17 Tahun Tsunami Aceh: Dina dan Ingatan Bencana yang Kelam

ilustrasi tsunami Aceh.
Sumber foto: IST

“Dina lari terus! Biarkan ibu bareng bapak.”

Kalimat tersebut adalah kata-kata terakhir yang terucap dari bibir sang ayah pada bencana tsunami Aceh 2004 silam sewaktu Julizar Dina (29) melarikan diri dari sapuan ombak laut. Sejak saat itu, Dina dan kedua orang tuanya tidak pernah bertukar sapa.

Bencana air bah yang menghantam pesisir pantai Serambi Mekah itu pun tak hanya meluluhlantahkan seisi kota, namun juga melenyapkan kedua sosok pengasuh Dina. Dina yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu pun harus kehilangan sosok orang tua di usianya yang masih seumur jagung.

“Waktu saya lari, saya mau naik ke balkon bareng yang lain. Saya menunggu ibu dan bapak di tangga,” tutur Dina.

“Saya lihat ke belakang, air sudah selutut. Ibu saya tertinggal di belakang dengan posisi setengah berlutut bersama bapak,” lanjut dia menceritakan kejadian itu.

Pada saat itu, Dina hanya bisa terdiam menyaksikan kedua orang tuanya terendam air bah. Dina beberapa kali mengajak sang ibu untuk kembali berjalan. Namun, ibunya tak mampu lagi melangkah akibat sakit rematik yang dideritanya.

Hingga akhirnya, Dina memutuskan untuk meninggalkan kedua orang tuanya dengan berat hati. Dirinya bergegas menaiki atap salah satu rumah dan berusaha menyelamatkan diri dari bencana hebat itu.

Kenangan

Ketika peristiwa itu terjadi, Dina masih berusia 13 tahun. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di Banda Aceh dan berada tidak jauh dari garis pantai.

Kala itu, di hari Minggu pagi (26/12/2004), gadis kelahiran Aceh Barat tersebut sedang beristirahat selepas berjoging bersama keluarganya. Dirinya menghabiskan waktu di rumah dengan menonton televisi ketika sang ayah mencuci mobil di halaman rumah.

Tak ada angin maupun hujan, sekitar pukul 8 pagi tanah tiba-tiba berguncang dengan hebat dan mengejutkan mereka seisi rumah. Kala itu, terjadi gempa yang cukup hebat dengan kekuatan mencapai 8,9 SR.

Dengan skala sebesar itu, beberapa ruko yang berada di seberang kali di depan rumah Dina pun roboh. Dina dan keluarganya bergegas menyelamatkan diri dengan mengungsi ke luar rumah.

“Waktu itu kakak saya ada di dalam (rumah), lihat barang-barang berjatuhan semua. Bapak melihat ibu dan melarangnya untuk masuk ke rumah,” ucap Dina.

Tak berselang waktu lama, gempa dahsyat itu berhenti. Ia dan keluarganya pun berkumpul di satu tempat di rumahnya. Seluruh anggota keluarga Dina selamat dari insiden tersebut.

Lalu, terjadi gempa susulan yang diikuti oleh naiknya ketinggian air laut secara tiba-tiba. Warga sekitar pekarangan rumah Dina pun panik berhamburan ke luar rumah.

“Bu lari bu, air laut naik!” ujar Dina menirukan perkataan tetangganya.

Di saat yang bersamaan, aliran air yang mengalir di kali yang berada di depan rumah keluarga Dina dipenuhi oleh puing-puing bangunan dan ranting pepohonan. Dibekali rasa panik, Dina dengan sigap berlari sembari memegangi tangan ibunya.

“Saya tidak tahu keluarga saya di mana, kakak saya tidak tahu, abang saya tidak tahu. Pokoknya waktu itu kami menyelamatkan diri masing-masing,” tutur Dina.

Dina dan ibunya terus berlari untuk menjauhi air yang kian lama semakin meninggi. Di tengah perjalanan yang menegangkan itu, langkah sang ibu mendadak terhenti akibat kelelahan.

