Semat Asa Dalam Keterbatasan Yang ‘Menikam’

WhatsApp Image 2021-04-01 at 17.12.00.jpeg
Kondisi ruang kelas SD 4 Tunggal Palembang sebelum pandemi/IST

Palembang – Ukhuwahnews | Dalam rangka menyerap ilmu yang diberikan oleh guru, sudah seharusnya dukungan berupa fasilitas yang layak, maupun tempat yang nyaman harus disediakan. Namun, tidak dengan sekolah ini, Sekolah Dasar (SD) 4 Tunggal Palembang.

Langkahku bermula saat senja mulai menghampiri, menelusuri ke tempat yang tak banyak orang-orang ketahui. Perlahan, Aku terus mencari informasi, sebelum kaki ini kumulai untuk menjelajahi.

SD 4 Tunggal Palembang, sekolah itu yang menjadi tujuanku. Di sana, terdapat alasan dan rasa ingin tahu tentang sekolah yang berlabel ‘Sekolah Kota’ namun, masih tak terjamah dan tetap berada di pinggiran.

Setelah mencari tahu melalui aplikasi Google Maps, alamat SD 4 Tunggal Palembang tak ditemukan. Dengan bantuan sahabat yang tinggal di sekitar SD tersebut. Aku mencoba menghubunginya, hingga akhirnya lokasi itu kutemukan di sudut terpencil Kota Palembang, yang hanya diketahui beberapa orang saja.

Akupun mencapai lokasi SD 4 Tunggal Palembang, yang berada di kawasan komplek Perumahan Bougenville, 15 Ulu Kecamatan Jakabaring, Kota Palembang. Letak sekolah ini terpisah dari komplek perumahan yang berdiri di tanah serikat. Rumput-rumput liar menyambut kedatanganku ketika memasukki gerbang sekolahnya.

Begitu masuk, suasana ramainya komplek berubah menjadi sepi senyap. Dihiasi oleh beberapa rumah warga yang juga tinggal di tanah serikat ini, namun, tidak sebanyak dan selayak rumah-rumah yang dilewati dari dalam komplek.

SD 4 Tunggal Palembang merupakan sekolah yang berada di pinggiran Sungai Musi, tetapi untuk menjangkaunya harus melewati elitnya kawasan komplek, yang justru berbanding terbalik dengan kondisi di SD 4 Tunggal Palembang ini.

Saat menapakkan kaki di depan SD 4 Tunggal Palembang, bangunan sekolah ini nampak berbeda. Membuatku sempat tidak percaya, jika bangunan tersebut adalah sekolah tempat anak-anak mengenyam pendidikan. Lapangannya telah ditutupi rerumputan yang tinggi dan plang SD tersebut pun telah hancur terlepas dari tempatnya.

Papan kayu yang berbaris rapi membentuk dinding, seng berkarat yang menjadi atap pelindung dari cuaca yang dinamis, serta lantai yang langsung beralaskan dengan tanah.

Selain itu, terlihat juga pada langit-langit bangunan, beberapa kayu yang sudah rapuh dibalut oleh sarang laba-laba. Sekolah yang berdiri sejak tahun 1970an itu, ternyata dulunya adalah lumbung padi tempat masyarakat menyimpan hasil panen mereka. Kini, bangunan tersebut telah dialihfungsikan menjadi sekolah.

Potret kondisi ruangan kelas SD 4 Tunggal Palembang/IST

Bangunan SD itu memiliki tiga kelas yang dikunci dengan gembok berkarat. Di dalam ruangan, terdapat kursi dan meja belajar yang berbaris berpasang-pasangan, lemari, papan tulis yang masih terdapat tulisan, serta benda-benda penunjang belajar lainnya, yang terlihat dari sela-sela fentilasi. Seakan menjadi saksi bisu, bahwa tempat ini memang benar sebuah sekolah.

Tepat di samping SD 4 Tunggal, terdapat rumah warga sekaligus wali murid SD. Rohana, wanita paruh baya dengan rambut sebahu dan mata yang sipit, Ia menyambutku dengan sedikit keragu-raguan di awal pertemuan. Namun, akhirnya Ia pun menerima kedatanganku mengunjungi sekolah ini.

Seketika Aku mencoba menanyakan situasi SD 4 Tunggal Palembang selama masa pandemi, dan proses pembelajarannya.

“Sekolahnya sedang tutup karena anak-anak belajar di rumah akibat pandemi. Siswa SD 4 Tunggal ini juga dari tahun ke tahun jumlahnya semakin sedikit, bahkan di tahun 2021 ini tidak ada murid yang mendaftar,” ujar Rohana yang merasa iba saat bercerita.

Selama pandemi Covid-19, pembelajaran dialihkan di rumah. Namun, sekolah tetap dibuka selama dua kali dalam satu minggu.

“Siswa-siswi yang bersekolah disini, dari kelas 1 hingga kelas 3 pembelajarannya dilakukan secara bersamaan dalam satu kelas. Sedangkan, kelas 4 sampai kelas 6 dilakukan secara terpisah,” tutur Rohana menambahkan saat wawancara berlangsung. Sabtu, (13/3).

Rohana menyarankanku untuk kembali lagi di hari Selasa dan Jumat. Dua hari tersebut adalah jadwal guru SD 4 Tunggal ke sekolah untuk menerima pekerjaan rumah siswa/i.

Di hari kedua Jumat, (19/3/21), Aku kembali mendatangi sekolah tersebut. Namun hasilnya nihil, para guru tidak datang dan akhirnya membuatku bertanya pada Rohana, tentang  kediaman Kepala SD 4 Tunggal, Ia bernama Arina yang beralamat di sekitaran komplek.

Aku pun mencari rumah kepala SD tersebut. Bermodalkan bertanya dengan warga sekitar, akhirnya rumah Arina berhasil ditemukan.

Ketika dipersilakan masuk ke rumah, Aku memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud untuk mewawancarai Arina, terkait SD 4 Tunggal Palembang, namun sayangnya Arina tidak di rumah saat itu.

Tetapi, wawancara tetap berlanjut meskipun Arina tak menjadi narasumbernya. Pria dengan rambut yang sudah mulai memutih, memakai kaus putih polos, dan sarung kotak-kotak, seolah-olah telah bersiap untuk menunaikan ibadah salat Jumat.

Pria itu berusia 54 tahun, dan berprofesi menjadi seorang dosen di salah satu universitas negeri di Kota Palembang. Pria yang menyambut kedatanganku itu, ternyata merupakan suami Arina sekaligus Ketua Yayasan SD 4 Tunggal Palembang, Safei, begitu Ia mengenalkan diri.

“Sekolah telah lama berdiri, sejak tahun 1970an sekolah itu sudah ada,” katanya membuka obrolan kami dengan suara beratnya. Sekolah itu juga diperuntukkan untuk segala kalangan, namun lebih terfokus untuk masyarakat kelas menengah ke bawah,”ujar Safei.

Safei bercerita bahwa, Ia dan Arina sudah mengabdi sejak tahun 1990an di sekolah tersebut. Tanpa bantuan yang signifikan dari pemerintah. Namun, mereka tetap bertekad untuk membiarkan sekolah tersebut berdiri bagi anak-anak mengenyam pendidikan.

SD 4 Tunggal Palembang hanya memiliki enam orang pengajar, dan empat orang staff. Arina juga merangkap menjadi Kepala Sekolah sekaligus Operator.

“Guru yang mengajar di SD 4 Tunggal Palembang ini kebanyakan bukan berasal dari daerah sini. Bahkan, beberapa dari guru tersebut merupakan mahasiswa, dengan kisaran gaji sekitar satu setengah juta per tiga bulan,” tutur Safei ketika diwawancari di kediamannya. Jumat, (19/3/21).

Selain itu, biaya sekolah bersifat sukarela, bahkan gratis. Safei dan Arina juga sering memberi hadiah kepada murid SD 4 Tunggal Palembang, seperti Al-Qur’an untuk menyemangati mereka belajar.

“Kalo sekolahnya ditutup kasian anak-anak, gimana anak-anak yang di sana mau sekolah?,” ucap Safei sembari menghisap rokoknya.

Safei menjelaskan bahwa, SD 4 Tunggal Palembang memiliki keterbatasan fasilitas  dan jumlah muridnya. Tetapi, sekolah ini memberikan dampak besar bagi masyarakat,  khususnya mereka yang kurang mampu, agar tetap bisa bersekolah.

Obrolanku berakhir saat adzan zuhur berkumandang, pertanda Safei harus menunaikan ibadah Jumatnya. Seketika, Aku pun berpamitan dengan Safei, dengan senyum simpulnya, ia mengantar kepulanganku disertai  momen dan pengalaman berkesan yang ia berikan.

Reporter : Annisa Dwilya Budaya
Editor : Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *