Belada Tiada Akhir Mahasiswa Semester Akhir

Foto: Internet

Penulis Opini : Rahmi Widya Lestari (Mahasiswi Jurnalistik 2016 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang)

Skripsi merupakan laporan yang diwujudkan dalam karya tulis ilmiah berupa penelitian yang disusun oleh mahasiswa dalam rangka penyelesaian studi tingkat sarjana (Strata 1) S1, Penulisan skripsi merupakan salah satu kewajiban mahasiswa dalam menyelesaikan studinya baik diseluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ataupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Indonesia. Taukah anda?, istilah skripsi sebagai tugas akhir sarjana hanya digunakan di Indonesia.

Negara lain, seperti Australia menggunakan istilah thesis untuk penyebutan tugas akhir dengan riset untuk jenjang undergraduate (S1), postgraduate (S2), Ph.D. dengan riset (S3) dan disertation untuk tugas riset dengan ukuran yang kecil baik undergraduate (S1) ataupun postgraduate (pascasarjana). Sedangkan di Indonesia skripsi untuk jenjang S1, tesis untuk jenjang S2, dan disertasi untuk jenjang S3.

Dalam penulisan skripsi, mahasiswa dibimbing oleh satu atau dua orang pembimbing yang berstatus dosen pada perguruan tinggi tempat mahasiswa tersebut kuliah untuk penulisan skripsi yang dibimbing oleh dua orang, dikenal istilah Pembimbing I dan Pembimbing II.

Menjadi mahasiswa memang selalu diidam-idamkan oleh siswa tamatan SMA, terkesan keren dan pintar, apalagi jika jurusannya bergengsi yang membuat orang lain berdecak kagum dan wah kepada mahasiswa tersebut, misalnya jurusan dokter, “wah… kerenlah bisa jadi dokter, profesi idaman mertua banget!” atau misalnya jurusan Jurnalistik “wah… keren dong bisa masuk TV, jadi presenter berita ataupun wartawan yang nulis berita, pasti banyak ilmunya nih, pinter!”, namun siapa yang tahu nasib sebagai mahasiswa tidak selalu mulus, sangat banyak lika-liku yang mengintai mahasiswa, apalagi mahasiswa semester akhir, mulai dari mencari masalah untuk diteliti, pengajuan judul skripsi, membuat serta mengajukan proposal skripsi, seminar proposal skripsi, penelitian skripsi, ujian komprehensif serta yang terakhir ujian monaqosyah, terlihat mudah memang jika diucapkan, namun sangat banyak lika-likunya, contohnya saja ada mahasiswa yang bertahun-tahun belum juga lulus S1 karena tersangkut mengerjakan skripsi, bahkan juga tidak sedikit mahasiswa yang lulus hanya dalam 4 bulan, tergantung dosen, mahasiswa dan takdir Allah STW.

Terkadang ada yang mahasiswanya rajin revisian sedangkan dosennya susah ditemui apalagi sekarang sedang heboh covid-19 yang mengguncang dunia ini hadir membuat seluruh pekerjaan menjadi serba online tambahlah sidosen susah dihubungi, namun ada solusi dari kampus yakninya bimbingan online melalui aplikasi web diberbagai kampus namun sidosen juga tetap susah merespon, terkadang ekspektasi tak seindah realita, memang benar manusia hanya bisa berencana sedangkan Allah yang menentukan tugas kita hanya berusaha dan berdoa. Mahasiswa seperti ini hanya bisa berdoa semoga akhir dari penantian panjang ini tidak sia-sia dan nantinya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan membahagiakan orangtua, sebab Allah telah mengatakan dalam Al-Quran surah Al Insyirah ayat 5 yang artinya “Karena sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan,” dan juga ibarat peribahasa berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Namun tidak semua dosen seperti itu tidak sedikit juga dosen yang aktif menanyakan skipsi mahaiswanya sedangkan mahasiswanya tetap saja santai dengan penelitiannya, memang proses menuju wisuda tak bisa ditebak dan tak semudah yang dibayangkan.

Apalagi saat ini sedang gemparnya Covid-19 yang membuat seluruh kegiatan kampus di Indonesia dialihkan menjadi serba online seperti sempro online, kompre online, monaqosyah online bahkan wisuda online, banyak yang menyayangkan hal tersebut. Misalnya saja sekarang sedang heboh wisuda online, saya menanyakan kebeberapa teman yang akan melaksanakan wisuda online, mereka sedih, kecewa, dan galau karena menurutnya momen berharga yang seharusnya dilaksanakan dengan khidmat, suasana dan atmosfir wisuda secara langsung dan didampingi orangtua yang sudah dibayangkan sejak 4 tahun kebelakang akhirnya sirna, bahkan ada mahasiswa yang mengatakan wisuda adalah moment penting seumur hidup yang akan menjadi sejarah dalam hidup mereka, karena mereka berfikir untuk sampai ketitik itu bukan perkara mudah bahkan ada yang sampai berdarah-darah, dan sebagian mahasiswa lain juga berpendapat wisuda merupakan bayaran hasil jerih payah selama menunggu bangku kuliah, yang tadinya membayangkan wisuda memakai baju jubah dan toga, duduk dengan rapi dan tertib dengan wajah sumringah, didampingi kedua orangtua, disaksikan sanak saudara, maju kedepan dengan perasaan haru dan bangga seketika semua itu sirna karena adanya covid-19, saat ini benar keresahan tiada akhir mahasiswa semester akhir.

Namun, semua harus terus berjalan, seperti halnya nasib mahasiswa akhir yang harus terus melangkah, walaupun acapkali diremehkan bahkan disebut angkatan Korona, mereka tidak tahu betapa susahnya kita mencapai ketitik ini, semua pikiran berkecamuk dalam resah.
Namun, tidak usah terlalu dipikirkan bukan?, ini adalah awalan, kita akan menempuh perjalanan selanjutnya, kita harus tetap berfikir kedepan bukan?, tidak hanya berfokus kedalam keresahan ini, yang harus kita pikirkan adalah bagaimana kita bisa bersaing dalam dunia kerja setelah kelulusan ini berakhir, sekarang waktunya bersihkan fikiran, harus tahan banting dalam menghadapi masa depan yang lebih cerah dibanding angkatan sebelum kita. Mari kita berdoa agar pandemi ini segera berakhir, kita hebat, kita kuat, kita angkatan emas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *