Pelita dari Negeri Saluran

Lokasi tujuan harus dilalui menggunakan jalur darat kisaran 1.5 jam. Kemudian ditempuh menggunakan jalur air dengan jarak tempuh 30 menit. Ukhuwahfoto/Annisa Dwilya Budaya

Penulis : Annisa Dwilya Budaya (Pengurus LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah)

Semilir angin dan hangat mentari menyambut kedatanganku dari ujung pelabuhan Kota Palembang, menuju Desa Saluran. Desa yang harus ditempuh kurang lebih 1,5 jam dari pusat kota itu, letaknya berada di Jalan Jepang, Banyuasin. Untuk menjangkau Desa Saluran, dapat diakses dengan dua cara, yakni jalur darat dan jalur air. Diestimasikan selama 1 jam di area daratan, serta 30 menit ditempuh dengan perahu. Di desa inilah, Siti Komariah bermukim.

Wanita yang kerap disapa Komariah itu, menghadirkan kehangatan saat aku mengunjunginya di rumah yang berdindingkan semen, tempat Ia bersama suami dan ketiga anaknya tinggal.

Walau menggendong Afrizal, anak bungsu lelakinya yang berusia 1 tahun, Komariah tak keberatan dan memberi senyum simpul yang sederhana khas miliknya padaku, lalu ia pun bercerita. Tentang pelik dan pasang surut yang harus dilewatinya seorang diri, sebagai ibu rumah tangga, sekaligus satu-satunya guru yang mengajar di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 4 Filial Kota Palembang.

Potret penulis saat menemui Siti Komariah di kediamannya di Jalan Jepang, Desa Saluran, Banyuasin. Ukhuwahfoto/IST

Terhitung sejak 2014 yang lalu, tepatnya selama 7 Tahun Komariah telah mengabdi, mengajar, dan berperan sebagai guru di SD tersebut. Ia dengan ikhlas mendidik anak-anak di sekolah terpencil itu, berharap dapat melahirkan generasi penerus bangsa, yang berjumlah sebanyak 20 orang dari berbagai tingkatan kelas. Serta semua murid, digabung dalam satu ruangan dengan bahan ajar yang berbeda.

Setiap harinya, Komariah menyempatkan waktu untuk mengajar dengan melewati jalan setapak yang dihiasi semak belukar, dan alang-alang di pinggiran jalan. Sehingga, jalan tersebut hanya bisa dilewati untuk satu orang saja, mau tidak mau, harus bergantian dengan kendaraan bermotor yang juga terkadang melintas. Sekolah tersebut juga memiliki jarak tempuh 2 kilometer dari rumahnya.

Tiap pukul delapan pagi, Komariah rela melewati jalan becek yang dipenuhi genangan air di setiap lubang jalanan, demi mencapai SD yang berdiri sejak tahun 1996 itu untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang guru.

Jalan setapak menuju SD Muhammadiyah 4 Filial Palembang, Jalan Jepang, Desa Saluran, Banyuasin. Terlihat semak belukar dan tanaman liar pinggiran jalan, serta jalan tersebut hanya dapat dilewati oleh satu orang. Ukhuwahfoto/Annisa Dwilya Budaya

 Sempat akan ditutup di tahun 2016, SD Muhammadiyah 4 Fillial ini masih dipertahankan oleh Komariah, mengingat terdapat banyak murid yang berkesempatan untuk mendapatkan ijazah dan melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Saya ngajar tidak sendiri. Waktu itu ada 6 orang rekan kerja. Namun, lambat laun semua temanteman terlena karena keadaan, dan memutuskan hengkang dari sekolah tersebut,” ujar Wanita yang berusia 32 tahun itu.

Komariah menuturkan, bahwa alasan kepergian rekan kerjanya karena faktor upah yang tidak stabil. Dengan duduk bersila di lantai yang beralaskan tikar jerami, Komariah pun melanjutkan kembali ceritanya. Ia mengaku bahwa pernah selama 2 tahun, tidak menerima gaji dari sekolah tersebut.

“Kalo melihat anak-anak yang sekolah di situ, ga tega saya. Bener-bener ga bisa saya kalo mau ninggalin sekolah itu,” tuturnya dengan rasa kepemilikan yang begitu mendalam.

Kondisi dalam kelas SD Muhammadiyah 4 Filial Palembang saat pandemi. Terlihat ruang kelas hanya beralaskan tanah dan atap seadanya tidak seperti sekolah pada umumnya. Ruangan kelas yang kosong akibat pandemi Covid-19. Ukhuwahfoto/Annisa Dwilya Budaya

Dinamika perjuangannya pun tak sampai di situ, Komariah harus bergelut dengan sistem pengajaran yang harus disesuaikan dengan kondisi pandemi saat ini, yakni Covid-19. Yang menuntut sekolah, murid, dan guru untuk bekerjasama dalam pembelajaran melalui daring atau dirumahkan.

Awalnya, Komariah mencoba untuk mematuhi himbauan tersebut. Namun, mengingat Desa Saluran merupakan zona hijau dari virus Covid-19, juga akses internet yang kurang memadai, serta dukungan tenaga listrik dan penggunaan telepon seluler yang sangat terbatas. Maka, Komariah tetap menjalankan proses belajar mengajar secara tatap muka.

“Kebanyakan anak-anak itu ga bisa menggunakan hp kecuali untuk bermain game, sudah pasti tugas-tugas yang diberikan guru, akan dikerjakan oleh  ibunya. Sehingga, yang paham dan sekolah bukan anaknya, justru orang tuanya,” ujar Komariah sambil memangku Afrizal.

Bagi Komariah, mengajar adalah panggilan jiwa. Mendidik, dan mempertahankan sekolah itu, bagaikan menyelamatkan harapan anak-anak di sela keterbatasan yang mereka miliki. Karena, keterbatasan bukanlah benteng yang menghalangi suatu cita-cita untuk bisa tercapai. Namun, lewat pendidikan yang baiklah anak-anak SD Muhammadiyah 4 Fillial Palembang bisa menjadi apa yang mereka cita-citakan.

SD Muhammadiyah 4 Filial Palembang tempat Siti Komariah mengajar, di Jalan Jepang, Desa Saluran, Banyuasin. Ukhuwahfoto/Annisa Dwilya Budaya

“Anak-anak yang belajar di sekolah filial itu harus bisa mengembangkan diri mereka. Tidak terjebak dengan pemikiran kuno, yang bila tak mampu melanjutkan pendidikan mereka justru memilih menikah. Hal inilah yang harus diubah,” kata Komariah dengan nada pembawaannya yang pelan.

Komariah, adalah satu dari sekian sosok yang gigih, bertahan untuk kebermanfaatan orang-orang di sekitarnya lewat jalur pendidikan. Walau dengan keterbatasan dan banyak rintangan yang menghampiri, tidak melunturkan tekad wanita sederhana ini untuk melahirkan benih-benih pemimpin bangsa. Namun, apakah perjuangan Komariah akan diteruskan atau justru stagnan dan tak membawa perubahan?.

Tulisan ini telah ddiikutsertakan dalam Lomba Feature di Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto, Universitas Negeri Padang (UNP). Tulisan ini telah mendapatkan Juara II.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *