Membuat Kue Basah, Wasilah Tetap Pakai Cara Tradisional

Wasilah (57) menuangkan adonan kue ke dalam loyang. Minggu (9/5/21). Ia juga menjual berbagai macam kue basah seperti Maksuba, Engkak Ketan dan banyak lagi. Ukhuwahfoto/Arisa Domiani

Memasuki hari raya Idul Fitri tidaklah lengkap rasanya jika tak ditemani dengan kue basah. Kue basah merupakan makanan wajib yang harus ada pada hari lebaran. Rasa manis dari cita rasa yang dimiliki kue basah, menjadi ciri khas tersendiri.

Namanya Wasilah (57), wanita paruh baya ini mengaku baru saja memulai bisnis kue basah di tahun ini. Dirinya tinggal di Desa Serigeni Dusun II, Kecamatan Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Bermodalkan alat seadanya ia memberanikan diri untuk berbisnis kue basah. Sebelum melakukan bisnis ini Wasilah sebelumnya melakukan usaha lain yakni menjual jipang. Jipang adalah cemilan manis berbahan dasar beras dengan sedikit campuran gula.

Dijumpai pada Minggu (9/5/21), tepat pukul 08:30 WIB Wasilah sudah menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan. Beratapkan terpal plastik berwarna biru dengan beralaskan kursi kayu kecil, Wasilah dengan telaten memasukan satu persatu lapisan adonan basah ke dalam loyang. Loyang adalah alat memasak kue, sejenis wajan tetapi diperuntukan untuk adonan kue.

Terlihat Wasilah masih menggunakan cara tradisonal dengan kayu bakar dan loyang kue. Minggu (9/5/21). Ukhuwahfoto/Arisa Domiani

Kepulan asap dari kayu yang dibakarnya kian membara, disaat semua orang beralih menggunakan oven untuk memasak kue, Wasilah masih mempertahankan cara tradisional untuk usahanya.
Kue dimasak dengan menutup atas cetakan kue menggunakan Kekap kue (penutup yang terbuat dari tanah liat) yang sebelumnya dipanaskan di atas bara api.

“Kalau masak menggunakan oven akan terasa beda rasanya dengan cara ini. Kue yang dimasak dengan cara lama, akan terasa pekat dan lebih wangi serta tidak terlalu lengket,” jelasnya.

Kendati demikian, ternyata tidak sedikit pesanan yang masuk untuk usaha kuenya ini. Semakin dekat lebaran pesanan kuenya semakin banyak. Wasilah mengaku kewalahan jika melakukannya sendiri. Ia mengajak dua orang tetangganya untuk membantunya.

“Alhamdulillah, untuk saat ini ada sekitar 17 pesanan kue,” ujarnya sembari menuangkan adonan kue basah itu ke dalam loyang.

Kue yang dijual Wasilahpun beragam mulai dari Maksuba, Engkak Ketan, Lapis Nanas, dan Bolu Sarang Semut.

“Untuk kue yang banyak dipesan itu ada kue Lapis Nanas sama Maksuba,” terang Wasilah.

Wasilah menambahkan, alasan banyaknya orang yang memesan kue tersebut lantaran rasanya yang manis. Proses pembuatannya yang rumit membuat orang-orang memilih untuk memesan ketimbang membuat sendiri di rumah.

Loyang kue dimasak di atas bara api, dan ditutup kekap kue (penutup yang terbuat dari tanah liat). Minggu (9/5/21). Wasilah berpendapat cara ini menambah legitnya rasa kue basah. Ukhuwahfoto/Arisa Domiani

Meskipun demikian, Wasilah tidak ingin mengambil untung besar apa lagi bisnis ini ia kembangkan di Desa. Kue yang dijualnya terbilang cukup murah dibandingkan di kota-kota besar.

“Di kota biasanya kue basah ini dihargai dua ratus ribu per kue. Tetapi saya jual sedikit murah untuk harga kue Lapis Nanas itu saya jual seratus ribu satu loyang. Sedangkan untuk kue yang lain seperti Maksuba, Engkak Ketan dan yang lainnya saya hargai seratus lima puluh ribu,” terang Wasilah.

Keringat nampak bercucuran didahi berkerut wanita paruh baya itu akibat dari kepulan asap panas. Namun, Wasilah tetap atusias mengibas-ngibas api tersebut agar tidak padam. Dalam wawancara terakhir, Wasilah berharap agar usaha yang baru ia rintis ini dapat berjalan lancar.

“Semoga nantinya makin banyak pesanan yang masuk sekaligus saya diberi kelancaran dalam bisnis kue basah ini,” tutupnya.

Reporter : Arisa Domiani
Editor : Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *