Asa, Cita dan Cinta di Karyajaya

“Kak, hasilnya nanti boleh saya bawa pulang,” teriak salah satu peserta didik saat pelajaran mewarnai di Sekolah Pinggiran Sriwijaya pada Sabtu, 16 Oktober 2021. 

Tak banyak orang yang tahu akan keberadaan Sekolah Pinggiran Sriwijaya (SPS). Berlokasi di sekitaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Karyajaya Palembang, terdapat kelas belajar dua kali dalam seminggu. Sekolah ini mempunyai 83 murid, dari paud hingga kelas enam sekolah dasar dengan 75 tenaga pengajar dari beberapa universitas di Sumatera Selatan. SPS sendiri merupakan program Satu Amal Indonesia bernaung di bawah gerakan Sinergi Sriwijaya Peduli yang digagas pada 26 Juli 2020.

Latar belakang masyarakat yang bekerja sebagai petani, pemulung, dan pekerja serabutan lantas menjadikan tingkat kesejahteraan perekonomian masyarakat masih rendah, belum lagi masalah sosial, dan pendidikan di TPA Karya Jaya yang sangat kompleks.

“Melihat banyak anak-anak di sini, lantas terpikirkan untuk membuat kegiatan pendidikan ditambah lagi dalam wabah pandemi Covid-19 membuat  kegiatan belajar terganggu,” ungkap Arjuna (22) selaku Kepala Sekolah Pinggiran Sriwijaya sembari mengajar. Dengan kondisi ini, SPS hadir untuk memberikan pendampingan bagi generasi penerus tetap mengecap pendidikan yang layak khususnya di kota Palembang.

Sementara itu, Pusat Data Statistik Pendidikan (PDSP) Kota Palembang mencatat angka anak putus sekolah pada tahun 2018 mencapai 1.278 anak. Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Palembang khusus Dinas Pendidikan, oleh karena itu Dinas Pendidikan Kota Palembang pada tahun 2019 lalu berupaya mewujudkan Palembang Zero anak putus sekolah.

Pada rabu dan sabtu selepas dzuhur, jadwalnya kelas belajar. Tenaga pengajar dari Sekolah Pinggiran Sriwijaya datang ke lokasi kegiatan begitupun dengan peserta didik yang sudah menjemput mereka satu sama lain. 

Tampak dari kejauhan, anak-anak sibuk membentangkan tikar sebagai pertanda kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai. Menggunakan kaos hitam, Arjuna duduk di lingkaran peserta didik diiringi senyum. Ia duduk beralaskan tikar sembari bercengkrama dengan anak kecil yang sedang  mewarnai. Sembari memegang pensil warna, Arjuna menceritakan pendidikan yang diajarkan oleh kelompoknya. Pendidikan karakter dan soft skill menjadi titik fokus pembelajaran.

“Kalau untuk proses pembelajaran ada dua hal kita tekankan, pertama pendidikan nasionalisme untuk membentuk karakter loyalitas serta bertanggung jawab dan kemampuan bakat mereka, kami kerucutkan dalam satu jangka ke depan. Hari rabu adalah hari belajar baca tulis dan hitung, sedangkan di hari sabtu pendidikan karakter,” paparnya.

Kegiatan belajar semakin riuh dengan nyanyian hingga tawa lantang dari mereka sampai petang. Arjuna dan tenaga pengajar yang lainnya selalu membawa makanan ringan. Tak jarang mereka memberikan susu kepada anak didiknya. 

“Kakaknya baik, kami belajarnya sambil bernyanyi,” ucap fathan (7) dengan suara pelan.

Pada hari sabtu, (16/10) fathan tampak senang, ia mendapat susu dari tenaga pengajar pada akhir kegiatan.

Antusias belajar meningkat pada anak di sekitaran TPA Sukawinatan dengan adanya bantuan tenaga pengajar dari gerakan sosial beberapa mahasiswa tersebut. Dengan adanya kelompok belajar tersebut, peserta didik di sana dapat meningkatkan prestasinya.

Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia pada tahun menggelar Lomba Bercerita Anak Dengan Harapan. Lomba Bercerita Anak Dengan Harapan yang diselenggarakan Direktorat Program dan Produksi LPP RRI untuk tahun ini, digelar dalam rangka menyemarakan Hari Anak nasional tahun 2021. 

Lomba tersebut sekaligus sebagai wadah kreatifitas anak dimasa pandemi Covid-19, khususnya kemampuan dalam bercerita. Alhasil, Nabila Choirunnisa berhasil meraih Juara 1, Aisyah Putri rahayu meraih Juara 1 Favorit, Dea Sabrillah meraih juara 3 Favorit. Ketiganya merupakan peserta didik dari kelas belajar tersebut.

Cita dan semangat terus menggebu pada tenaga pengajar dan peserta didik untuk memperbaiki pendidikan di kawasan TPA Karyajaya dengan tingkat ekonomi masyarakat yang tergolong rendah.

Ketika saya berkunjung ke rumah warga yang terletak di samping pagar pembatas TPA. Saya bertemu dengan Sarinah (28) bersama dengan bayi dalam gendongannya sembari memegang kerupuk.

Sarinah adalah orang tua dari Fahri (9) yang merupakan murid kelas tiga sekolah dasar sekaligus peserta didik SPS. Dengan nada suara yang semangat, Sarinah bercerita tentang perubahan anaknya yang semula pemalu untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya, kini Fahri mulai berani untuk bercerita dan bertemu orang baru.

Dengan adanya kelompok belajar dari Sekolah Pinggiran Sriwijaya membuat Sarinah dan warga lainnya menaruh harapan yang begitu dalam tentang asa, cita dan cinta di Karyajaya.

Membawa tikar dan alat belajar menjadi rutinitas peserta didik Sekolah Pinggiran Sriwijaya di Awal kegiatan pada Sabtu, (16/10).
Penanaman ilmu disiplin menjadi kegiatan wajib dilakukan di awal dan akhir kegiatan Sekolah Pinggiran Sriwijaya pada Sabtu, (15/10).
Suasana belajar di Sekolah Pinggiran Sriwijaya pada Sabtu,(15/10).
Makanan ringan dan sembako menjadi buah tangan peserta didik Sekolah Pinggiran Sriwijaya setiap akhir kegiatan belajar pada Sabtu, (15/10).
Sebagian peserta didik dan tenaga pengajar Sekolah Pinggiran Sriwijaya pada Sabtu, (15/10).

Reporter: M. Adam Rahman

Satu tanggapan untuk “Asa, Cita dan Cinta di Karyajaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *