Dari Rahim Wanita Tangguh

Sumber : Google Image

Penulis : Feronika Selvi O (Pengurus LPM Ukhuwah, UIN Raden Fatah Palembang.

Sore ini, aku duduk di tepi danau sembari merenung sejenak, mengingat masa kecilku yang kelam.

Ya kelam! karena ketika lahir ke dunia, aku tak tahu kepada siapa sebutan “Ayah” akan kuberikan. Bukan karena aku dibuat sebelum kedua orang tuaku menikah, hanya saja aku tidak pernah melihat sosok Ayah sejak kecil.

Kedua orang tuaku menikah pada tahun 1998. Saat aku masih berusia 5 bulan dalam kandungan Ibuku, namun saat itu juga Ayah pergi.

Kakek menceritakan bagaimana perjuangan ibu selama mengandungku tanpa sosok suami disampingnya.

“Dulu, sewaktu Ayah pergi meninggalkan Ibu, kamu masih 5 bulan dalam kandungan,” ucap kakek sembari menatapku dalam.

“Mengapa Ayah meninggalkan Ibu? Apakah Ibu melakukan sebuah kesalahan?,” tanyaku membalas dengan penasaran.

“Tidak, Ibu tidak melakukan kesalahan,” lanjut Kakek sambil menenangkanku, dan kembali melanjutkan ceritanya.

“Awalnya Ayahmu pergi untuk merantau ke salah satu kota, Entah bagaimana Ayahmu bisa tertarik dengan wanita lain,” lanjut Kakek sembari mengelus pundakku.

“Aku kira dengan adanya kehadiranku, Ayah dan Ibu akan bahagia, Ternyata aku salah,” kataku sembari menangis tersedu-sedu.

Aku yang hanya seorang gadis biasa tak kuasa menahan tangis ketika mendengar cerita kakek tentangku, betapa malangnya aku.

Meskipun begitu Ibuku lebih merasakan kesedihan yang mendalam. Mengandungku selama 9 bulan, kemudian melahirkanku bertaruh nyawa, dan membesarkanku hingga saat ini, tanpa bantuan seorang Ayah.

Kemudian kakek melanjutkan kembali cerita hidupku tentang kebahagiaan Ibu saat aku dilahirkan. Seketika rasa sedih ditinggal Ayah, perlahan hilang dan sedikit terobati.

“Setelah kamu lahir, terlihat dari raut wajah Ibu, bahwa betapa bahagianya melihat putri kecilnya sehat tanpa kekurangan apapun,” lanjut kakek sembari tersenyum ke arahku.

“Di dalam hati, aku bertekad bahwa, tidak ada satu pun orang yang bisa menyakiti Ibu, akan kubuat Ibu selalu tersenyum,” gumamku dalam hati sambil tersenyum.

Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang harmonis dan memiliki keluarga yang utuh. Sayangnya, itu semua tidak berpihak padaku, tapi aku tetap bersyukur karena aku di lahirkan dari rahim seorang wanita tangguh.

“Tak ada satu pun orang yang mau dilahirkan sepertiku kek, tapi aku bersyukur dilahirkan dari rahim Ibu, yang kukenal sebagai seorang wanita tangguh,” ucapku kepada Kakek sembari menghapus airmata

“Kau dan Ibumu adalah wanita terkuat. Tetaplah semangat menjalani hidup walaupun sepahit apapun masa kecilmu,” ucap kakek sembari memelukku.

Ibu, usiaku sekarang tepat 20 tahun. Terimakasih ibu, Kau mampu menghidupkanku sendirian tanpa sosok ayah.
Kau hebat Ibu!

Kupastikan tak ada satu orang pun yang bisa menyakitimu kembali Ibu, dari Aku, yang mencintaimu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *