Sektor Pertanian Terancam Berisiko Tinggi Akibat Perubahan Iklim

Sumber: Pinterest/Sali Crop.

Artikel – Ukhuwahnews | Saat ini perubahan iklim dan cuaca semakin membabi buta, dibuktikan dengan banyaknya kerusakan lingkungan yang semakin parah. Dimulai dari penebangan di hutan secara liar, penggunakan gas freon dan pestisida kimia secara berlebihan, pencemaran udara diakibatkan oleh pabrik ataupun kendaraan, hingga penggunaan plastik yang sulit terurai dalam tanah. Tindak tanduk ini dapat berdampak pada pemanasan global, udara dan air akibat pencemaran yang kemudian terakumulasi sebagai penyebab terjadinya perubahan iklim yang signifikan.

Naiknya suhu dipermukaan laut ataupun daratan bisa menyebabkan sulitnya terbentuk awan hujan, sehingga musim hujan dan musim kemarau tidak bisa diprediksi yang menyebabkan turunnya kualitas kesuburan tanah dan daya dukung lahan menyebabkan produktivitas hasil pertanian ikut menurun.

Dilansir dari situs Kompas Id, Pertanian menjadi salah satu sektor yang paling terdampak, mulai bergesernya musim tanam hinga konversi lahan yang terus terjadi, yang mengakibatkan petani berisiko turun 9-25%.

Pertanian ialah induknya sumber pangan, sebagai negara yang memiliki sumber daya alam dan pangan yang beragam. Seharusnya Indonesia mampu memenuhi kebutuhan panganya secara berdaulat dan mandiri. Pemerintahpun sudah melakukan kebijakan dalam menjaga pangan yaitu dengan cara melakukan pengolahan cadangan pangan pemerintah, pengadaan persiapan pasokan pangan untuk stabilitas pasokan dah harga, pengawasan gizi, serta pengetasan daerah rawan pangan.

Tak hanya itu, penurunan produksi pertanian akan memicu harga pangan yang selanjutnya berimbas pada penurunan daya beli pangan rumah tangga. Hal ini dapat meningkatkan jumlah daerah rawan pangan yang akan menimbulkan terjadinya kasus kelaparan ataupun kekurangan gizi.

Untuk mengatasi hal tersebut, banyak upaya yang harus dilakukan demi mendorong peningkataan produksi pangan dengan cara:

Pertama, dengan cara menyusun perencanaan penyediaan pangan dengan memperhatikan agroekosistem, kebutuhan pasar, serta pangan subtitusi impor.

Kedua, penguatan stok pangan dan menjadikan Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai pengendali logistik pangan. Sistem logistik pangan mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pengadaan pangan, transportasi, pergudangan, distribusi, teknologi, aliran informasi, dan aliran uang, dari penyedia pangan sampai pengguna akhir.

Ketiga, mempromosikan dan mengedukasi percepatan diversifikasi (percepatan) konsumsi pangan berkualitas dan praktis.

Keempat, dapat melakukan penguatan sistem logistik pangan serta promosi edukasi terkait penurunan food loss dan waste.

Baca Juga: Lewat Musra 2023, Bagas Terpilih Menjadi Pemimpin Umum 2024

Dengan melakukan upaya diharapkan dapat mewujudkan kedaulatan pangan melalui ketersediaan, keterjangkauan, konsumsi pangan dan gizi keamanan serta keamanan pangan baik pada tingkat nasional dan juga di daerah secara merata sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya dan budaya lokal.

Penulis: Imelda Melanie Agustin
Editor: Elyssa Meilyana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *