Ungu Sebagai Label Janda, Mewarnai Status dan Makna

Sumber: freepik.

Artikel – Ukhuwahnews | Pada zaman Romawi Kuno, ungu merupakan warna kerajaan yang menunjukkan status sosial seseorang. Selain warnanya yang brilian dan cantik, ungu menjadi penting karena memiliki nilai ekonomi yang mahal. Warna ungu menjadi mahal karena zat pewarnanya diambil dari siput yang hidup di Laut Mediterania.

Loh, tapi mengapa warna ungu selalu mendapatkan label janda? Sahabat Ukhuwah penasaran kan? Yuk, baca artikel ini sampai selesai!

Warna ungu dalam bahasa perempuan adalah ibarat bunga lily, bunga kesedihan, bunga kematian. Warna ungu dijadikan warna kesedihan, kekalahan, kematian dan kehilangan. Sebuah bentuk kesiapan akan sebuah arti kehilangan.

Dilansir dari situs Kumparan, dibeberapa negara lain, wanita yang menghadiri upacara pemakaman suaminya dianjurkan mengenakan pakaian berwarna hitam selama berbulan-bulan untuk menunjukkan rasa duka. Kemudian mereka beralih mengenakan warna ungu sebagai representasi rasa kehilangan, karena warna ungu lebih kalem dan lembut dalam mengutarakan maknanya. Pada saat itu juga wanita yang sudah ditinggalkan oleh suaminya mendapatkan status janda di mata masyarakat. Kemudian, persepsi warna janda berkembang juga di masyarakat Indonesia.

Saat ini labelling janda pada warna ungu sangat melekat, namun pada sejarahnya warna ungu telah diyakini merupakan warna cakra mahkota yang melambangkan kebijaksanaan spiritual. Dalam dunia bisnis, warna ungu banyak diasosiasikan dengan kreativitas.

Baca juga: Foto : Aksi Unjuk Rasa Gugat KPU-M Oleh Aliansi Mahasiswa UIN RF

Seiring berjalannya waktu, pemahaman tentang warna ungu tidak hanya sebatas dengan label janda. Dalam teori warna, ungu dengan kadar warna merah lebih tinggi akan memberikan energi yang lebih menyala. Sedangkan, warna ungu dengan kadar warna biru lebih tinggi, akan memberikan kesan tenang dan sejuk.

Bahkan faktanya, tanpa sengaja seorang ahli kimia bernama William Perkin pada abad ke-19 menemukan warna ungu pada saat berusaha membuat sintetis di laboratoriumnya, dengan tujuan awal untuk membuat obat malaria. Dengan sejarah begitu epik, saat ini warna ungu masih memiliki aura agung dan dipakai oleh imam dalam upacara keagamaan di Gereja Katolik.

Jadi, meskipun labelling janda masih menjadi asosiasi kuat, kita dapat menggali lebih dalam ke dalam sejarah dan makna warna ungu untuk menghargai keberagaman dan kekayaannya dalam berbagai konteks kehidupan. Pemahaman ungu dengan label warna janda adalah semuanya tergantung dari persepsi masyarakat masing-masing.

Penulis: Ula Tasyania
Editor: Imelda Melanie Agustin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *