Humiditas, Faktor Suksesnya Budidaya Jamur Tiram di Talang Buluh

Salah satu pekerja, Anang (56) ketika menunjukan beberapa media tanam budidaya jamur tiram. Jumat, (1/10/21). Ukhuwahfoto/Humaidy Kenedy

Penulis: M. Firdaus (Pengurus LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah) 

Brmmm… Suara motor kami melaju santai menuju pembuatan jamur tiram di Talang Buluh, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Setelah kurang lebih 30 menit, saya dan rombongan berhasil menemui Anang (56), salah satu pekerja di tempat budidaya jamur tiram terbesar di Sumsel tersebut.

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes, dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga kecoklatan dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran. Mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung.

Merupakan jamur yang tumbuh liar dan aman untuk dimakan. Jamur ini telah menjadi makanan sehari-hari yang belakangan cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Dilansir dari merdeka.com jamur tiram memiliki serat makanan, beta-glukan, dan bahan-bahan lain yang dapat meningkatkan kesehatan. Jamur tiram juga memiliki rasa yang lembut dan dapat digunakan untuk menambah rasa ke berbagai hidangan gurih.

Lebih jauh berbicara tentang Humiditas. Humiditas merupakan sebuah sifat yang menunjukkan jumlah uap air di dalam udara. Secara harfiah, humiditas lebih lazim dikenal dengan istilah kelembaban udara atau kondisi di mana sebuah ruangan menjadi lembab.

Media Tanam

Umumnya, serbuk kayu yang digunakan sebagai campuran media tanam pembibitan jamur tiram ialah jenis kayu jati, pinus, sengon dan mahoni. Namun, kali ini yang digunakan oleh Anang ialah jenis kayu racuk.  

“Sebenarnya kami biasa menggunakan kayu sengon, tapi sudah sukar dicari,” ujarnya sembari mengenggam serbuk kayu. Jumat, (1/10/21).

Serat kayu yang baik digunakan untuk media tanam budidaya jamur tiram ialah jenis kayu yang memiliki serat dominan basah.

Serat kayu ini nantinya akan digiling menggunakan mesin penghalus dan ditambah campuran dedak sebagai pupuk agar menjadi bibit yang berkualitas.

Dedak adalah hasil samping pada pabrik penggilingan padi dalam memproduksi beras. Dedak padi umumnya digunakan sebagai pakan ternak karena mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi.

Namun kali ini, dedak digunakan sebagai bahan campuran serbuk kayu untuk pengolahan jamur tiram. Harganya relatif murah, mudah diperoleh, dan penggunaannya tidak bersaing dengan manusia.

“Dedak ini digunakan untuk pupuk agar bibit memiliki kualitas baik,” ujar Anang.

Ketika diwawancarai, Anang mengaku dapat menggiling 25 gilingan serbuk kayu per hari. Dengan tiap-tiap gilingan yaitu, 8 ember serbuk kayu, 2 ember air, dan 4 gayung dedak.

Tempat pengukusan serbuk kayu, drum ini bisa menampung 80 bungkus serbuk dan dikukus selama setengah hari. Jumat, (1/10/21). Ukhuwahfoto/Humaidy Kenedy

Diolah selama setengah hari  

Di bawah atap seng tua itu, dengan kaus hitam, bercelana pendek, dan dompet handphone di pinggangnya. Anang mengajak kami mengelilingi sentra pembuatan jamur tiram.

“Saya disini sejak 2014, dan sebagai kepala pekerja,” katanya.

Setelah digiling, serbuk kayu kemudian dibungkus plastik dengan berat 1,1 kilogram. Biasanya serbuk ini akan dimasukkan ke plastik oleh para pekerja wanita saja.

“Sebelum kami kemas, serbuk kayu ini dibiarkan dulu satu malam untuk penguraian serat,” tutur Anang.

Serbuk kayu yang sudah di packing, akan dikukus dalam dandang berukuran besar. Dalam satu dandang ini bisa menghasilkan 800 bungkus serbuk kayu.

“Dandang selalu kami jaga, karena pengapian harus stabil. Kalau tidak bisa meledak,” kata Anang sembari mengipas-ngipas api.

Pengapian menjadi proses penting untuk menjaga kualitas serbuk kayu. Ketika serbuk tidak melalui proses yang benar maka akan menyebabkan jamur tiram gagal panen. Proses ini pula yang  memakan waktu 12 jam dengan tenaga kerja minimal 4 orang.

Selain dandang, Anang menggunakan drum ukuran 200 liter untuk mengukus serbuk kayu. Berbeda dengan dandang besar, drum hanya mampu menampung 80 bungkus serbuk.

Proses pemasukan bibit

Proses pemasukan bibit ini menjadi puncaknya pengelolaan jamur tiram untuk setelahnya didiamkan selama beberapa minggu menunggu panen. Bibit ini sudah disiapkan oleh Anang dan pekerja selama berbulan-bulan melalui tahap pembibitan.

Pembibitan merupakan kegiatan awal di lapangan yang bertujuan untuk mempersiapkan bibit siap tanam. Pembibitan harus disiapkan sekitar satu tahun sebelum penanaman di lapangan, agar bibit yang ditanam tersebut memenuhi syarat, baik umur maupun ukurannya.

Sreekk.. tarikan satu kantung plastik serbuk masak ditunjukkan oleh Anang kepada kami.

Ia menjelaskan, setelah dikukus dan matang serbuk kayu akan dimalamkan terlebih dahulu.

“Didiamkan semalam, nanti akan dimasukan bibit di atas bolongan plastik ini,” paparnya sembari duduk.

Anang juga menambahkan, selama dilakukan pemasukan bibit ke dalam plastik harus memiliki ruang yang steril, suhu yang lembab, dan tidak terpapar matahari.

“Yang pasti ruangan harus steril, agar bibit yang dimasukan menjadi bibit dengan kualitas panen yang baik,” kata Anang.

Setelah melalui proses panjang tersebut, setiap kantong plastik serbuk kayu yang sudah dicampur bibit akan dimasukkan ke ruang inkubasi. Diletakan di atas rak khusus penempatan serbuk kayu, setiap rak berukuran panjang kurang lebih 50 meter.

Inkubasi adalah ruangan untuk menyimpan atau menempatkan media tanam yang telah diinokulasi pada kondisi tertentu agar miselia jamur tumbuh. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pertumbuhan miselia. Inkubasi jamur tiram dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu.

Di ruang inkubasi inilah, setiap serbuk akan diamati selama kurang lebih satu bulan. Setelahnya serbuk tersebut akan dialihkan ke ruang siap panen.

“Kami akan terus mengamati setiap kantong serbuk ini, nanti kalau ada yang tak tumbuh bakal jamur akan dibuang. Jika memungkinkan kami daur ulang,” ujar Anang sambil merapikan kantong serbuk.

Tahap panen

Setelah panjang lebar berbicara dengan Anang, kali ini kami diarahakannya menuju ruang siap panen. Dan bertemu dengan salah satu orang yang berperan besar dalam budidaya jamur tiram ini.

Namanya, Rahmat (58), saudara tua dari pemilik usaha budidaya jamur tiram. Ketika kami temui, laki-laki paruh baya ini sedang menyirami ratusan kantong serbuk kayu yang sudah mulai ditumbuhi jamur tiram. Ya, ruangan yang baru saja kami masuki merupakan tempat akhir daripada proses panjang budidaya jamur tiram, ruang siap panen.  

Tampak jamur tiram sudah siap panen, untuk kemudian didistribusikan ke setiap pasar yang ada di Palembang. Jumat, (1/10/21). Ukhuwahfoto/Humaidy Kenedy

Di ruang inilah, jamur tiram akan tumbuh dan bercabang. Menurut Rahmat, ruang siap panen ini berbeda dengan ruang lainnya. Karena, suhu di tempat ini harus dikontrol agar kelembaban jamur terjaga dengan baik.

Dalam satu hari dengan suhu yang panas, Rahmat biasa menyiram kantong serbuk kayu lima kali dalam sehari.

“Kalau panas bisa lima kali siram dalam sehari, tapi ini kan musim hujan jadi cukup pagi sama sore saja,” kata Rahmat.

Jika sedang musim jamur tumbuh, total ada kurang lebih 300 kilogram jamur tiram dalam sehari yang bisa dihasilkan oleh Rahmat dan pekerjanya.

“Jamur ini gak bisa ditebak kapan musimnya, tapi kalau lagi banyak bisa menghasilkan 300 kilo sehari,” ujar Rahmat sembari mengibaskan selang air.

“Saya awalnya usaha di Jawa, tapi akhirnya ikut bisnis adik saya ini,” sambungnya.

Selain itu, Rahmat mengatakan, untuk hasil panen yang baik suhu di ruangan harus selembab mungkin.

“Suhunya itu harus dingin, 28 derajat celcius lah paling tidak dijaga agar tetap lembab.”

Pendistribusian Jamur Tiram 

Jamur tiram bisa diolah untuk berbagai jenis makanan, seperti jamur tiram crispy, nugget, pepes, tumis, dan banyak lagi. Dengan banyaknya minat masyarakat Indonesia inilah cemilan berbahan dasar jamur tiram laku keras di pasaran.

Menurut Rahmat, tujuan distribusi jamur tiram yang ia budidaya ini ialah pasar-pasar di seluruh kota Palembang.

“Kalau penjualan itu kita jual ke pasar yang ada di Palembang. Seperti pasar Lemabang, pasar 45, pasar Perumnas, dan Jakabaring,” katanya.

Selain ke pasar, Rahmat juga menerima jika ada pesanan masuk langsung ke lokasi.

“Kalau ada yang mesan langsung kita layani, tergantung stok jamur ada atau tidak,” ujar Rahmat.

Jamur tiram biasa dipatok dengan harga Rp. 20.000 per kilogramnya. Dalam proses budidaya jamur tiram ini Rahmat dibantu oleh para pekerja dari warga sekitar saja.

“Dulu itu ada 30 orang yang ikut bantu disini, tapi dampak corona jadi kita pangkas. Sekarang cuma sisa 8 orang.”

Proses penyiraman budidaya jamur tiram. Penyiraman dilakukan untuk menjaga kelembaban bibit. Jumat, (1/10/21). Ukhuwahfoto/Humaidy Kenedy

Masalah gagal panen

Jamur merupakan salah satu makanan yang banyak diminati. Baik di Indonesia maupun negara lainnya. Pada tahun 2016, berdasarkan data FAOstat, jumlah produksi jamur mencapai 10.790.859 ton.

Sayangnya, meskipun banyak dicari dan diminati, budidaya jamur tidaklah mudah karena banyak hama dan penyakit jamur tiram yang dapat merusak pertumbuhannya.

Harus diakui jika budidaya jamur tiram sekarang ini sudah berubah menjadi peluang usaha yang begitu diminati oleh masyarakat. Bahkan, semakin lama permintaan pasar juga semakin besar, sehingga bisnis budidaya jamur tiram dianggap sebagai bisnis yang menggiurkan.

Seperti tanaman pada umumnya, jamur juga mudah diserang oleh hama dan penyakit yang dapat menghambat pertumbuhannya. Hal ini seringkali membuat jamur gagal panen sehingga tidak ada hasil dari proses budidayanya.

Rahmat juga tak menampik, permasalahan terbesar pada budidaya jamur tiram ialah ketika tak tumbuhnya jamur tersebut.

“Ruginya itu kalau gak jadi jamur. Jadi harus jeli untuk melihat keberadaan hama.”

Namun, Rahmat kembali mengingatkan kalau sudah rezekinya pasti akan ada saja hal baiknya. “Itu semua sudah diatur sama yang di atas. Yang pasti perawatannya harus ekstra,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *