Meski Kehilangan Karyawan, Toko Kerajinan Rotan Ini Tetap Eksis

Ikhsan (54) memperlihatkan salah satu hasil kerajinan rotan yang dibuat menjadi tudung saji. Ukhuwahfoto/M. Ilham Akbar

Pengrajin rotan tetap mempertahankan usahanya meski pandemi Covid-19 menyerang pada semua lini khususnya ekonomi. Pengrajin sekaligus pemilik Toko Eka Jaya, Ikhsan Abdul Gani mengatakan usaha yang dibangunnya dari tahun 1998 tetap berdiri tegak meski harus kehilangan dua karyawannya di dua tahun terakhir.

“Seharusnya ada pengrajin dua orang, dari Jawa semua. Tapi berhubung saat pandemi ini, mereka dengan sendirinya pulang dulu ke kampung. Karena kita disini ibaratnya besarlah pengeluaran setiap harinya daripada hasil produksinya,” katanya saat disambangi pada Rabu, (20/10).

Namun, usaha yang dijalaninya ini tetap ia kembangkan, sehingga usahanya tetap berdiri. Walau omset yang didapat tak sebanding dengan omset sebelum terjadi pandemi.

“Omset perbulan ini sekarang sudah bisa stabil. Sebulan ini kita dapat omset sebesar 15 Juta perbulan. Tapi tak sebanding dengan omset sebelum pandemi. Dulu kita bisa tembus 25 Juta lebih untuk satu bulannya,” kata Ikhsan.

Sekarang, usaha yang digeluti oleh Ikhsan di Sentra Pengrajin Rotan daerah Kelurahan 3 Ilir dekat dengan Pelabuhan Bom Baru ini mengaku sudah mendapatkan banyak pesanan dari berbagai kalangan.

“Sekarang kita lagi pengerjaan pesanan dari Bangka Belitung, ini juga banyak mereka pesan sampai 27 juta lebih. Saya sampai kewalahan sendiri mengerjakannya sendirian,” tuturnya.

Bahan baku sendiri, Ikhsan dapatkan dari Bengkulu, Baturaja, Lubuk Linggau dan Ranau. Tokonya lebih memilih untuk menggunakan bambu jenis Manau untuk membuat kursi. Jenis bambu ini digolongkan jenis yang paling mahal.

“Satu set kursi bisa dibandrol senilai lima sampai tujuh juta rupiah. Kenapa pakai jenis ini, karena kayu jenis ini bisa tahan hingg 50 tahun, asal tidak terkena air.”

Ayah empat anak ini juga mengatakan jenis barang yang bisa didapatkan di tokonya ada kursi tamu, kursi makan, kursi teras, kursi bar coffee dan kursi anak-anak.

“Kalau untuk diluar dari kursi ada tudung saji, tempat tidur, wadah buah, dan banyak lainnya. Kita disini juga menerima service barang juga,” sebutnya.

Namun, meski usahanya sudah kembali normal, masih ada kerisauan yang digundahkan oleh Ikhsan. Ia selalu bertanya-tanya, apakah kerajinan ini akan mendapatkan banyak regenerasi. Lantaran di Palembang, sangat sedikit sekali yang tertarik belajar kerajinan tersebut.

“Saya tidak tahu, apakah kerajinan ini akan terus dilestarikan. Karena saya sendiri merasa, daerah sini yang semi kota saja tidak banyak yang tertarik dengan kerajinan bambu ini. Padahal jika dilihat, omset yang didapatkan juga sangat lumayan sekali,” risaunya.

Ikhsan sangat berharap akan ada penenrusnya untuk melestarikan kerajinan ini. Ia juga bersedia untuk mengajarkan siapa saja yang ingin belajar membuat karya ini.

“Saya siap untuk mengajarkannya, jika ada yang ingin belajar,” pungkasnya.

Reporter: Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *