Read Time:1 Minute, 57 Second

Palembang – Ukhuwahnews | Melalui sentuhan tangan yang terampil, dari setiap benang yang menganyam kain warisan budaya yang tak lekang oleh waktu, di pinggiran kota Palembang terdapat sebuah kampung Sunan, sebuah kelompok pengrajin kain Sulam Angkinan yang sudah terkenal hingga mancanegara.

Dengan menempuh jarak satu jam, kampung Sulam Angkinan ini berada di Jalan Mayor Zein, Kelurahan Sungai Lais, Kecamatan Kalidoni, Kota Palembang.

Sulam Angkinan merupakan warisan turun menurun dari nenek moyang sejak zaman kerajaan Sriwijaya, memiliki ciri khas yang terbuat dari benang emas dengan kain berbahan beludru, dan anyam menggunakan tangan sendiri.

Ketua perajin sulam Angkinan, Ayu menjelaskan perjuangannya dalam melestarikan Sulam Angkinan tidaklah mudah, ia harus melewati beberapa rintangan dan kurangnya dukungan dari orang-orang disekitarnya. Namun hal tersebut, tidak membuat ia pantang menyerahnya untuk terus memperkenalkan warisan budaya ciri khas Palembang.

Baca juga: UKMK MMKR Datangkan Gitaris Lokal sebagai Pemateri di Gerasimu Finale

Kini Ayu memiliki 50 karyawan di bawah naungannya sendiri yang mengelola Sulam Angkinan, hingga menciptakan berbagai macam motif yang sudah di perjual belikan ke luar kota, terutama Malaysia, Yogyakarta, dan jakarta.

“Alhamdulillah sekarang saya bisa merangkul saudara dan kerabat untuk ikut melestarikan Sulam Angkinan ini, dan di kenal banyak orang,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya pada Kamis (5/12/2024).

Kelompok perajin Sulam Angkinan tidak hanya di geluti oleh para orang tua, akan tetapi anak-anak muda juga ikut menyulam kain Angkinan Sebagai bentuk pelestarian warisan budaya.

Dikenal dengan motif yang rumit dan warna-warna yang kaya, serta proses pembuatan dengan cara manual melalui tangan. Harga kain Angkinan terbilang cukup murah.

“Harga yang diberikan untuk satu set sarung bantal kursi Rp 750 ribu dengan pengerjaan waktu dua bulan. Sementara untuk satu set pakaian pengantin dikasih harga Rp 500-jutaan,” tuturnya.

Adapun selain pembuatan sarung bantal dan baju pengantin, Ayu dan perajinnya juga membuat souvenir, tanjak, dengan 15 macam motif. Diantaranya bintang, sulur-sulur, kuku kelabang, papan jari lima, burung, kembang-kembang , kipas lurus, kipas miring, biji pala dan lainnya.

Ayu berharap, Sulam Angkinan ini terus dapat berlanjut di lestarikan sampai kapanpun. Karna jika bukan kita, siapa lagi yang akan meneruskan warisan yang ada di Kota Palembang ini.

“Mari kita lebih semangat lagi untuk terus melestarikan warisan budaya kita, agar dikenal oleh dunia. Terutama anak-anak muda yang akan menjadi penerus bangsa ini,” ungkapnya.

Reporter: Marshanda

Editor: Hanifah Asy Syafiah

About Post Author

Marshanda

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post UKMK M-MKR Datangkan Gitaris Lokal sebagai Pemateri di Gerasimu Finale
Next post Dukung Kreatifitas Disabilitas, PT Pertamina Sumbagsel Bersama Rumah Disabilitas Adakan Lomba dan Pentas