“Kata ibu saya, Dina lari terus, mama udah nggak sanggup lari, mama udah capek,” jelas Dina.

“Saya terus ajak ibu saya lari. Saya bilang, Ma, terus lari. Gak papa kita lari pelan-pelan saja,” tegasnya.

Mereka berdua berhenti tepat di sebelah ruko yang masih kokoh berdiri. Di dalam ruko itu, terdapat sebuah pintu yang jebol akibat diterpa air tsunami yang berwarna hitam gelap. Dina dengan terseok-seok terus berusaha membawa ibunya untuk menyelamatkan diri.

Di sela-sela itu, sang ayah pun muncul di belakang mereka dan langsung mendekap keduanya. Ayah Dina berkata kepadanya untuk terus berlari. Kedua orang tua Dina pun mengikuti langkah Dina dengan pelan di belakang.

“Kami lari sampai di sebuah rumah yang ada balkon. Jadi, pas saya mau naik ke balkon itu tangganya sedang ramai. Semua orang mengantre untuk naik ke sana,” terusnya.

Ketika Dina menunggu giliran untuk menaiki tangga, ia sempat menoleh ke belakang untuk memastikan kondisi kedua orang tuanya yang terjebak air bah. Sang ayah berdiri di tengah terpaan air dengan mendekap ibunya yang sudah tak sanggup berlari.

Kondisi air yang semakin bertambah tinggi membuat Dina harus segera mencari tempat perlindungan. Dirinya kemudian naik ke atap sebuah rumah. Ia pun terbawa arus dan terombang-ambing tanpa arah hingga sempat tenggelam beberapa kali. Di saat itulah dirinya terpisah dengan kedua orang tuanya.

Baca Juga: Hujan Semalam Suntuk, Kawasan UIN Raden Fatah Digenang Banjir

Surut

Masifnya bencana itu membuat sebagian besar wilayah Banda Aceh terendam air laut hingga sore hari menyapa. Dina kala itu berhasil selamat dan terdampar di Gampong Pande.

Di sana, sejauh mata memandang, ia menyaksikan puing-puing bangunan yang hancur dan dihiasi oleh mayat-mayat manusia yang tak sempat menyelamatkan nyawanya. Dina yang dalam kondisi terluka itu sontak berteriak meminta pertolongan.

“Kebetulan waktu itu telapak kaki saya robek (luka), jadi saya menunggu orang untuk menyelamatkan saya,” jelas Dina.

Teriakan Dina pun akhirnya membuahkan hasil. Dirinya ditemukan oleh seorang laki-laki yang merupakan warga sekitar. Laki-laki itu kemudian menanyakan dari mana asal gadis belia itu dan di mana keberadaan kedua orang tuanya.

“Saya jawab, saya dari Lampaseh, saya nggak tau orang tua saya di mana,” jawabnya.

Dina kemudian bertanya kepada laki-laki itu di mana tempat berkumpulnya orang-orang yang selamat dengan harapan masih bisa bertemu dengan keluarganya. Laki-laki itu lalu mengajak Dina untuk menyambangi lokasi pengungsian setelah ia selesai mencari keluarganya di wilayah itu.

Sembari menunggu, Dina diberikan dua buah jeriken besar yang dikaitkan di tubuhnya. Laki-laki itu mengatakan bahwa alat itu bisa menjadi pelampung jika sewaktu-waktu air kembali pasang.

Tak berlangsung lama, laki-laki tadi membawa Dina ke Masjid Raya Baiturrahman di mana para pengungsi yang selamat berkumpul. Sepanjang perjalanan, Dina disuguhkan pemandangan yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.

“Saya berjalan sambil melihat mayat-mayat yang ada di sekitar, siapa tahu ada mayat dari keluarga kami (Dina dan laki-laki itu). Tapi sepanjang jalan, kami tidak menemukannya,” jelas Dina.

Ketika melintasi sebuah jembatan di Peunayong, Dina dan sosok laki-laki penyelamatnya itu mendapat pemberian nasi bungkus serta sekantung air minum yang kemudian mereka nikmati bersama. Nasi tersebut hanyalah nasi polos tanpa lauk dan menjadi santapan pertama Dina semenjak dirinya terbawa arus.

Sebelum tiba di Masjid Raya, Dina sempat bertanya kepada laki-laki itu jika dirinya boleh ikut bersamanya.

“Kan saya masih anak-anak waktu itu dan nggak tahu mau kemana, jadi saya tanya dia, Bang, saya boleh nggak ikut abang? Terus abangnya bilang, Boleh, ikut aja,” tutur Dina.

Lalu, tanpa diduga, terdengar suara laki-laki dari balik puing-puing bangunan memanggil nama Dina. Laki-laki itu adalah kakak ipar Dina yang kehilangan anaknya. Kakak iparnya tersebut kemudian mengajak Dina pulang ke rumahnya dan meninggalkan sosok laki-laki yang Dina temui sebelumnya.

Sampai saat ini, percakapan di atas merupakan obrolan terakhir dengan laki-laki itu dan belum pernah bertemu lagi hingga kini.

Trauma

Bencana hebat itu tentu membekas di lubuk hati seorang gadis belia yang kehilangan kerabat terdekatnya. Dina yang kala itu baru saja bertemu keluarga iparnya pun enggan bersentuhan dengan air.

“Waktu itu saya nggak mau mandi karena saya trauma dengan air. Sampai akhirnya saya dibujuk dan dimandikan oleh tetangga saya,” lanjut Dina menceritakan saat dirinya berada di kediaman kakak iparnya.

Sampai sekarang, Dina masih enggan berinteraksi dengan air laut akibat trauma yang dideritanya. Dina juga sempat mengikuti terapi untuk memulihkan traumanya, namun hal tersebut tidak membuahkan hasil apa-apa.

Dari enam bersaudara, Dina adalah salah satu dari anggota keluarganya yang selamat pasca bencana terjadi. Sebanyak enam anggota keluarga lainnya, termasuk kedua orang tua Dina meninggal dan tidak pernah ditemukan jenazahnya oleh Dina.

Hal tersebut sampai sekarang masih menjadi goresan luka yang belum bisa disembuhkan oleh waktu. Dina pun harus melewati hari-harinya tanpa ditemani sosok terpenting dalam hidupnya. Ia juga sempat iri pada teman-temannya yang masih bisa tinggal bersama orang tuanya.

“Saya waktu itu masih muda dan benar-benar butuh figur orang tua,” ungkapnya sambil mengusap matanya.

Sebulan pasca peristiwa terjadi, Dina sudah mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 6 Banda Aceh. Ia harus bersekolah di sana akibat sekolah lamanya hancur dihantam ombak.

“Saya pindah dari SMP 1 ke SMP 6 Banda Aceh karena sekolah lama saya hancur. Saya juga sekolah di sana pakai pakaian bebas karena saya tidak punya seragam,” ujarnya.

Selama proses pemulihan trauma, Dina terus didampingi oleh keluarganya. Baginya, kehadiran keluarganya itu memberikan energi positif dan memberinya semangat untuk melanjutkan hidupnya.

“Hidup ini tidak berhenti sampai tsunami itu saja, hidup itu terus berlanjut,” kata Dina.

Kehadiran sosok kakak ipar dan keluarganya itu pun menjadi pengganti orang tua bagi Dina. Ia mengungkapkan bahwa mereka adalah tempat mengadu ketika ada sesuatu yang ingin diceritakan.

Dina lalu menjalani hidupnya dengan melanjutkan studinya hingga dirinya lulus S1 Kesejahteraan Sosial di Universitas Islam Negeri Arawiri Banda Aceh pada 2016 silam. Kini, Dina telah menikah dan dikaruniai dua orang anak.

Penulis: Wisnu Akbar Prabowo
Editor: M. Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *