Melihat Langsung Proses Pembuatan Kain Jumputan Khas Palembang

Kawasan Tuan Kentang, Kelurahan 1 ulu, Kecamatan Kertapati merupakan salah satu sentra Kain Jumputan khas Kota Palembang.

Makruf (50) adalah salah seorang pengrajin kain jumputan dan pemilik gerai Nadia Collection, ia telah memproduksi kain tersebut di butik rumahannya selama 30 tahun bersama tiga orang karyawan.

Beragam jenis kain ia jual, dari yang laris di pasaran hingga yang paling mahal. Harga kain jumputan pun berkisar Rp.100 ribu hingga Rp.700 ribu, tergantung pada jenis kain dan motif yang digunakan. Motif yang paling mahal adalah motif titik tujuh dan titik sembilan, karena pembuatannya terbilang sulit dan menghabiskan waktu yang cukup lama.

Seorang pekerja, Adi (32) menyemprotkan obat Napthol ke kain jumputan yang sudah diberi warna dasar. Pemberian obat itu bertujuan agar kain menyerap warna saat perebusan. Ukhuwahfoto/Wisnu Akbar.
Seorang pekerja, Adi (32) mengaduk kain jumputan yang direbus pewarna. Perebusan ini memakan waktu15 menit. Ukhuwahfoto/Wisnu akbar.
Kain jumputan yang dijemur bergerak terkena angin. Hal itu karena pengeringan kain jumputan bergantung pada panas matahari dan angin. Ukhuwahfoto/M. Ilham Akbar.
Refleksi jemuran kain jumputan dari genangan air. Ukhuwahfoto/M. Ilham Akbar
Salah satu pekerja, Lukman (36) menunjukan kain yang sudah diberi warna (kiri) dan kain yang masih polos. Ukhuwahfoto/M. Ilham Akbar
Seorang pekerja, Lukman (36) mengangkat kain jumputan yang sudah kering. Saat musim panas kain jumputan bisa kering dalam sehari, saat musim hujan bisa 3-4 hari baru kering. Ukhuwahfoto/M. Ilham Akbar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *