Gelar Konferensi Pers, Walhi Bahas Pemanfaatan Lahan Gambut OKI

Ketua Advokasi Hukum Walhi Sumatera Selatan (Ketiga Kiri) bersama perwakilan dari masing-masing Desa Lebung Hitam, Desa Riding, Desa Tulung Selapan, dan Desa Jeramba Rengas di Hotel Swarna Dwipa Palembang, Senin (12/04/21). Ukhuwahfoto/Siti Alicia Zahira

Palembang – Ukhuwahnews | Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Selatan (Sumsel) sebut Lahan Gambut di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) berpotensi dalam mewujudkan kedaulatan pangan dengan pemanfaatan lahan. Namun, ini masih menjadi terdebatan di kalangan masyarakat. Hal tersebut disampaikan pada Konferensi Pers Walhi di Hotel Swarna Dwipa Palembang. Senin, (12/2/21).

Kepala Advokasi Hukum Walhi, Yogi Suryo mengungkapkan bahwa pembukaan lahan yang kian masif dengan jenis tanaman monokultur yaitu Kelapa Sawit berdampak negatif. Dan, masih banyak pelanggaran perizinan oleh perusahaan sawit di empat lokasi Kabupaten OKI diantaranya Desa Lebung Hitam, Desa Riding, Desa Tulung Selapan, dan Desa Jerambah Rengas.

“Tahun 2015-2016 terjadi kebakaran besar di kawasan lahan gambut oleh PT. Bintang Harapan Palma (PT. BHP), dampak dari kebakaran tersebut bukan hanya dirasakan oleh petani. Namun, berdampak terhadap ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat,” ungkapnya.

Namun, menurut Yogi pemanfaatan lahan gambut di daerah tersebut masih menjadi perdebatan. Terlebih saat dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

Sesi tanya jawab antara Ketua Advokasi Hukum Walhi Sumatera Selatan, perwakilan dari masing-masing Desa Lebung Hitam, Desa Riding, Desa Tulung Selapan, dan Desa Jeramba Rengas dengan rekan media di Hotel Swarna Dwipa Palembang. (12/04/21). Ukhuwahfoto/Siti Alicia Zahirah

Di tempat yang sama, Perwakilan Serikat Tani Indonesia, Robani mengatakan dari 100 persen lahan gambut yang dijadikan lahan penanaman sawit, hanya 25 persen yang dapat digunakan sebagai lahan untuk bercocok tanam.

“Sisa dari 25 persen itu tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam, sehingga mata pencaharian masyarakat yang dulunya adalah petani, kini hilang dan kebanyakan beralih menjadi nelayan,” katanya.

Robani berharap, agar masyarakat bisa bersinergi dan lebih dominan membangun dan mengelola lahan gambut yang ada di daerah mereka masing-masing selain perusahaan sawit itu sendiri. Sehingga nantinya lahan yang ada menjadi lebih baik lagi.


Reporter : Siti Alicia Zahirah, Reyhan Cahyo
Editor : Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *