Sentra Ikan Asin Tertua Itu Bernama Siabang

Ikan asin dijemur pada waktu fajar, sekitar pukul 04.00 WIB, dan diangkat siang
hari atau sesudah ikan asin kering. Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin

Penulis: Muhamad Firdaus (Pengurus LPM Ukhuwah)

Hiruk pikuk kota mengiringi perjalanan kami menuju kampung Sentra Ikan Asin Palembang (Siabang). Kampung Siabang sendiri merupakan tempat pembuatan ikan asin terbesar sekaligus tertua di kota pempek, tepatnya terletak di Lorong Keramat, Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I kota Palembang.

Akses jalan menuju kampung Siabang cukup sempit, kurang lebih berukuran lebar 2 meter saja. Hanya bisa dilalui oleh kendaraan bermotor roda dua. Melalui jalan setapak beton, laju motor kami berjalan lambat, sekitar 20 kilometer per jam. Disisi jalan, warga sekitar memandangi rombongan dengan wajah asing.

Nak kemano,” ujar salah satu warga bertanya tujuan perjalanan kami.

Setelah banyak bertanya, pusat pembuatan ikan asin tertua di Palembang ini berhasil kami temui. Di persimpangan gang, terlihat beberapa Empang dengan ukuran panjang kira-kira 10 meter. Empang merupakan sebutan untuk tempat menjemur ikan asin yang terbuat dari waring ikan dengan patok penahan bambu.

Proses penjemuran ikan asin di atas Empang berukuran 10 meter. Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin

Ikan yang diasinkan merupakan jenis Kepala Batu dan ikan Beles atau biasa dikenal masyarakat luas dengan Bader Merah. Proses pengasinan biasanya dilakukan dalam kurun waktu satu malam. Dengan menggunakan baskom berukuran sedang, garam diaduk sampai larut hingga merata dengan badan ikan.

Ikan akan dijemur di Empang saat fajar, sekitar pukul 04.00 WIB, dan diangkat siang harinya saat ikan asin kering.  

Gadis (50), salah satu warga yang menggeluti usaha ikan asin ini menerima kedatangan kami dengan ramah. Dalam pengakuannya ia sudah bergelut dengan ikan asin sekitar 20 tahun yang lalu.

“Sejak anak saya kecil, mungkin sudah 20 tahun lebih,” ujarnya. Selasa, (13/7/21).

Wanita berbaju merah, rambut kuncir satu bewarna biru itu menceritakan susahnya dalam penjemuran ikan ialah ketika turun hujan.

“Kalau hujan, kami kadang rugi, karena ikan jadi basah. Sampai ulatan dan pengasinan gagal,” kata Ibu dari 5 anak itu.

Selama proses pembersihan ikan, Gadis akan dibantu oleh warga setempat, dengan memberi upah sekitar Rp. 5.000 per baskomnya. 

Sebelum dilaruti garam, ikan akan dibersihkan terlebih dahulu. Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin.

Di atas panggungan papan dengan lebar 3 meteran itu, ibu-ibu pembersih ikan Kepala Batu dan Bader Merah bercengkrama ria.

Tak…tak…tak bergantian suara pisau beradu dengan dampar kayu. Dampar merupakan bangku kecil dengan ukuran 30 centimeter terbuat dari kayu untuk membersihkan ikan.

Ikan Perairan Sungsang Banyuasin

Desa Sungsang, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Sebuah desa pesisir yang hampir seluruh penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Posisi perariram Sungsang terletak di ujung Sumsel berbatasan langsung dengan Selat Bangka.

Sungsang merupakan sumber potensi perikanan terbesar di Sumsel. Oleh karena itulah warganya dijuluki ‘wong laut’ yang berarti orang laut.

Ikan selesai di asinkan dan akan dipasok ke pasar. Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin

Ikan yang digunakan Gadis diperoleh dari perairan Sungsang. Salah satu warga Siabang akan berlayar berhari-hari dan kembali membawa hasil ikan yang melimpah.

“Kadang kalau ikannya banyak tiga hari mereka sudah pulang,” kata Gadis.

Kepada nelayan, Gadis akan membayar Rp. 6.000 per kilogramnya. Nelayan akan terus memasok ikan ketika persediannya habis.

“Kalau beli banyak, sistemnya bayar setengah dulu,” paparnya.

Di bawah rumah lantai duanya, wanita yang mengaku berusia kepala lima itu biasa menjual ikan 15 kilogram dalam sekali pengiriman. Ikan asin akan dimasukkan ke dalam kardus indomie dan akan dikirimkan ke toko-toko atau pasar sekitaran Jakabaring dan 10 Ulu Palembang.

Masalah Sampah Disekitar Empang

Segala upaya sudah dilakukan pemerintah Palembang dalam mengurangi limbah plastik sepanjang aliran Sungai Musi. Salah satunya lewat upaya sistem Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) komunal dengan target operasi awal tahun 2022.

Targetnya,  kualitas air pembuangan dari mencuci, mandi, dan lain-lain saat mengalir ke parit, anak sungai, dan Sungai Musi menjadi lebih baik atau tidak lagi mengandung limbah seperti diterjen.

Hingga kini, sampah limbah bekas rumah tangga belum nyata teratasi. Fakta dilapangan menunjukan sampah bekas rumah tangga masih berserakan sepanjang alirang Sungai Musi.


Terlihat di bawah Empang masih terdapat banyak sampah bekas rumah tangga. Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin

Meli, Wakil RT sekaligus koordinator pembuatan ikan asin di kampung Siabang, mengatakan sangat amat terganggu dengan hadirnya sampah di sekitar Empang.

“Disini seperti inilah kondisinya, sampah masih banyak. Sudah sering ditarik keluar tapi datang lagi,” ujarnya yang memakai jaket jeans hitam saat ditemui.

Dengan sandal jepit merahnya ia membawa kami mengelilingi tempat penjemuran ikan asin. “Ikan asin ini sesudah kering akan dipasok ke pasar 10 Ulu dan Jakabaring,” katanya.

Di akhir wawancara, ia meminta agar pemerintah lebih memperhatikan kampung Siabang agar bisa bertahan ditengah pandemi corona saat ini. Karena sebagian besar mata pencaharian warga Siabang ialah membuat ikan asin.

“Saya pribadi meminta pemerintah ikut peran dalam membantu kami menyalurkan penjualan ikan ini. Agar nantinya kami mampu memasok ikan ke seluruh Palembang bukan ke pasar 10 Ulu dan Jakabaring saja,” pungkasnya.

Tulisan ini telah diikutsertakan dalam Lomba penulisan feature oleh Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto Universitas Negeri Padang (UNP) dan mendapatkan juara III.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *