Merengkuh Harap dalam Dekapan Duka

Palembang – Ukhuwahnews | Indeks kemajuan suatu bangsa salah satunya dapat dilihat dari generasi penerus bangsa. Berbekal pendidikan yang layak, mereka lah yang menjadi sebilah harapan bagi keberlangsungan hidup suatu tatanan masyarakat.

Namun, layaknya jalan berbatu, proses mendidik pemuda-pemudi Bumi Sriwijaya pun tak semulus jalan tol. Arpin (11) dan Aldi (10) adalah contoh kecilnya. Keterlibatan mereka dalam menghadapi problematika perekonomian keluarga lantas memecah jalan pikirannya. Keduanya lebih memilih untuk mengais rezeki demi membantu perekonomian keluarga ketimbang duduk di bangku sekolah dasar.

Setelah satu tahun lebih, dua kakak beradik ini memutuskan untuk angkat sepatu dari sekolah. Keseharian mereka ialah menemani ibunya mengais pundi-pundi rupiah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan.

Setiap hari, mereka berdua berangkat bersama ibunya menggunakan jasa ojek dan dijemput bapaknya ketika “jam kerja” mereka usai. Sang kepala keluarga juga rutin beraktivitas di balik tumpukan sampah tersebut.

Kala di rumah, Arpin dan Aldi selalu menyempatkan waktu menemani kedua adik perempuannya bermain. Gelak tawa mereka memeriahkan hari-hari yang monoton. Hanya saja, di balik topeng riangnya tersebut, tersimpan harapan besar di hati kecil mereka.

“Kangen sama kawan. Pengen kembali lagi ke sekolah biar bisa jadi polisi, bisa jaga kakak perempuan dan adik,” kira-kira begitu kata Arpin saat bercerita mengenai masa sekolahnya.

Kini, gunung sampah seluas 25 hektar itu menjadi makanan sehari-hari untuk anak-anak itu. Setiap harinya, mobil pengangkut sampah dari berbagai sudut Kota Palembang meraung-raung, menemani rutinitas mereka kala mencari barang bekas. Terik matahari yang langsung menusuk kepala seolah menjadi penghangat di tengah tumpukan sampah yang basah.

Dua laki-laki kecil yang memiliki 6 saudari perempuan ini menghabiskan waktu dari pagi hingga berkumandangnya azan magrib untuk mengumpulkan barang bekas yang selanjutnya akan dijual ke penadah. Hasil peluh mereka bersama ibunya pun digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya

Walau demikian, kisah dua anak tangguh dari sepasang insan yang hebat, Bapak Hen dan Ibu Susi, tidak berhenti begitu saja. Sampai saat ini, kedua orang tua Arpin dan Aldi berharap mereka dapat mengenyam bangku sekolah lagi agar masa depan yang mereka cita-citakan bukan gurauan belaka.

Baca Juga: Sepetak Cahaya di Sudut Karyajaya

Baju sekolah Arpin dan Aldi yang tidak dipaki lagi. Ukhuwahfoto/Aidil Ikhsan
Arpin dan Aldi berangkat ke TPA pukul delapan pagi. Ukhuwahfoto/M. Ilham Akbar
Aldi melihat makanan. Ukhuwahfoto/Aidil Ikhsan
Sekolah Dasar Negeri 117 Sukawinatan tempat Aldi dan Arpin dulu bersekolah. Ukhuwahfoto/Aidil Ikhsan.
Buku rapot. Ukhuwahfoto/Aidil Ikhsan.
Aldi dan Arpin. Ukhuwahfoto/M Ilham Akbar.
Arpin di TPA Sukawinatan. Ukhhuwahfoto/M Ilham Akbar.
Arpin dan Aldi di tengah tumpukan sampah. Ukhuwahfoto/Aidil Ikhsan.
Aldi di TPA Sukawinatan. Ukhuwahfoto/M Ilham Akbar.
Arpin beristirahat. Ukhuwahfoto/M Ilham Akbar.
Suasana di kediaman Arpin dan Aldi. Ukhuwahfoto/Aidil Ikhsan.

Editor: Wisnu Akbar Prabowo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *