Menjaga Asa Keterbatasan Pendidikan Desa Saluran

Palembang – Ukhuwahnews | Sekolah Dasar Muhammadiyah Saluran, salah satu wahana pendidikan di Desa Saluran, Kenten Laut, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, telah berdiri sejak tahun 1997 melalui swadaya masyarakat setempat. Sekolah ini menyimpan satu permata hidup, sang pejuang pendidikan Desa Saluran.

Di tengah keterbatasan, Siti Komariah (32) tetap bertahan menjadi pengajar tunggal di sekolah yang kerap dikenal masyarakat setempat sebagai Sekolah Filial.

Sebelum tahun 2014, SD Muhammadiyah Saluran memiliki enam tenaga pengajar yang upahnya ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Mereka berasal dari Kota Palembang dengan jarak tempuh sekitar 30 menit. Hanya saja, akses jalan yang kian lama menjadi rusak parah membuat mereka harus mengeluarkan ongkos lebih untuk menggunakan jasa transportasi air.

Selain akses transportasi yang kurang memadai, letak sekolah juga pernah terombang-ambing tanpa pengakuan wilayah hingga sempat diisukan akan tutup pada 2012-2014. Hal itu membuat kelima tenaga pendidik lainnya angkat kaki dari sekolah itu dan meninggalkan Siti seorang diri.

Dirinya lah yang saat ini menjaga dan mengajar di sekolah itu walau dilanda keterbatasan. Tujuannya hanya satu, yakni mencerdaskan siswa-siswi di wilayah tertinggal.

Tujuh tahun silam, wanita dengan tiga orang anak tersebut ditawari mengajar oleh Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Saluran saat itu, Jumiati. Dengan latar belakang pendidikan SMA, ia mulanya mengajar bersama dua pendidik lainnya. Namun, karena hambatan jarak dan waktu, keduanya memilih untuk berhenti mengajar.

Tak hanya menjadi seorang guru tunggal, perjuangannya memajukan pendidikan setempat terasa semakin pahit ketika dirinya tak mendapatkan upah mengajar selama dua tahun. Untungnya, saat ini Siti menerima upah dari pemerintah sebesar 500 ribu rupiah perbulannya.

Setiap harinya, jam pelajaran dibuka pukul 7.30 sampai 11.00 WIB. Dengan keterbatasan ruangan dan alat pendukung kegiatan belajar mengajar, Siti tetap membagi ilmunya kepada 21 siswa dari kelas satu sampai enam dengan sistem mengajar satu ruangan secara bergantian. Ironisnya, tak satupun siswa yang hadir dengan mengenakan sepatu ketika proses belajar mengajar berlangsung.

Baiknya, kini SD Muhammadiyah Saluran memiliki sekolah induk di Palembang, yaitu Sekolah Muhammadiyah 4 Palembang. Hal itu tercapai pada 2018 berkat perjuangan Siti meminta agar sekolah yang ia bina tak semakin tertinggal dengan kemajuan zaman.

Siti saat ini mengaku sedang mengusahakan untuk melanjutkan pendidikannya agar layak menjadi guru di SD Muhammadiyah Saluran. Kendati demikian, Siti bukan hanya seorang guru. Ia adalah pejuang pendidikan di daerah tertinggal.

Baca Juga: Merengkuh Harap dalam Dekapan Duka

Siti Komariah (32) bersama para murid SD Muhammadiyah Desa Saluran, Jumat (26/11/2021). Ukhuwahfoto/M Firdaus.
Bangunan SD Muhammadiyah Desa Saluran saat ini. Ukhuwahfoto/M Firdaus.
Siti Komariah saat mengajar di kelasnya. Ukhuwahfoto/M Firdaus.
Kondisi ruang kelas SD Muhammadiyah Desa Saluran. Ukhuwahfoto/M Firdaus.
Suasana belajar SD Muhammadiyah Desa Saluran. Ukhuwahfoto/M Firdaus.
Salah satu siswi SD Muhammadiyah Desa Saluran. Mereka merupakan warga yang tinggal di sekitar sekolah itu. Ukhuwahfoto/M Firdaus.
Para siswa SD Muhammadiyah Desa Saluran bersekolah dengan bertelanjang kaki. Ukhuwahfoto/M Firdaus.

Editor: Wisnu Akbar Prabowo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *