Lentera di Sudut Mata Merah

Sumber : IST

Apa yang ada di pikiran kalian ketika mendengarkan ibu rumah tangga (IRT) yang hobi membaca? tentu terdengar biasa saja bukan?  tapi bagaimana jika seorang IRT medirikan sebuah taman baca masyarakat (TBM)? tentu luar biasa, karena di tengah kesibukannya dalam menggurus rumah, anak-anak dan suaminya, ibu ini justru bisa mendirikan dan mengelola sebuah taman baca.

Sekitar 30 menit perjalanan ditempuh dengan  jarak kurang lebih 8,9 kilometer dari terminal Perumnas Sako Kota Palembang, agar mencapai taman baca tersebut. Melewati jalan yang biasa disebut warga Perumnas dan Sekojo “jalan belakang”.

Meskipun di tengah udara siang yang panas tak melunturkan semangat kami untuk pergi ke TBM Karya Mulya. Tempat yang dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai objek pembelajaran. Ya, itu adalah namanya. Dengan menggunakan honda beat kami pun melaju, kami dan kendaraan itu seolah tak acuh dengan panasnya terik yang menyengat kulit.

Jalanan nampak tak sama, semakin dalam ditelusuri. Pepohonan pinggir jalan itu semakin jelas menemani langkah perjalanan kami. Namun, hanya sesekali terlintas kendaraan lain yang menghiasi sisi jalan, seperti motor dan bebrapa mobil pick up pengangkut barang yang tidak terlalu banyak menampung barang bawaannya, dan dilewati dengan beberapa orang yang berjualan hingga akhirnya, berhasil mengisi kekosongan jalanan yang mungkin sebagian orang jarang mengetahui lokasi tersebut.

Dari sekian banyak rumah yang ada di Perumahan Kusuma Permai. Kami menemukan satu rumah yang berbeda dari rumah lainnya. Di rumah tersebut terpampang tanda yang ditulis pada tiga papan kayu dan ditancapkan pada sebuah pohon kecil. Pada papan kayu paling atas bertuliskan “Selamat Datang”, di papan kayu tengah bertuliskan “Taman Baca Masyarakat” dan pada papan kayu paling bawah bertuliskan “Karya Mulya”. Setelah melihat tanda pada papan tersebut kamipun tahu bahwa itu adalah tempat tujuan kami.

Rumah itu tidak begitu luas, namun selalu mampu menampung setiap mereka yang ingin datang berkunjung, entah untuk belajar, atau sekadar membaca buku. Tempat itu terasa hangat bagi siapapun yang ingin menjamahinya. Dengan luas sekitar 100 meter persegi, setengah bagian dari rumah itu dijadikan taman baca. Rak-rak terisi penuh oleh buku-buku yang diletakan condong ke arah dinding tersebut. Beberapa kursi plastik dan kayu menjadi dekorasi yang memenuhi ruangan itu.

Di bagian depan terdapat halaman kosong beralas karpet untuk para pengunjung duduk bersila sambil membaca, tak lupa pula  lemari kecil yang bergambarkan tulisan dan logo hokben di sudut kiri menunjang inventaris Taman Baca itu. Di dinding kanan terdapat papan tulis bersebelahan dengan itu terdapat spanduk dari Generasi Literat dan spanduk TBM Karya Mulya yang berukuran 1,5 meter, Tidak hanya itu berbeda dari taman bacaan yang lainnya, taman bacaan yang ini dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi untuk membuat pengunjung lebih betah disana, ini merupakan fasilitas baru yang ada disana.

Taman baca ini terletak di jalan Taqwa Mata Merah, Perumahan Kusuma Permai 1 RT/RW 012/002, Karya Mulia, Sematang Borang, Palembang. Tidak terlalu jauh dari jalan besar yang ada di sana dekat dengan Sekolah Menengah Negeri 7 Palembang.

Yuli Harsiah, adalah nama yang sering dikenal warga Mato Merah atau dalam Bahasa Indonesianya Mata Merah, karena keinginannya untuk mengenalkan literasi pada masyarakat sekitar, ia pun mendirikan taman baca dirumahnya.

“Kenapa saya memilih di daerah ini, karena tbm adalah tempat tinggal saya dan sebisa mungkin saya berbagi tempat untuk kegiatan literasi dan agar saya juga bisa optimal dalam menjalankan tugas sebagai ibu dan penyedia layanan membaca,” ujar Yuli.

Yuli merintis TBM Karya Mulya seorang diri, berniat ikhlas karena Allah dan terus berkembang hingga  mendapat doa dan dukungan penuh dari keluarga dan orang terdekat.

Namun niat saja tidak membuat semuanya berjalan mulus sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan. Ada-ada saja hal hal yang harus di lalui oleh Yuli dalam mengembangkan taman baca.

“Ketika saya di hadapkan pada pemangku kepentingan yang tidak mengerti akan arti relawan (volunteer) dan arti dari literasi, mereka pikir saya ada gaji. Padahal murni itu semua dari kerja keras suami yang saya sisihkan untuk dapat menyediakan fasilitas umum yang nyaman dan  bermanfaat,” ujar Yuli yang juga seorang volunteer di Generasi Literat

Yuli menceritakan kepada kami awal mula perjuangan beliau membangun taman bacaan yang didirikan pada akhir tahun 2017. Pada awalnya beliau hanya memiliki sembilan buah buku dan sekarang sudah mencapai lebih dari 1000 buah buku. Berbagai cara yang dilakukan wanita berdarah bugis itu, demi mencari tambahan buku, mulai dari membuka donasi buku hingga mengikuti arisan buku se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Pos Indonesia. Yuli juga mencari relasi atau channel untuk membantu pengembangan taman baca.

Akhirnya setelah 4 tahun berjalan Yuli mencoba untuk merangkul ibu-ibu yang ada di sekitar TBM untuk turut andil dan melibatkan mereka dalam kegiatan literasi. Namun tak sedikit dari mereka yang mempertanyakan apa yang didapat dari kegiatan di TBM tersebut.

“Mereka yang awam belum mengerti akan arti volunteer. Dari situ Aku mulai sedih, namun kegiatanku tidak boleh terhenti karna hanya segelintir orang yang tidak mendukungku,” ujar ibu dua anak tersebut.

Semenjak pandemi Covid-19 melanda di daerah ibu pertiwi, bukan hanya sekolah yang aktivitasnya terganggu. Aktivitas kegiatan di TBM Karya Mulya juga terganggu, kegiatan banyak yang dibatasi demi memutuskan mata rantai penularan Covid 19. Sekarang di TBM Karya Mulya setiap pengunjung wajib menerapkan protokol kesehatan mulai dari mencuci tangan di tempat yang sudah disediakan, memakai masker dan juga menjaga jarak.

Sumber : IST

Taman baca yang didirikan oleh anak tunggal dari seorang ibu bernama Syamsiar ini juga memiliki banyak kegiatan salah satunya adalah kunjungan mobil perpustakaan di hari hari tertentu. Hari yang telah ditentukan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan. Namun sayangnya banyak kegiatan yang di hentikan untuk sementara waktu.

Kini taman baca yang sering dikunjungi oleh anak-anak Mato Merah setiap harinya membuka penerimaan volunteer untuk mengajarkan dan juga mengembangkan minat baca warga di daerah yang sedang berkembang itu.

“Semoga dengan adanya Volunteer TBM nanti, TBM  makin bermanfaat untuk kegiatan Literasi yang lebih baik lagi,” harapnya.

Malam mulai menjelang, yang ditandai dengan mentari terbenam menuju peraduannya, dan seolah-olah memaksa kami untuk mengakhiri obrolan singkat dan bincang-bincang yang penuh makna, karena rasanya enggan untuk diakhiri.

“Taman baca ini memang jauh dari kata sempurna, namun lebih baik ada dari pada tidak sama sekali,” ujarnya seraya menutup percakapan dengan tawa kecil yang mengiringi di sela-sela obrolan kami.

Reporter : Bunga Yunielda
Editor : Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *