Kali Pertama Puasa Tanpa Keluarga, Ini Suka-Duka Mahasiswa Rantau UIN RF

Arwin (nomor 3 dari kiri) sedang buka puasa bersama teman-temannya di Masjid Darul Muttaqin UIN Raden Fatah Palembang. Foto/IST.

Penulis: Wilda Halimatunnisa (Pengurus LPM Ukhuwah)

UIN RF – Ukhuwahnews | Menjalankan ibadah Ramadan tentu akan terasa nikmat jika bersama keluarga. Namun, bagi mahasiswa rantau yang terpaksa menjalankan bulan Ramadan jauh dari keluarga karena perkuliahan yang diselenggarakan secara luar jaringan (luring), menjadi momen yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Lantas bagaimana pengalaman mereka?

Anti Maruyati, mahasiswi asal Seri Tanjung, Indralaya yang saat ini menempuh pendidikan S1 Program Studi (Prodi) Manajemen Pendidikan Islam di UIN Raden Fatah Palembang, mengaku baru pertama kali menjalankan bulan Ramadan tanpa keluarga. Ia menyebutkan Ramadan tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya.

“Terasa banget bedanya dengan tahun lalu. Biasanya ga perlu mikir mau sahur pake apa, mau berbuka pake apa. Sekarang kadang sahur cuma pake mi, telor atau nasi goreng. Jadi bener-bener dilatih untuk mandiri gitu,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (29/04/2022).

Mahasiswi semester empat itu mengatakan, meski rindu dengan nuansa Ramadan bersama keluarga, ada juga rasa senang saat menjalankannya di kos bersama teman-temannya.

“Kebersamaan dengan teman-teman bikin lauk sahur yang tadinya sederhana jadi bermakna, karna makannya bareng-bareng. Kadang ngabuburit bareng, buka bersama diluar, pokoknya bareng-bareng terus jadi ga ngerasa kesepian,” tuturnya

Dalam hal ini Anti menyebutkan, Ia belajar menjadi pribadi yang mandiri. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan pertolongan orang lain, namun tidak selamanya bergantung dengan orang lain. Meski banyak suka duka yang dirasakan saat puasa di tanah rantau, Ia berharap agar momen lebaran nanti dapat berkumpul lagi bersama keluarganya.

Baca Juga : Idulfitri, Momentum Kita Bersilahturahmi Dengan Sesama

“Sekarang baru terasa, ternyata waktu bareng keluarga itu berharga banget. Rasanya pengen cepet-cepet pulang kampung biar bisa ketemu dan kumpul lagi sama keluarga di waktu lebaran,” lanjutnya.

Senasib dengan Anti, Mahasiswa Prodi Ilmu Politik, Arwin juga merasakan kali pertama puasa di tanah rantau jauh dari keluarga. Arwin yang tinggal di Masjid Darul Muttaqin di kawasan UIN Raden Fatah sebagai marbot, mengaku sangat merindukan suasana bulan Ramadan di kampungnya.

“Bulan Ramadan ini bener-bener bulan paling ditunggu-tunggu, tapi rasanya sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Biasanya di kampung suka bangunin sahur sama teman-teman disana, kalo disini udah gak bisa lagi,” katanya.

Ia juga menambahkan, hal-hal yang biasa dilakukan bersama keluarga seperti buka bersama, sahur bersama dan pergi tarawih bersama keluarga tidak bisa lagi Ia rasakan.

“Kangen banget sama momen puasa tahun lalu saat masih sama keluarga, rasanya kaya ada yang kurang kalo ga sama keluarga. Cuma sekarang kan udah ngerantau jadi mulai ngebiasain diri aja,” tambahnya.

Meski rindu dengan suasana Ramadan bersama keluarga, mahasiswa asal Muara Enim itu mengaku tahun ini banyak mendapatkan pelajaran sebagai marbot masjid.

“Tinggal di masjid jadi ada nilai iktikafnya, berkumpul dengan orang-orang saleh dan lebih meningkatkan kuantitas ibadah dari tahun sebelumnya. Karena banyak teman yang juga marbot masjid disini. Jadi walapun rindu kampung, lumayan terobati karena berkumpul dengan teman-teman disini,” pungkasnya.

Editor: Annisa Dwilya Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *