Cerpen: Komunikasi Terbaik Adalah Memberi

Karya : Nur Khotimah (Pengurus LPM Ukhuwah | Mahasiswi Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Fatah Palembang)
Foto: pexels.com/Pixabay

Palembang, 2016

Ahmad, panggilan itu diperuntuhkan bagi lelaki yang berumur lebih dari separuh abad itu. Setiap pagi, Ahmad menikmati kehidupan di balik singgahsana halaman rumah kecil tanpa pagarnya. Kerap kali Ahmad duduk di kursi tunggal rotannya sambil memejamkan mata lalu secara spontan, Ahmad menggoyangkan sedikit bahunya ke kanan dan ke kiri, walau terlantun samar-samar, ritme zikir itu rasanya tak mau berhenti terucap dari bibirnya. Dan perjalanan itu selalu Ahmad lakukan usai kepulangannya dari masjid, lepas Subuh menjelang Dhuha. Namun, pagi itu tampak berbeda, Ahmad merasa bimbang dan sedih, lantaran Istrinya sakit, tabungannya menipis, dan anak laki-laki semata wayangnya, Ridho, ingin melanjutkan kuliah ke Institut Teknologi Bandung. Ia semakin dirundung kemalangan dan kegelisahan, hingga bukan hanya zikir yang terdengar, melainkan tangis yang berjatuhkan perlahan melewati kerutan pipi, dan berujung di janggutnya yang mulai memutih satu per satu itu.

“Fitri,” panggil Ahmad saat membuka pelan mata sembabnya dan kala mendengar derap langkah yang datang ke depannya.

Secepat mungkin Ahmad hapus airmatanya dengan lengan baju miliknya. Perempuan itu membuat Ahmad heran, Ia adalah sosok yang sangat Ahmad kenali, sosok yang terlahir yatim piatu, tak berada, namun hingga saat ini masih menjadi tulang punggung, bahkan bisa disebut sukses. Fitri, keponakannya sendiri. Sontak memori Ahmad kembali memutar kisah silam tentang Fitri dan kehidupannya.

Palembang, 2008

“Fit, makan dulu! Kamu kan baru pulang kerja, habis itu mau ngajar Ridho juga kan?,” ujar Ahmad saat melihat Fitri pulang dari kantornya.

Fitri bekerja sebagai guru les, yang sedang menempuh pendidikan kuliahnya, dan mengasuh anak pamannya, Ridho. Dari sanalah Ia bisa bertahan hidup sekaligus membiayai adiknya, Mira untuk bersekolah.

“Iya Paman,” sahut Fitri sambil mematung.

Ahmad pun heran dan langsung mendatangi keponakannya itu. Ahmad menanyakan perlahan kondisi Fitri yang terlihat kurang bersemangat dan seolah menyimpan bebannya sendiri.

“Kamu kenapa Fit?,” ujar Ahmad penasaran.

Fitri pun menceritakan semuanya, bahwa Ia dipecat karena pengurangan pegawai, Mira sakit, dan Ia harus membayar sidang perkuliahannya. Namun, uangnya habis untuk berobat Adiknya.

Tanpa pikir panjang Ahmad pun memberikan uangnya untuk Fitri, walaupun sebenarnya uang itu adalah tabungan untuk pendidikan Ridho. Bagi Ahmad,  Fitri jauh lebih membutuhkan.

Setelah mendengar cerita Fitri, Ahmad pergi menuju kamar dan kembali menemui Fitri. “Ini Fit ambil, buat kamu ujian. Ibu dan Bapakmu dulu baik sekali dengan Paman,” ujar Ahmad sambil memberikan uang itu pada Fitri.

Awalnya sempat ditolak oleh Fitri, namun berhasil diterima, lantaran Ahmad ikhlas dan memang ingin menolong. Berawal dari sana, akhirnya Mira pun sembuh dan Fitri pun berhasil meraih gelar sarjananya dengan predikat cumlaude, serta langsung ditarik menjadi pegawai perusahaan perbankan syariah di Kotanya.

Palembang, 2016.

“Paman, Fitri tahu sulit untuk membalas jasa Paman. Tapi satu yang harus Paman tahu, bahwa Fitri tidak akan membiarkan Paman hidup melarat seperti Fitri dulu,” ujar Fitri sambil memberikan sepucuk amplop di atas tangan pamannya, Ahmad.

Ahmad menolak, tetapi Fitri meyakinkan bahwa apa yang Fitri lakukan adalah buah investasi dan sedekah yang pernah Pamannya berikan, ikhlas tanpa meminta balasan, tetap berbagi walau hidup serba kekurangan, dan terus menebarkan kebaikan seperti yang dilakukan Pamannya.

Tangisnya semakin memecah. Setelah kata “Alhamdulillah” terlepas dari bibirnya. Sejenak Ahmad palingkan wajahnya ke arah Fitri,

”Terima kasih Fitri, semoga Allah selalu memberkahi setiap perjalanan hidupmu,”ujar Ahmad sambil tersenyum haru dan bangga.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *