menghasilkan enam songket, yang terdiri dari tiga kain dan tiga selendang.

Waktu pengerjaan songket sendiri untuk kain itu paling cepat lima hari dan untuk selendang empat hari. Namun, kini semenjak pandemi Covid-19 harga songket yang ia jual kian menurun.

“Karena toko-toko di Jakarta sekarang sedang tutup akibat pandemi Covid-19, jadi pembeli itu berkurang. Kalau biasanya dekat 17an banyak yang beli buat pawai karnaval,” jelasnya.

Harga sepasang kain dan selendang itu ia hargai sebesar 950 ribu, untuk sistem jualnya Pramita memang sudah ada langganan di pasar 16 Ilir Palembang, dan sekarang di pasar Indralaya.

“Kalau dulu harus ke Palembang, sekarang tidak perlu jauh-jauh lagi jadi cukup ke Indralaya, tapi kalau hari Rabu sama Minggu mereka yang datang ke Tanjung Raja,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pramita dulu sempat menyewa toko di pasar dan menerima songket dari pengrajin lain, tapi terkendala oleh modal. Untuk sekarang ini Pramita berkeinginan  membuka kursus untuk orang-orang yang ingin belajar membuat songket.

“Tapi kendala disini itu tidak ada yang berminat, banyak yang bilang susah. Padahal tidak susah kalau benar-benar ingin belajar, masalah upah bisa nanti yang penting belajar dulu, padahal besar peluangnya itu,” tutupnya.

Reporter: Vandea Helga Fany
Editor: Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *