Iseng Jualan, Lidiya Raup Jutaan Lewat Usaha Kue Kering

Lidiya (40) sedang memasak kue kering di oven miliknya. Sabtu (8/5/21). Kue kering ini ia promosikan lewat media sosial. Ukhuwahfoto/Siti Alicia Zahirah

Memasuki hari akhir Ramadan, kue kering semakin diburu banyak warga muslim di Indonesia. Tentunya sebagai makanan wajib untuk sajian hari raya Idul Fitri. Sebagaimana diketahui kue kering umumnya dapat dijumpai di pasar atau di toko kue. Tapi bagaimana jika kue kering ini ditemui dan dijual dalam jumlah banyak oleh Ibu Rumah Tangga (IRT) lewat usaha rumahan.

Namanya Lidiya (40), perempuan paruh baya ini adalah satu diantara banyaknya pengusaha rumahan yang berhasil meraup untung jutaan rupiah dari pembuatan kue kering. Satu buah mesin mikser tua ia gunakan untuk membuat beberapa kue kering ini. Saat ditemui, Lidiya sedang memecahkan telur untuk dimasukan ke mikser. Mikser adalah alat mekanis yang digunakan untuk mencampur bahan adonan pembuatan kue.

Disebelah kanannya ada sebuah lemari piring dengan ukuran sedang, kulkas, kompor, dan oven yang ia gunakan untuk memanggang kue. Itu adalah gambaran dari semrawutnya dapur Lidiya. Namun, di dapur inilah ia mampu memasak ratusan pesanan kue dari para pembeli.

Proses pembuatan kue menggunakan mikser. Sabtu (8/5/21). Setiap tahunnya Lidiya selalu dibanjiri pesanan kue kering jelang lebaran. Ukhuwahfoto/Siti Alicia Zahirah

Usaha ini ia dirikan dari tahun 2017 lalu, menurut cerita Lidiya awalnya ia iseng membuat kue kering bersama keponakannya, sampai terpikirlah ide untuk membuat usaha kue rumahan ini.

“Saya memang hobi memasak sejak SD, waktu itu keponakan saya bilang kenapa kita tidak membuat usaha kue lebaran saja. Lumayan untungnya buat nambahin masak lebaran,” katanya pada Sabtu (8/5/21).

Pada masa awal berdirinya Ibu tiga anak ini tak menyangka usahanya akan semaju ini. Tahun pertama ia mendapat pesanan sebanyak 300 toples kue.

“Bersyukur banget saya mbak, tahun pertama masuk pesanan 300. Selanjutnya mulai masuk  dari Jakarta, Bandung, Bogor, bahkan Bali,” papar Lidiya dengan wajah semringahnya.

Lidiya biasa mempromosikan usahanya lewat media sosial pada awal masuk bulan suci Ramadan. Kemudian dikerjakannya dan bisa diambil satu minggu sebelum lebaran.

“Ambil saja kerumah kalau mau pesan, atau bisa kami antar lewat kurir untuk pemesan dari luar Palembang,” ujar wanita asal komering ini.

Kue kering sebelum dimasukan di oven. Sabtu (8/5/21). Pengiriman kue biasa dilakukan Lidiya lewat kurir atau bisa diambil langsung dikediamannya untuk pembeli asal Palembang. Ukhuwahfoto/ Siti Alicia Zahirah

Lewat usaha inilah, Lidiya mampu membuka lapangan pekerjaan dengan mengajak tetangga sekitar rumahnya. Bagaimana tidak, selama bulan Ramadan ia selalu banjir pesanan.

Lidiya biasa meraup untung sampai 15 juta setiap tahunnya. Namun, sayangnya selama pandemi corona hanya enam juta saja yang ia dapatkan. Meskipun begitu, ia mengatakan tetap bersyukur dengan pengahasilannya dan percaya hal itu adalah bagian dari cara tuhan memberinya rezeki. 

Walaupun omsetnya menurun, Lidiya menolak untuk menggunakan bahan yang tak berkualitas. Ia tetap menggunakan bahan baku nomor satu untuk pembuatan kue keringnya. Mulai dari mentega, gula, telur, sampai terigu.

“Bahan baku itu sangat berpengaruh untuk cita rasanya, bagi saya itu adalah bagian kepuasan pelanggan terhadap kue kering saya. Jadi kepuasan mereka adalah yang utama,” tutupnya seraya menyusun kue yang telah matang.

Tak terlalu sulit untuk mencari rumah Lidiya. Terletak dijalan PDAM Tirta Musi nomor  351B RT 07 RW 03, Ilir Barat I, Bukit Lama, Palembang. Karena letaknya dipinggir jalan didekat Kampus B Universitas PGRI Palembang.

Reporter : Siti Alicia Zahirah
Editor : Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *