Tingkatkan Kesehatan Mental dengan Manajemen Stres

Sumber : Google Image

Penulis : Aisyah Safitri (Pengurus LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah)

Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Sudah satu tahun lebih kita berada dibawah bayang-bayang Covid-19 yang sudah sangat banyak memakan korban jiwa. Terhitung tanggal 14 September 2021, angka kematian Covid-19 di Indonesia telah mencapai 139.415 korban yang meninggal dunia. Ia tak kenal siapa kita, jabatan kita dan dimana kita tinggal. Ia akan menyerang siapa saja yang lalai dengan protokol kesehatan.

Kehidupan semua masyarakat terkekang akibat pandemi dan menyebabkan masalah yang kompleks, mulai dari sekolah, kuliah, kerja, ibadah, pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya. Hal ini tidak bisa dihindarkan dan akan menyebabkan kepanikan, ketakutan, bahkan kecemasan di tengah-tengah masyarakat.

Covid-19 pun bisa menjadi sumber stres (stressor), bagaimana tidak? selain pembatasan sosial, masyarakat juga dibuat panik dengan berita televisi dan media lainnya yang setiap hari menampilkan pertambahan jumlah kasus Covid-19. Hal ini tentunya akan berdampak pada mental seseorang jika mereka tidak pandai memanajemen stres dan tidak tahu apa itu manajemen stres yang sangat penting dilakukan di masa pandemi seperti sekarang ini.

Untuk mencegah terjadinya gangguan mental di masa pandemi Covid-19 ini, diperlukan adanya manajemen stres. Dikutip dari Jurnal ”Pengaruh Manajemen Stres Terhadap Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Akuntansi Smk Negeri 1 Pontianak”, dalam jurnal tersebut mengatakan bahwa manajemen stres adalah keterampilan yang dapat memungkinkan seseorang untuk mengantisipasi, mencegah, mengelola serta memulihkan dari stres yang dirasakan karena terdapat ancaman dan ketidakmampuan dalam coping yang dilakukan.

Dikutip dari hellosehat.com, ada enam metode manajemen stres yang dapat dilakukan di masa pandemi:

1. Mencari tahu apa penyebab stres

Kita harus mencari tahu terlebih dahulu apa yang membuat kita stres, setiap orang mempunyai penyebab stres yang berbeda-beda. Sehingga, kita perlu mengetahui penyebab stres kita beberapa waktu belakangan ini.

2. Hindari stres yang tidak perlu

Jika kita merupakan seorang individu yang mudah mengalami stres, kita haruslah sadar. Bahwa, ada beberapa pemicu atau penyebab stres yang bisa kita hindari. Contohnya adalah jangan berpikir negatif akan suatu hal. Karena, ketika kita berpikir negatif, hal itu malah justru membuat kita berpikir berlebihan dan berujung pada stres.

3. Ubah kondisi penyebab stres

Ketika kita mengubah situasi yang mungkin dapat menimbulkan stres, kedepannya kita bisa mencegahnya untuk muncul kembali di kemudian hari.

4. Adaptasi dengan penyebab stres

Jika kita merasa bahwa pemicu stres yang terjadi bukan hal yang bisa dihindari, hal yang dapat dilakukan adalah dengan menghadapinya. Kita bisa mengubah pola pikir kita terhadap penyebab stres tersebut dan kita bisa mengelola stres itu sendiri.

5. Luangkan waktu untuk melakukan hal yang disukai

Saat memiliki waktu luang, kita bisa melakukan hobi atau hal yang kita sukai. Dengan melakukan hal itu, kita bisa mengurangi stres yang kita rasakan.

6. Terapkan gaya hidup sehat

Mulailah dengan menerapkan pola makan sehat, karena dengan gizi yang seimbang, kita bisa lebih kuat dan positif dalam menghadapi berbagai penyebab stres. Jangan lupa juga untuk memperbanyak istirahat, misalnya dengan tidur yang cukup dan tepat waktu. Kurang tidur dapat membuat kita mudah lelah dan stres sehingga tidak bisa berpikir dengan rasional.

Jika dirasa telah melakukan hal-hal diatas untuk manajemen stress dan tidak ada dampak positif yang bisa kita rasakan, kemungkinan tingkat stres yang dirasakan sudah cukup parah. Ketika hal itu terjadi, kita bisa meminta bantuan khusus dari para ahli profesional di bidangnya.

Menurut laman goodtherapy.org, ada beberapa jenis terapi yang bisa kita lakukan untuk manajemen stres dengan bantuan ahli profesional, salah satunya adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi psikologi kognitif. Terapi psikologi yang satu ini cukup efektif untuk mengatasi stres dengan mengubah pikiran negatif yang sering kali menjadi stressor.

Sebagian besar psikoterapi yang efektif untuk manajemen stress adalah yang berbasis pada mindfullness, contohnya Mindfullness-Based Cognitive Therapy (MBCT), Dialectial Behavior Therapy (DBT) atau terapi perilaku, dan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) atau terapi penerimaan dan komitmen.

Disaat kita ingin menemui ahli terapi untuk meminta bantuan tentang stres, penyebab dan gejala yang kita alami cobalah untuk berdiskusi tentang metode atau strategi terapi apa yang paling cocok dan sesuai dengan kondisi kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *