Maryama, Perempuan Peduli Sungai Musi

Sungai Musi Palembang dengan ikon Jembatan Ampera. Rabu, (25/11/20). Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin

Kota Palembang dengan Icon jembatan Ampera juga dikenal memiliki salah satu sungai terpanjang di Indonesia, yakni Sungai Musi dengan panjang 750 km. Sungai ini membelah kota Palembang menjadi dua bagian yaitu daerah Ulu dan Ilir.

Menjadi tempat muara anak sungai, Sungai Musi tidak terlepas dari sentra kehidupan. Salah satunya perdagangan dan transportasi. Kehidupan masyarakat pinggiran sungai juga menjadi pelengkap adanya peradaban di Sungai Musi.

Anak sungai yang terdekat ialah Sungai Ogan. Sepanjang aliran sungai ogan, perempuan hampir sepanjang hari berinteraksi dengan sungai. Mulai memasak, mencuci, menangkap ikan serta mandi.

Sungai Ogan merupakan sungai terpanjang ketiga di Sumatra Selatan (setelah sungai Musi dan Komering). Sungai ini mengalir di perbatasan atau memotong melalui kabupaten OKU Selatan, OKU, OKI, dan Ogan Ilir.

Seperti yang dilakukan Maryama, ibu dua anak yang selalu melakukan aktivitas dipinggiran Sungai Ogan. Ketika ia sedang duduk bersantai di rumahnya, wanita berkerudung cokelat itu bercerita kalau dirinya merupakan ketua RT 25, Kecamatan 15 Ulu, Kota Palembang.

Sebagai pemimpin di lingkungannya, Maryama kerap melakukan aksi sosial bersama warganya untuk pengumpulan sampah di pinggiran sungai.

“Awalnya itu ketika ikut serta dalam pentas tari Rahim Sungai Musi yang dilaksanakan di lingkungan kami,” ujarnya, Rabu (4/11/2020).

Wanita yang hampir berumur setengah abad itu tergerak membentuk kelompok Perempuan Peduli Sungai.

Sungai yang tercemar membuat Maryamah dan masyarakat pinggiran sungai merasa terganggu aktivitas kesehariannya. Sebagai masyarakat, dirinya menginginkan Sungai Ogan bersih dari sampah.

“Kami mulai mengumpulkan sampah, tetapi disini tidak memiliki tempat untuk pengolahannya. Jadi, kami belum bisa aktif maksimal,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Bunda.

Sudah terpikirkan oleh Maryama untuk mengola sampah sisa tanaman menjadi kompos, dan sampah plastik akan diolah jadi biji plastik.

“Masih rencana, belum bisa dilaksanakn karena belum memiki alat untuk mengolahnya,” katanya.

Harapan pun Maryamah sandarkan pada Pemerintah Sumatera Selatan untuk menyediakan fasilitas dan sarana yang bisa mendukung gerakannya, seperti alat pembuat pupuk kompos dan bank sampah.

“Kalau adanya alat-alat itu, bisa juga menjadi pendapatan bagi warga disini,” pungkasnya.

Reporter : Krisna Aldrin
Editor : Melati Arsika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *