Tanah Adat Dirampas, Kini Suku Anak Dalam Hidup di Kebun Warga

Sejumlah anggota Suku Anak Dalam duduk di depan rumah mereka di Desa Tebing Tinggi, Sabtu (27/02/2021). Ukhuwahfoto/ Humaidy Kenedy

Tepat di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Suku Anak Dalam (SAD) masih bertahan hidup meski harus menumpang. Mereka tersebar di Muara Tiku (Karangjaya), Tebing Tinggi (Nibung), dan Sungai Jernih (Rupit).

Seperti di Desa Tebing Tinggi, Sabtu (27/02/21) ada sekelompok SAD yang bertahan hidup di kebun sawit milik warga. SAD memiliki sebutan lain berupa Suku Kubu, Orang Rimba, dan Suku Ulu.

Saat ini populasi yang tercatat di Desa Tebing Tinggi sebanyak 571 kepala keluarga. Diantaranya, 250 kepala keluarga SAD murni dan 321 sisanya SAD turunan.

Suku Anak Dalam yang tinggal menumpang di kebun sawit warga di Desa Tebing Tinggi, Sabtu (27/02/2021). Ukhuwahfoto/ Humaidy Kenedy

Mereka tinggal secara berkelompok di kebun-kebun warga untuk bertahan hidup. Sebelum bermukim di kebun sawit milik warga,  mereka terlebih dahulu meminta izin untuk menumpang hidup dan memanfaatkan sebagian kecil hasil kebun untuk mendapatkan penghasilan.

“Seperti inilah kami, pindah-pindah numpang hidup di kebun sawit milik warga. Kalau tidak diusir warga, Alhamdulillah. Kalau diusir warga, tidak bisa mencari makan lagi, bagaimana kami bisa hidup,” ujar Cili, salah satu anggota SAD Desa Tebing Tinggi. 

Sehari-hari mereka mencari penghasilan dengan berburu di hutan dan memungut brondol untuk dijual. Brondol merupakan buah kelapa sawit yang lepas dari tandan buah segar kemudian jatuh ke tanah.

“Kami memungut buah sawit yang jatuh, kemudian dijual. Kami juga mencari rejeki dalam rimba, seperti burung dan hewan lainnya untuk dimakan, itupun kadang dapat, pernah juga tidak,” katanya.

Rumah SAD berada di tengah-tengah perkebunan sawit. Sabtu (27/02/2021). Humaidy Kenedy

Bermodalkan perlengkapan seadanya, Suku yang menumpang hidup di kebun warga ini mendirikan rumah-rumah sebagai tempat tinggal mereka. Rumah mereka memiliki dinding dari papan atau terpal bekas dan beratapkan daun sawit.

Begitulah kondisi tempat tinggal mereka untuk berlindung dari panas dan hujan. Tidak hanya itu, mereka juga tidak memiliki listrik sebagai alat penerang. Hanya bermodalkan api dari kayu bakar sebagai penerang di kala hari gelap.

SAD Desa Tebing Tinggi ini sudah setengah windu bermukim di perkebunan sawit milik warga. Kondisi ini disebabkan karena hilangnya lahan kehidupan atau tanah adat mereka. Kehidupan yang mereka jalani sangat bergantung pada alam untuk kebutuhan sehari-hari.

Siti, anggota SAD murni menceritakan tanah adatnya yang menjadi tempat puyang mereka dulu berkebun, kini digusur untuk dijadikan lahan sawit.

“Disana ada banyak kebun, seperti kebun cempedak, durian, dan duku. Namun, sekarang habis digusur untuk perkebunan sawit,” sampainya.

Kehidupan yang Siti jalani kini hanya menumpang hidup di lahan sawit milik warga. “Sekarang, kami numpang hidup. Tidur di tanah, tidur di atas kayu, tidur beratapkan daun sawit,” imbuhnya.

Mat Yadi, ketua adat suku anak dalam Desa Tebing Tinggi. Sabtu (27/02/2021). Ukhuwahfoto/ Humaidy Kenedy
 

Saat ini, lahan mereka sudah digusur habis oleh perusahan swasta. Hal tersebut membuat mereka tidak bisa berladang dan cocok tanam lagi. “Sudah menjadi hak perusahaan semua,” jelas Mat Yadi, Ketua Adat SAD Desa Tebing Tinggi.

Besar harapan Mat Yadi kepada pemerintah untuk memerhatikan kehidupan para SAD agar dapat mempertahankan budaya mereka  seperti silat, tarian, dan baju nyatrap dari nenek moyang mereka.

SAD juga meminta kepada pihak perusahaan atau pemerintah untuk mengembalikan hak mereka. Mulai dari tanah adat, kebun cempedak, durian, dan duku yang habis digusur oleh pihak perusahaan.

Sementara itu, dalam dunia pendidikan, anak-anak SAD tidak mengikuti sekolah formal seperti sekolah pada umumnya. Karena terbatasnya ekonomi dan kurangnya kemauan untuk sekolah, membuat anak-anak SAD tidak mengenyam dunia pendidikan.

Meskipun begitu, anak-anak SAD tetap mendapatkan pembelajaran dari salah satu warga yang menjadi relawan pengajar di sana.

Anak-anak suku anak dalam bermain didepan rumah mereka. Sabtu (27/02/2021). Ukhuwahfoto/ Humaidy Kenedy

Menanggapi permasalahan yang dihadapi suku anak dalam tersebut, H Devi Suharto, Bupati Musirawas Utara mengatakan, SAD secara umum akan tersingkirkan karena tidak beradaptasi dengan perubahan.

“Untuk beradaptasi dengan perubahan ini, diperlukan pendidikan dan adanya sumber ekonomi,” pungkasnya.

Bupati yang baru dilantik pada 26 Februari 2021 ini mendukung apabila ada anak muda yang ingin menjadi relawan pembimbing bagi suku anak dalam ini.

“Harapan kita, jika ada putra dan putri bangsa Indonesia yang tertarik untuk menjadi mentor atau mendidik anak-anak SAD, tentu sebagai bupati Musi Rawas Utara, saya welcome, untuk mendukung itu,” tutupnya.

Reporter : Humaidy Kenedy
Editor : M Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *