Sedekah Kampung Kapitan, Tradisi Menjaga Toleransi Umat Beragama di Palembang

Puluhan Warga Kampung Kapitan melakukan Tradisi Sedekah Kampung Pada Minggu (11/4). Tradisi ini merupakan bentuk syukur dan bentuk memohon untuk dijauhkan dari bala bencana. Ukhuwahfoto/ Adam Rachman.

Palembang – Ukhuwahnews | Sumatera Selatan, provinsi dengan beragam kebudayaan dan adat kebiasaan. Tak lepas dari itu, Bumi Sriwijaya juga kental dengan keberagaman dan toleransi keagamaan, seperti tradisi Sedekah Kampung yang dilakukan di Kampung Kapitan Palembang.

Berada di pinggiran Sungai Musi, Kampung dengan luas 165,9 X 85,6 meter itu berada di Kelurahan 7 Ulu Palembang. Kampung Kapitan ini mempunyai tiga buah rumah yang terdiri dari dua rumah tinggal yang mengapit rumah utama (tempat pesta dan pertemuan), namun sekarang hanya tersisa dua bangunan rumah yang berusia kurang lebih 400 tahun menurut cerita yang terpampang di depan bangunan gaya kolonial itu.

Pada masa lalu, Kampung Kapitan merupakan tempat tinggal Kapitan Cina beserta keluarganya yang sudah ada pada abad XIV atau sejak zaman Dinasti Ming. Awal mula munculnya Kampung Kapitan adalah pada saat runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad XI. Pada masa itu, Kerajaan Cina membentuk lembaga dagang, hingga akhirnya banyak pedagang Cina yang menetap dan menikah dengan warga Palembang. Etnis Tionghoa tersebut menetap dan hidup berdampingan bersama warga Palembang dan warga Palembang keturunan India di Kampung Kapitan.

Selepas subuh pada Minggu (11/4), hangatnya suasana kebersamaan mengalahkan udara dingin yang terasa, suara ramai terdengar dari pinggiran Sungai Musi Palembang, tepatnya di Kampung Kapitan. Suara itu ternyata berasal dari warga kampung yang tengah mempersiapkan kegiatan tradisi khas Sumatera Selatan, yaitu Sedekah Kampung Kapitan.

Menurut Herman alias Slamet Wijaya (56) atau kerap disapa Ko Godek, tradisi sedekah kampung merupakan tradisi yang sudah turun-menurun dari leluhur Tionghoa dan menjadi tradisi wajib tahunan. Ko Godek juga merupakan turunan ke-7 Tjoa Ham Ling atau biasa dikenal warga palembang sebagai keturunan kapiten.

“Tradisi Sedekah Kampung di sini tiap tahun dilakukan pada bulan April, dengan tanggal yang tak menentu,” ujar pria Keturunan Tionghoa.

Sembari melihat proses penyembelihan kambing yang dilakukan oleh Ustad Darja, tokoh agama setempat, Ko Godek bercerita mengenai tradisi Sedekah kampung ini. Menurutnya, Sedekah Dusun ini tujuannya sebagai upaya meminta pertolongan dari Tuhan untuk dihindarkan dari bala atau musibah serta menghormati leluhur yang lebih dulu berada di tempat itu.

“Ada momentum kegiatan lintas agama dan runutan kegiatan yang membuat unik tradisi tersebut,” ujar lelaki yang mengenakan kemeja putih berlengan pendek itu.

Setelah subuh, warga muslim Kampung Kapitan menyembelih kambing sesuai ajaran Islam dan warga Tionghoa menyiapkan persembahan untuk leluhur yang dibagi menjadi tiga untuk setiap masing-masing lokasi persembahan, serta untuk makan bersama seluruh warga Kampung Kapitan. Penyembelihan itu dilakukan oleh sejumlah lelaki di kampung tersebut.

“Khusus kepala dan kaki kambing itu dikubur di tempat yang telah dikhususkan serta didoakan secara Islam oleh toko agama setempat sebagai ungkapan penghormatan kepada leluhur yang telah melakukan itu sebelumnya, selanjutnya proses penyincangan daging kambing tersebut untuk dimasak gulai kari,” ungkap Ko Godek.

Foto kepala kambing yang akan menjadi rangkaian dari kegiatan Sedekah Kampung Kapitan, Minggu (11/4). Ukhuwahfoto/Adam Rachman

Memasuki proses pencincangan daging, kilau dari mata pisau serta bunyi gesekan antara pisau dengan batu asahan menambah riuhnya pagi itu.

Dengan cekatan, salah satu warga yang sudah dua tahun ini mendapat amanah untuk mencincang daging. Eko (34) mengiris daging kambing tersebut menjadi potongan kecil-kecil. Kambing yang disembelih untuk Tradisi Sedekah Kampung ini mempunyai kriteria khusus menurutnya.

“Hanya kambing jantan dan mempunyai kendit (kambing jantan yang ada belang putih di pinggang),” ucapnya sembari mengecilkan irisan daging.

Eko juga mengatakan, untuk tradisi ini hanya satu ekor kambing yang digunakan untuk sedekah kampung sekaligus untuk penghormatan kepada leluhur.

Menjelang petang, sekira pukul 16.00 ba’da Ashar, warga muslim mulai berdatangan untuk membaca Surat Yasin dan berdoa bersama di depan bangunan bersejarah tersebut.

Sementara umat muslim berdoa, Ko Godek sibuk mempersiapkan peralatan sembahyangnya. Di sinilah momen kebersamaan dan keberagaman umat beragama terlihat. Dengan garu yang terselip di jari, Ko Godek terlihat khusyuk memanjatkan doa-doa.

Setelah Surat Yasin usai dibacakan, semua warga larut dalam doa bersama untuk meminta perlindungan dan terhindar dari bala bencana dengan kepercayaan masing-masing umat beragama.

Diakhir kegiatan, warga yang beragama Tionghoa, Islam dan Khatolik membaur menjadi satu untuk bercengkrama dan menyantap kue serta ngopi bersama.

Warga membawa makanan dari Sedekah Kampung Kapitan (11/4). Ukhuwahfoto/Adam Rachman.

“Berhubung pandemi, santapan untuk warga dikemas dalam wadah styrofoam untuk disantap sewaktu pulang,” ujar Ana, salah satu warga yang ikut mempersiapkan hidangan makan.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak di kampung ini juga mendapat sajian makanan tradisi Sedekah Kampung (11/4). Ukhuwahfoto/Adam Rachman.

Ditengah hangatnya suasana perbincangan, Aba Kunyit (74) warga keturunan India sekaligus tokoh masyarakat menceritakan intisari dari kegiatan tersebut. Menurut Aba, dari tradisi Sedekah Dusun yang sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu, keharmonisan umat beragama terasa begitu kental.

“Jadi sudah terlihat dengan jelas betapa kayanya Bumi Sriwijaya ini dengan adat budaya, betapa harmonisnya kehidupan umat beragama dan betapa sahdunya kebersamaan yang dilakukan warga Bumi Sriwijaya,” jelasnya sembari menyeruput kopi susu.

Dana yang diperoleh untuk tradisi Sedekah Dusun ini sebagian besar berasal dari warga Tionghoa yang tinggal di sana, sedang yang menyembelih hewan sekaligus memasak hingga menyiapkan seluruh kegiatan ini rata-rata merupakan umat Islam.

Reporter : M Adam Rachman
Editor : Wisnu Akbar Prabowo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *