Gigih Kerja Pak Den, Hantarkan Anak Jadi Hafidz Qur’an

Pak Den, penjual racun tikus keliling sedang menyiapkan motornya untuk digunakan keliling Kota Palembang. Rabu, (21/10/20). Ukhuwahfoto/Muhammad Ridho

Helm bertuliskan “RCN TKS” dan lengkap dengan tulisan mitra polantas yang menempel di dada seorang pria berkulit sawo matang ini, telah akrab di telinga masyarakat Kota Palembang. Penampilanya sudah sangat dikenal. Bermodal sepeda motor yang dimodifikasi sedemikian rupa, pria paru baya ini berkeliling seantero Kota Palembang dari pukul 1 siang sampai pukul 11 malam.

Itulah ciri khas penampilan dari Raden Muhammad Dencik, yang biasa di panggil Pak Den. Keseharian Pak Den memang berjualan bermacam alat pembasmi tikus, mulai dari racun tikus, lem tikus, ranjau tikus, sampai perangkap tikus. Harganya pun beragam, mulai dari 10 ribu sampai 70 ribu.

Setiap harinya, Pak Den menjajakan dagangannya mulai dari jalan utama Kota Palembang sampai gang kecil perkotaan. Barang dagangan itu diletakkan dalam sepeda motor yang sudah di modifikasi sehingga memiliki tiga roda dan atap pelindung dari hujan dan panas.

Aksi Pak Den saat jualan cukup unik, memakai sepeda motor yang dilengkapi alat pengeras suara dengan aki sebagai sumber listriknya. Sampai ia menjadi mitra polisi lalulintas dan dinas perhubungan Kota Palembang.

“Cun tikus, cun tikus” lantangnya saat menjajahkan dagangannya. Tak jarang orang melemparkan senyum serta cadaan saat bertemu Pak Den di jalan raya.

Karena keunikannya ini lah Pria berumur 50 tahun ini mampu bertahan dengan berdagang racun tikus selama 15 tahun. Dirinya mengaku bertahan jualan racun tikus karena menurutnya hampir disetiap sudut kota dan tempat pasti banyak tikus. Itulah yang menjadi alasannya bertahan.

Beliau bercerita, dulu sebelum berjualan racun tikus, Ia sempat menjadi pedagang asongan di Pasar 7 Ulu, Pasar Palimo dan Pasar 16. Tidak lama Pak Den berjualan asongan dirinya beralih berjualan permen jahe di Kereta Api jurusan Palembang – Lubuk Linggau dan Palembang – Lampung. Setelah itu barulah dirinya berjualan racun tikus.

Sejak tahun 2005 dirinya jualan racun tikus dengan berjalan kaki, satu sampai dua tahun kemudian Pak Den membeli sepeda untuk berjualan racun tikus. Lama Pak Den menggoes sepeda, akhirnya tahun 2020 Pak Den akhirnya berjualan racun tikus memakai kendaraan motor.

Pak Den tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan, Lorong Wiraguna, Palembang. Setiap hari Pak Den jualan racun tikus dari hari Senin sampai Minggu. Setiap hari Pak Den jualan racun tikus keliling puluhan kilometer. Perhari Pak Den bisa mendapat 100 ribu sampai 200 ribu dari hasil jualannya. Jika sedang ramai, bahkan ia bisa meraup penghasilan sampai 500 ribu dalam sehari.

Ditengah kesibukannya bekerja, Pak Den tak lupa menjadi Ayah bagi anak-anaknya. Ayah dari tiga orang anak ini gigih dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Dari kegigihan beliau inilah hingga menghantarkan anak bungsunya menjadi Hafidz Qur’an. Anak ketiga dirinya yang bernama RM. Katsirun Nawwal sudah menghafal Qur’an sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.

RM Katsirun Nawwal (13) saat menunjukan sertifikat wisudanya. Rabu, (21/10/20) Ukhuwahfoto/Muhammad Ridho

Tepat pada tanggal 22 Oktober 2017 lalu anak Pak Den ini mengikuti Wisuda Akbar Dunia Menghafal di Masjid Istiqlal Jakarta. Hari itu, anaknya mendapat gelar Hafiz Qur’an. Didampingi sang Ibu, Nawwal pergi ke Jakarta untuk ikut wisuda akbar. Kini, Nawwal yang baru berumur 13 tahun telah menjadi pengajar ngaji muda dan bersertifikat.

Inilah juga yang menjadi alasan besar Pak Den bersemangat untuk terus mencari nafkah demi keluarga kecilnya ini.

Reporter : Krisna Aldrin Gunawan
Editor : Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *