Menilik Keterbatasan Mata Rantai Pendidikan Di Sudut Banyuasin

Siti Komaria (30) guru satu-satunya di SD Muhammadiyah 4 Filial. Saat sedang mengajar ibu dari 3 orang anak ini kerap membawa anak bungsunya yang berumur 2 tahun saat mengajar di ruang kelas. Selasa, (16/2/21). Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin

Menempuh jarak sekitar 90 menit dari pusat Kota Palembang, siut-siut angin turut menghantarkan perjalanan jurnalis Ukhuwahnews saat mengendarai sepeda motor berkecepatan 60km/jam menuju Desa Saluran, lokasi berdirinya sekolah indukan Muhammadiyah 4 Palembang. Kondisi jalanan dengan tanah merah yang hampir seluruhnya becek sebab genangan air seusai hujan lebat yang menguyur di hari sebelumnya, cukup memperlambat laju kendaraan bahkan kami harus melanjutkan perjalanan sekitar 2 km dengan berjalan kaki.

Sesampainya di rumah Siti Komariah (30) yang merupakan satu-satunya tenaga pengajar di SD Muhammadiyah 4 Filial, kami disambut dengan senyum ramah darinya, Minggu (14/2). Hari itu terlihat hampir seluruh pekarangan rumah warga di desa tersebut sudah digenangi air dengan ketinggian semata kaki, menurut Siti, kondisi ini sangat lumrah, apalagi pada musim penghujan seperti saat ini.

“Kalau hujan memang biasa seperti ini Mbak, kadang bisa sampai masuk ke rumah juga, dan ini bisa menghambat banyak aktivitas masyarakat sekitar,” ceritanya sambil menuangkan air minum ke cangkir, yang kemudian Ia suguhkan kepada kami.

Seusai bertanya terkait kondisi lingkungan di desa tersebut, kami mulai melakukan wawancara dengan Siti, menyoal keresahan yang Ia rasakan saat melakukan proses belajar mengajar selama hampir satu tahun virus Covid-19 menggempur sektoral pendidikan, khususnya pada rumah pendidikan tempat dirinya mengabdi selama tujuh tahun.

“Di awal sebetulnya kami sempat kebingungan, katanya virus korona ini bisa mematikan. Saya pribadi juga cukup khawatir dengan kelanjutan kegiatan di sekolah Mbak, mau dilanjutkan atau ikut dirumahkan seperti teman-taman di kota,” katanya yang kali ini sambil merapikan jilbab hitam yang Ia kenakan.

Sejak penetapan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk merumahkan kegiatan belajar mengajar melalui fasilitas berbasis internet, beberapa sekolah di Provinsi Sumatra Selatan mulai melakukan inovasi penyampaian  materi belajar daring dengan menggunakan aplikasi konferensi, hal ini dinilai efektif sebagai adaptasi kebiasaan baru. Pemerintah daerah yang dalam hal ini Gubernur Sumsel, Herman Deru turut menyediakan fasilitas penunjang berupa kuota internet dengan melakukan kerjasama pada beberapa provider penyedia kuota ilmupedia dan conference. Rabu, (26/8)

Kebijakan akhir yang diputuskan oleh pemerintah sebagai upaya preventif penyebaran virus, khususnya pada klaster pendidikan, kemudian menuai keluhan dari hampir sebagian pelaku pendidikan itu. Salah satunya Sekolah Muhammadiyah 4 Filial yang bertempat di Kabupaten Banyuasin, Desa Saluran, Kecamatan Talang Kelapa, Sumatera Selatan. Imbas yang dirasakan oleh sebanyak 19 siswa dengan 1 tenaga pengajar ini, menambah keprihatinan kondisi belajar mengajar dengan terjangan virus corona selama hampir satu tahun belakangan.

19 anak didik Siti Komariah di SD Muhammadiyah 4. Selasa, (16/2/21). Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin

Keresahan ini diakui oleh Siti Komaria, bahwa ada banyak sekali keterbatasan fasilitas yang akhirnya membuat kegiatan belajar harus berubah-ubah sampai 2 kali selama korona, Ia menilai sistem demikian sebagai upaya akan kesadaran menghindari penyebaran virus pada murid-muridnya.

“Tadinya Saya menginisiasi sistem belajar shift untuk murid-murid, yang sebelumnya sudah Saya rundingkan dengan seluruh wali mereka. Jadi, sistemnya bergilir, semua murid Saya minta untuk datang langung ke rumah Saya. Ternyata hal ini kurang efektif dilakukan, sebab banyak murid yang absen” paparnya lagi.

Di ruang tamu rumahnya yang berdindingkan bata merah, juga dihiasi sebuah bingkai piagam apresiasi bertuliskan ‘Sriwijaya Membaca’, dari sana tergambar sebuah asa yang ditujukan kepada Siti, untuk terus melanjutkan upaya  menghidupkan semangat anak-anak didiknya.

“Karena kegagalan sistem belajar tadi, Saya kemudian berdiskusi untuk malanjutkan belajar melalui ponsel kepada seluruh wali murid, seperti imbauan pemerintah sebelumnya. Namun, hal ini kemudian disanggah oleh mereka, sebab kepemilikan ponsel itu sendiri yang sangat terbatas dari orangtua siswa. Selain itu banyak juga yang tidak memahami bagaimana mengoperasikan hp android Mbak,” ujarnya menambahkan.

Sesekali angin sawah turut masuk melalui cela-cela ventilasi rumahnya dan menusuk tepat di pori-pori wajah kami, seolah-olah memberi semangat kepada Siti di tengah himpitan dikotomi yang menyandung topangannya.

Kali ini Ia kembali melanjutkan “Sebetulnya Mbak, Kami juga punya keinginan untuk belajar menggunakan teknologi daring, tapi mengingat akses internet, juga jaringan listrik yang sangat amat terbatas, Saya jadi tidak bisa memaksakannya. Akhirnya, kami sepakat untuk tetap melakukan belajar tatap muka, kami merasa gagal beradaptasi dengan teknologi hari ini sebetulnya Mbak. Itulah sebabnya kami tidak mendapatkan bantuan berupa kuota internet sampai hari ini,” tambahnya dengan tatapan layu yang cukup menyesali dengan situasi saat ini.

Wawancara berlangsung lancar selama 30 menit, hanya saja kami tidak bisa menemui seluruh murid, mengingat keterlambatan kami untuk sampai di lokasi tepat pada waktunya. Dengan logat Jawa yang khas, Siti menyarankan kami untuk kembali di hari Selasa (16/2), tepat sebelum pukul 12 siang, agar kami bisa melihat langsung bagaimana kondisi belajar di kelas. Kami menyepakati saran dan kemudian kami bergegas untuk pulang.

Pada hari kedua berkunjung di Desa Saluran, kami bisa sedikit lega. Sebab tanah yang sebelumnya begitu lengket sudah sedikit mengering, walau tetap saja kami harus bersusah payah menyeimbangkan agar motor tidak jatuh akibat lubang yang membekas dari sisa kubangan air.

Tepat di pukul 10.15 WIB, kami sampai di depan bangunan dengan panjang sekitar 10 meter yang dibalut dengan cat berwarna putih hijau. Rerumputan dengan panjang lebih kurang 30 cm ikut menari-nari mengelilingi pinggiran dinding bangunan, kami seperti disambut ramah olehnya. Inilah gedung sekolah SD Muhammadiyah 4 Filial Palembang. Selasa, (16/2)

Dengan langkah kaki perlahan, kami yang selesai memarkirkan sepeda motor, langsung saja menuju ruang kelas yang memiliki 2 pintu masuk tanpa kusen, hanya saja terdapat satu meja panjang yang menghalangi sebuah pintu, tidak begitu tahu apa tujuannya.

“Bu, di sini ada tamu yang mencari ibu,” teriak salah seorang siswi dengan kerudung yang menutupi kepalanya, akan tetapi ia tampak tak menggunakan sepatu sekolah layaknya murid di kota metropolitan, alas sekolahnya hanyalah sandal jepit.

Setelah membuntuti jalan gadis kecil tadi, kami berhasil menemui Siti Komaria yang saat itu tengah memetik cabai di sebelah kanan gedung sekolah. Tidak seperti hari biasanya, ia mengaku bahwa hari itu memang sedang tidak mengenakan seragam guru.

“Hari ini naik motor lagi ya mbak? tanyanya kepada Kami yang terlihat kotor sebab tanah merah yang ikut melekat di pakaian juga sandal.

Setelah memastikan kondisi Kami untuk membersihkan kaki, Ia mempersilahkan Kami masuk ke ruang kelas dan memperkenalkan kami kepada muridnya sebanyak 19 orang.

“Sebetulnya sekarang lagi jam istirahat Mbak, masuknya nanti setelah Saya selesai mengoreksi tugas mereka. Sembari menunggu beberapa murid ini selesai menulis,” jelasnya sambil menunjuk ke dua arah, murid dan tugas-tugasnya.

Siti Komariah mengajar anak-anak yang duduk di bangku kelas 1-6 SD di desa Saluran, Banyuasin Sumatera Selatan. Selasa, (16/2/2021)

Sambil menunggu, Ia memanggil beberapa muridnya untuk bercengkerama langsung dengan kami. Salah satu siswanya inilah yang kemudian bercerita kepada kami tanpa malu. Fahzan, sapaan dari anak laki-laki dengan tinggi badan sekitar 130 cm dan potongan rambut yang terlihat sepanjang 2 cm.

“Biasanya kalau mau ke sekolah jalan kaki dulu menuju jembatan, terus kalau sudah sampai di situ saya naik perahu Kak,” obrolan awal yang manis dari murid kelas 6 ini.

Fahzan yang tahun ini akan mengikuti ujian kelulusan mengakui keinginannya untuk bisa belajar menggunakan hp android. Sebab, selama ini yang Ia tahu hanyalah komunikasi telepon saja di gawai.

“Kalo Fahzan belum pernah ikut belajar pakai hp, tapi ada kemauan dari Fahzan kak. Katanya sekolah di kota belajar pakai online dan tidak perlu takut kena virus korona,” ujarnya dengan polos.

Di akhir, murid yang bercita-cita menjadi seorang dokter dan melanjutkan pendidikan di pondok pesantren ini berharap agar desanya bisa memiliki akses internet dan jaringan listrik yang baik.

“Selama ini listrik di rumah hidupnya cuma dari jam 6 sore sampai jam 9 malam. Terus di sini juga susah sinyal, jadi gimana kami bisa belajar pakai hp,” tuturnya dengan penuh harap.

Penulis: Mita Rosnita (Pengurus LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah)
Artikel ini bagian dari program fellowship outlook series AJI Palembang 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *