Faridah, Pengais Kehidupan di Tempat Pembuangan Akhir

Faridah (65) sedang mengais plastik yang ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan, Kota Palembang. Kamis (22/10/20). Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin Gunawan

Faridah, wanita berumur 65 tahun ini sudah lama mencari rezeki dengan memulung sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan, Kota Palembang. Wanita yang memasuki umur lansia itu mulai mengais pada jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Keranjang rakit gendong dan tongkat berujung besi merupakan amunisi yang selalu dibawanya untuk mengais rezeki setiap hari. Wak Padang, begitu rekan-rekan kerja memanggilnya. Yang mana, Padang merupakan kota asal suaminya.

Keseharian Faridah selalu berada di TPA. Kulit yang legam dan punggung yang mulai bungkuk, dari pagi hingga sore ia habiskan di tempat sampah itu demi bertahan hidup. ‘Nyeker’ begitu ia menyebut pekerjaanya. Sampah-sampah yang dipilih Faridah beragam macam jenis, mulai dari kaleng minuman soda (alma), botol air mineral, cup air mineral, dan tak jarang Faridah juga mengumpulkan besi-besi jika ia menemukannya. Kisaran harga jualnya pun beragam mulai dari dua ribu lima ratus rupiah, tiga ribu rupiah, hingga sepuluh ribu rupiah per kilogramnya.

Hasil nyeker yang ia dapat per harinya berkisar dua puluh ribu. Ia mengatakan hasil perharinya itu ia gunakan untuk membeli beras dan kebutuhan sehari-hari.

Saat Faridah membeli beras untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya. Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin Gunawan

“Sehari saya dapat tujuh belas ribu kadang dua puluh ribu. Itu cukup untuk membeli beras dan kebutuhan sehari-hari,” katanya sambil memegang tongkat ditangannya saat diwawancarai pada hari Kamis (22/10/20).

Disela-sela obrolan kami, Faridah sedikit bercerita mengenai beberapa kali wartawan yang datang ke tempat kerjanya yang ingin memotret dan mewawancarai dirinya. Menurutnya hal tersebut tidak masalah karena ia mencari dengan cara yang halal.

“Orang-orang disini sering bilang sama saya, jangan mau di wawancarai apalagi difoto, itu harga diri. Ya mau gimana lagi?, emang nyatanya seperti ini, yang penting pekerjaan saya halal” ujarnya ditengah terik matahari.

Setelah pekerjaanya selesai, hasil nyeker yang Faridah kumpulkan dijual kepada pengepul yang sengaja datang untuk membeli hasil keringatnya itu.

Ketika hari menjelang sore, Faridah bergegas pulang dan kami pun ikut bersamanya. Cukup jauh perjalanan dari TPA kerumah Faridah untuk pejalan kaki seperti dirinya. Di jalan ia singgah disuatu warung sembako untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya. Uang yang ia gunakan belanja tersebut merupakan hasil dari nyeker pada hari itu. Tinggal di salah satu bedeng tepatnya di Jl. Sukawinatan Lr. Bhineka, Faridah tinggal bersama suami, menantu dan satu orang cucu.

Ketika dipersilakan masuk ke dalam rumah, kami disambut oleh seorang pria tua dengan kumis dan  jenggot yang sudah putih. Haidir, suami Faridah yang menikahinya pada tahun 1967 itu sudah tidak kuat lagi menemaninya menyeker rezeki di TPA. Bukan semata-mata hanya dirumah saja, Haidir memanfaatkan hasil nyeker yang dibawa Faridah pulang dan memperbaruinya kemudian dijual.

Haidir, suami dari Faridah yang sedang menjahi karung untuk dijual lagi. Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin Gunawan

Karung bekas yang masih layak pakai ia cuci kemudian ia jahit dengan sedemikian rupa lalu karung tersebut ia jual kepada pemulung yang lain. Karung tersebut dapat digunakan lagi untuk mengumpulkan rezeki-rezeki mereka.

Membahas kisah hidupnya, Haidir mengatakan tidak masalah dengan keadaan sekarang yang terpenting keluarganya sehat.

“Walaupun hidup susah, yang penting badan sehat hati senang,” ujar Haidir dengan puntung rokok dijarinya.

Penghasilan Faridah dan suaminya juga tak jarang mereka tabungkan, “Kalo ada duit lebih kita nabung, lima ribu sepuluh ribu,” kata Faridah sambil menunjukan celengan ayam yang ia temukan di tempat kerjanya.

Reporter : Annisa Dwilya Budaya
Edior : Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *