Berawal dari Atap Rumah, Berkembang Jadi Pemasok Pangan

Andi sedang memetik tanaman hidroponik yang siap dipanen. Ukhuwahfoto/Bagus Rizki Fadillah.

Penulis: Wisnu Akbar Prabowo (Pemimpin Redaksi LPM Ukhuwah)

Namanya Andi Kamsa. Sehari-harinya, pria asal Palembang ini selalu menyempatkan dirinya untuk menatap tanaman hijau yang tumbuh subur di pekarangan rumahnya.

Siapa sangka, usaha hidroponik rumahan yang ia garap pada 2015 lalu ini menjadi ladang pangan yang banjir pesanan saat pandemi melanda. Tak hanya itu, Hidroponik Center Palembang kerap diminta bantuan untuk membuat kebun hidroponik.

“Permintaan tambah gila. Ada yang ingin buat instalasi karena saat Work From Home (WFH) tidak ada kegiatan, banyak ingin bertanam (hidroponik),” katanya saat diwawancarai, Senin (11/07/2022).

Dengan cekatan, Andi dan karyawannya menyirami tanamannya setiap pagi menyapa, mulai dari pakcoy (Brassica rapa subsp. chinensis), kailan (Brassica oleracea), pagoda (Brassica rapa subsp. narinosa), sawi pahit (Brassica juncea), bayam merah (Amaranthus tricolor), bayam hijau (Amaranthus tricolor), kangkung (Ipomoea aquatica), daun mint (Mentha piperita), dan lada (Piper nigrum).

Hanya bermodalkan semangat, pada 2012 Andi memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitarnya untuk dijadikan media penanaman hidroponik. Pada saat itu, Andi menanam tumbuhan miliknya menggunakan media styrofoam.

“Modal saya semangat. Awalnya, hanya dengan memanfaatkan barang sekitar, dari satu styrofoam dan terus berkembang,” terangnya.

Melihat situasi usahanya yang semakin berkembang, Andi memutuskan untuk mendirikan usaha perkebunan hidroponik rumahan, yakni Hidroponik Center Palembang.

Baca Juga: Sepetak Cahaya di Sudut Karyajaya

Pada awal perkembangannya, usaha tanaman yang jumlahnya masih dapat dihitung jari tersebut dilakukan di pekarangan rumahnya. Seiring bergulirnya waktu, Andi menyulap atap rumahnya menjadi kebun hidroponik nan hijau. Andi memutuskan untuk mengganti media tanamnya dengan pipa.

Saat ini, Andi memiliki sebuah lahan perkebunan hidroponik di sebelah rumahnya dan satu buah perkebunan lain di daerah Betung. Terhitung hari ini, sebanyak 7.000 lubang telah terinstal di pipa yang terpasang di kebun miliknya.

Pada Kamis (22/09/2022) saya sempatkan untuk menginjakkan kaki di sana. Saya disambut barisan tanaman bayam hijau yang tumbuh di pipa hidroponik yang dipasang di pagar rumah Andi. Kala itu, hujan rintik-rintik membasahi dedaunan bayam yang masih segar.

Ranti (43), salah satu karyawan Andi yang turut merawat tanaman hidroponik. Ukhuwahfoto/Wisnu Akbar.

Kehadiran saya disambut oleh salah satu karyawan Andi, namanya Ranti (43). Kala itu, Andi sedang mengadakan pelatihan dan seminar hidroponik di Banyuasin.

Ranti adalah salah seorang ibu rumah tangga yang telah lama menggeluti dunia perkebunan hidroponik. Bersama Andi, dirinya turut mengelola tanaman agar tumbuh dengan apik.

“Sudah lama saya berkebun (di tempat Andi), tidak terhitung berapa tahun,” ujarnya.

Perawatan Terkendali

Ranti menyebutkan, jika bercocok tanam menggunakan media hidroponik tidak jauh berbeda dengan media tanah. Bahkan, merawat kebun hidroponik jauh lebih mudah ketimbang menggunakan media lainnya.

Pengecekan nutrisi penting dilakukan, terlebih saat hujan tiba. Sebab, air yang masuk ke tandon menyebabkan konsentrasi nutrisi menurun.

“Kalau hujan gini ya harus dicek nutrisinya. Konsentrasi nutrisi untuk tanaman yang baru dipindah itu 200 ppm (satuan untuk konsentrasi larutan). Seiring umurnya bertambah, nutrisinya juga ditambah sesuai jenis tanamannya,” terang Ranti.

Selama masa pertumbuhan, dedaunan yang sudah tua atau membusuk harus dibersihkan secara berkala. Ukhuwahfoto/Wisnu Akbar.

Saat akan disemai, biji sayuran ditanam di rockwool, salah satu media tanam yang akrab bagi petani hidroponik. Rockwool mampu menahan air dengan baik. Satu buah rockwool berukuran 2x2cm dapat menampung sampai 7 buah biji sayuran, tergantung pada jenisnya.

Ketika proses penyemaian, benih yang sudah ditanam di rockwool harus terhindar dari sinar matahari langsung. Karena, sinar matahari yang terik dapat membuat benih menjadi mati.

“Ini (benih yang disemai) ditutup pakai koran supaya tidak mati (terkena sinar matahari),” ujar Ranti saat menunjukkan benih kangkung yang tengah disemai.

Benih kangkung disemai di media rockwool. Ukhuwahfoto/Wisnu Akbar.

Setelah tumbuh, baru lah benih-benih tersebut dipindahkan ke media tanam yang akan membesarkannya hingga layak panen. Di sana, Andi menggunakan pipa berukuran 3 inci yang dialiri air secara konstan.

Di kebun milik Andi tersebut, beragam sayur mayur dengan berbagai ukuran tumbuh subur. Mereka akan dirawat hingga waktu panen tiba.

Perawatan yang kerap dilakukan oleh Andi dan karyawannya adalah membersihkan daun yang sudah tua atau mengering. Tujuannya adalah supaya daun yang baru dapat segera tumbuh, sehingga perkembangan tanaman akan menjadi lebih cepat.

Setiap jenis sayuran memiliki umur panen yang variatif. Kangkung, contohnya, bisa dipanen ketika usianya telah menginjak 30 hari.

Pakcoy (Brassica rapa subsp. chinensis) yang telah siap dipanen. Ukhuwahfoto/Wisnu Akbar.

“Sayur-sayuran gitu biasanya langsung dicabut dari akarnya (saat panen). Kalau daun mint, kita tunggu sampai dua bulan baru bisa dipetik daunnya,” kata Ranti.

Komoditas yang telah dipanen tersebut seringkali dijual secara grosir. Biasanya, di sore hari rumah Andi akan dikunjungi mobil bak terbuka untuk memasok sayuran ke Superindo.

“Mereka datang seminggu tiga kali. Kami jual yang ada stoknya,” ucapnya.

Andi mematok harga sebesar 10 ribu rupiah untuk penjualan grosir. Meski harganya sama, setiap jenis sayuran memiliki bobot timbangan yang berbeda.

“Untuk grosiran harganya sama, tapi timbangannya beda-beda. Misalnya pakcoy 10 ribu dapat 3.5 ons, daun mint dapat 1 ons,” jelas Ranti.

Terkadang, ada juga pemasok dan konsumen yang datang langsung untuk membeli sayuran dari hasil keringat Andi.

Sayuran ditimbang sebelum dikemas. Ukhuwahfoto/Bagus Rizki Fadillah.

Sejauh ini, Hidroponik Center Palembang tak hanya menjual sayuran segar saja. Di rumahnya, Andi juga menjual beragam olahan dari hasil kebun miliknya, salah satunya adalah teh dari daun mint.

“Daun mint kita jadikan teh. Kalau selada dan sejenisnya kita bikin salad dan jus,” kata dia.

Hasil kebun hidroponik milik Andi yang telah dikemas dan siap didistribusikan. Ukhuwahfoto/Wisnu Akbar.

Misi untuk Memperkenalkan Hidroponik

Berkat popularitas Hidroponik Center Palembang, Andi senantiasa mengadakan pelatihan bagi masyarakat yang ingin mencoba bercocok tanam menggunakan teknik hidroponik. Pelatihan tersebut berupa seminar dan pameran hidroponik.

“Kita sering mengadakan pelatihan-pelatihan di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan pameran di mall,” jelas Andi.

Andi pun sempat mengadakan pelatihan terbuka bagi pengunjung yang ingin belajar. Namun, faktor keterbatasan waktu menyebabkan pria kelahiran Ogan Komering Ulu tersebut memvakumkan pelatihannya.

Namun, dirinya tidak menutup kesempatan bagi yang ingin konsultasi secara pribadi dengannya.

“Kalau pengen belajar, kita janjian. Mau ketemu langsung atau via WhatsApp bisa,” ungkap dia.

Andi juga kerap menerima peserta magang yang berasal dari dalam maupun luar Kota Palembang. Baru-baru ini, sebanyak 11 siswa dari SMK 1 Gelumbang mengikuti magang di usahanya dalam kurun waktu 3 bulan.

“Misi itu terus saya bawa hingga hari ini. Kami berpikir bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama untuk mulai menanam dengan cara hidroponik,” pungkasnya.

Dirinya berharap, melalui media tanam hidroponik ini bisa membantu perekonomian masyarakat dan melatih mereka agar mampu mandiri pangan.

Editor: Annisa Dwilya Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *