Bentuk SDM Sehat Dan Cerdas, Pemkot Palembang Targetkan Zero Stunting

Pemkot Palembang saat menggelar rembuk stunting bersama dinas kesehatan di Hotel beston Palembang, Selasa (31/05/22). Dok/IST.

Palembang – Ukhuwahnews | Upaya menurunkan angka stunting dan menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sehat serta cerdas, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang mengadakan rembuk stunting 2022 di Hotel Beston Palembang, Selasa (31/05/22).

Walikota Palembang Harnojoyo mengungkapkan, balita yang mengalami stunting di kota palembang sudah menurun, pada tahun 2019 balita yang mengalami stunting mencapai 22,9 persen dan menurun sekitar 16,5 persen di tahun 2021. Penurunan tersebut merupakan salah satu upaya Pemkot Palembang dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sehat dan cerdas.

“Ini adalah salah satu upaya menyiapkan SDM yang sehat dan cerdas, Alhamdulillah saat ini angka stunting sudah menurun, dari 22,9 persen pada 2019 kini menurun 16,5 persen pada tahun 2021,” ungkapnya.

Kemudian melalui kegiatan ini, Harnojoyo berharap upaya dalam menurunkan angka stunting dapat bersinergi dengan instansi yang terkait. Sehingga, upaya tersebut dapat mendapatkan hasil yang maksimal, yakni Kota Palembang dengan zero stunting.

“Tentu kita senang dengan kegiatan ini, karena stunting sendiri menjadi fokus kita agar memastikan anak atau balita itu harus mendapatkan gizi dan asupan makanan yang sehat,” terangnya.

Baca juga: Resensi film Cinta Subuh: Utamakan Salat Subuh

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Palembang, Fenty Aprina mengatakan ada beberapa wilayah yang masih tinggi jumlah penderita stunting, salah satunya di Kecamatan Ilir Timur III. Maka dari itu, ia berharap kegiatan ini dapat memberikan pemahaman ke seluruh masyarakat melalui lintas program dan lintas sektor yang hadir.

“Hasil yang diharapkan yang utamanya adalah menurunnya angka stunting dan ditambah dengan rekomendasi program yang diperlukan untuk penurunannya,” jelasnya.

Kemudian, Fenty juga mengungkapkan agar masyarakat mendapatkan solusi dalam perubahan perilaku rumah tangga, terutama kepada anak sejak 1.000 hari kehidupan.

“Karena memang bayi atau balita harus mendapatkan gizi dan asupan yang sehat,” tutupnya.

Reporter: M. Aidil Ikhsan
Editot: Siti Alicia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *