Bintang yang Kesepian

Sumber : kompasiana.com

Penulis Cerpen : Annisa Dwilya Budaya (Anggota Lembaga Pers Mahasiswa Ukhuwah, UIN Raden Fatah Palembang)

Ditemani makanan ringan dan teh hangat, aku duduk terdiam menatap langit hitam yang dihiasi ornamen-ornamen berkelip cantik berhamburan. Semilir angin malam ikut membersamai kala itu, sejuk namun menenangkan.

Diantara banyak bintang yang kulihat, aku memandangan satu diantara mereka yang menurutku berbeda. Menyendiri, jauh dari bintang-bintang yang seolah membuat perkumpulan diskusi, tapi ia menjauh diri. Kesendiriannya itu, membuatku tertarik untuk menatapnya lebih lama. Walau ia sendiri tapi ia yang paling bersinar diantara yang lainnya.

Saat aku mencoba menatapnya lebih lama, tergambar wajah pria paruh baya dengan kulit sawo matang. Ia tersenyum padaku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat senyuman itu. Senyum yang dulu menjadi alasan aku harus selalu bahagia dalam hidup, kini aku melihatnya kembali.

Pahatan wajah tegas yang beberapa bagiannya ada padaku itu tertawa lepas dengan anak kecil yang di genggamannya. Ia sangat bahagia bersama anak itu. Mata sipitnya menghilang saat ia tertawa senang ketika melempar anak itu ke udara dan menangkapnya kembali dipelukannya.

Ketika hendak pergi sekolah, gadis itu menunggunya selesai makan siang. Lalu ia bergegas mengantar putri cantiknya ke sekolah dengan motor gedenya.

“Nanti pulang ayah jemput ya, tunggu aja jangan kemana-mana”, pria itu berkata pada sang gadis ketika sudah sampai di sekolahnya.

Mengangguk mengiyakan perkataan sang ayah, ia berpamitan. Ciuman di pipi oleh sang ayah saat berpamitan pergi adalah suatu yang sudah menjadi ‘tradisi’ bagi gadis itu.

Setelah bel sekolah berbunyi. Gadis kecil itu berdiri di gerbang sekolahnya. Suara motor yang sangat dikenalinya terdengar dari arah jauh dengan klakson ber-ciri khas. Kacamata yang bertengger di hidung mancungnya dan topi yang menutupi setengah rambutnya dapat dikenali dari jauh. Pria berwibawa itu datang menjemputnya sekolah.

Siang hari di dalam rumah dengan kaos berkerah dan sarung yang menggantung di pinggang, ia duduk di ruang tamu sambil bercermin dengan kaca kecil. Dirasa kesusahan dengan aktivitasnya, ia memanggil putrinya untuk meminta bantuan. Dengan sigap, putrinya pun membantunya mencabuti uban di kumisnya. Dengan konsentrasi penuh PU, masih saja beberapa kali ayahnya meringis kesakitan.

Episode demi episode aku saksikan pada malam itu. Mulai dari gadis kecil itu masih dalam gendongannya, melangkahkan langkah pertama nya, sampai sang gadis beranjak dewasa pun pria itu bersamanya. Banyak memori yang menjadi kenangan selama gadis itu tumbuh menjadi gadis yang tangguh.

Sudah cukup lama aku menatap bintang kesepian itu. Rasanya aku ingin menjadi seperti bintang itu. Tak sadar pipiku sudah basah saat memandang lama bintang itu. Air mata rindu rasaku. Ya, ternyata aku rindu dengan pria itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *