Komunitas Film Palembang Bedah Film KINIPAN Garapan Watchdoc

Pemutaran Film dokumenter KINIPAN sekaligus ngobrol bersama narasumber Ferdiansyah Dosen Hubungan Internasioanl UNSRI (kanan) dan JJ Polong Akademisi Spora Institute (kanan sebelah Ferdiansyah) yang dimoderatori oleh Taxlan (Kiri), di halaman belakang kedai kopi Rumah Sintas, Kamis (08/04/21). Ukhuwahfoto/Tri Wahyudi

Palembang – Ukhuwahnews | Komunitas Film Palembang mengadakan nonton bareng dan diskusi dalam Layar Solidaritas KINIPAN. KINIPAN adalah film dokumenter yang digarap oleh Watchdoc Documentary terkait eksploitasi hutan yang terjadi di Indonesia saat ini.

Kegiatan ini diadakan oleh Ampera Memanggil, Multabisu Rumah Sintas, Extinction Rebellion Panche Hub, dan LPM Hukum Universitas Negeri Sriwijaya (UNSRI) bertempat di Kedai Kopi Rumah Sintas. Kamis (8/4/21).

Film dengan judul KINIPAN garapan Indra Jati dan Dandhy Laksono ini diproduseri oleh Andhy Panca dan Inge Altemeier. Film ini mengangkat topik terkait kondisi serta dampak dari adanya eksploitasi hutan yang ada di Kalimantan Tengah dan beberapa hutan di Indonesia.

Dalam pemutaran dan ngobrol dokumenter ini, Layar Solidaritas KINIPAN menghadirkan dua narasumber dari berbagai komunitas dan masyarakat.

Pada sesi diskusi, dosen Hubungan Internasional UNSRI, Ferdiansyah menyampaikan bahwa film dengan durasi dua setengah jam ini sudah memberikan pembahasan, keterangan dan juga poin yang lengkap.

Namun, yang membuat Ferdiansyah tertarik adalah pemikiran baru yang muncul setelah menonton film ini.

“Yang menjadi pikiran saya adalah keterhubungan masyarakat adat dan modernisasi serta industri. Saya berpikir dari sudut pandang lain, ketika masyarakat modern masuk ruang masyarakat adat tidak hanya konfrontasi, akan ada juga negosiasi antara keduanya,” jelasnya.

Ferdiansyah juga menambahkan, film ini bisa dilihat dari sudut pandang lain. “Nantinya yang menjadi ancaman atau hal buruk kedepanya menjadi pandangan atau malah imajinasi dari anak cucu mereka,” imbuhnya.

Saat ini, kata Ferdiansyah, hidup sebagai masyarakat adat yang menganggap perusahaan tambang, sawit dan industri ini sebagai masa depan cerah.

“Mungkin dua aktor yang ada di film sudah memiliki pandangan dan sikap yang jelas, tapi bagaimana anak-anaknya, bagaimana yang tidak tergambar dalam film ini, bisa saja dia melihat kebun sawit yang ada di dekat rumahnya ataupun perusahaan lain seperti pertambangan itu seperti masa depan cerah dia yang lain,” sambungnya.

Mahasiswa, masyarakat dan beberapa komunitas yang hadir tengah menyaksikan Film KINIPAN di halaman belakang kedai kopi Rumah Sintas. Kamis (08/04/21). Ukhuwahfoto/Tri Wahyudi

Selain Ferdiansyah, acara ini dihadiri JJ Polong selaku Akademisi dan Spora Institut. Ia memberikan statement jika Watchdoc dari film sebelumnya juga menghadirkan pertarungan dari dua konsep dalam kehidupan itu sendiri.

“Saya melihat disini ingin menampilkan tentang bagaimana antara orang yang berkuasa dan masyarakat yang memiliki pandangan hidup tradisional dan sebagian orang yang berpikiran modern. Dengan kekuasaan bukan untuk melindungi atau memberdayakan tapi justru untuk melakukan penaklukan,” ujarnya.

Melihat dari latar radikalisme, Polong mengatakan, ada eksploitasi, akumulasi dan espansi. Menurutnya, jika menilik lagi bagaimana keadaan masyarakat adat memperlakukan hutan yang mereka jadikan sebagai pusat kehidupan.

“Tapi bagi kehidupan yang bersifat kapitalistik, hutan itu harus dieksploitasi, mau itu kayunya, atau tanahnya. Entah sebagai tambang atau yang lainya,” lanjutnya.

Polong menambahkan, untuk pencanangan dan juga perencanaan yang berlatar belakang restorasi seolah menjadi kamuflase dengan impian memulihkan hutan. Namun, kata Polong, faktanya banyak permasalahan baru dan konflik dengan masyarakat adat disekitar proyek restorasi ini.

“Pemeliharaan dan pertahanan yang terus dilakukan untuk melindungi hutan di Indonesia terus dijalankan dari berbagai cara. Salah satunya yaitu, pembuatan film dokumenter ini, dan kegiatan ini akan terus dikampanyekan untuk membuka kesadaran masyarakat dengan kondisi lingkungan dan alam saat ini,” pungkasnya.

Reporter : Delta Septiasmara
Editor : Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *