Pesawat Berusia Tua, Apakah Masih Laik Untuk Terbang?

Sumber : Liputan6

Penulis : Aisyah Safitri (Pengurus LPM Ukhuwah)

Kabar duka datang dari dunia penerbangan tanah air. Seperti yang kita ketahui bersama, salah satu pesawat maskapai komersil Sriwijaya Air dengan nomor 182 (SJ182) dikabarkan hilang kontak dan jatuh di Kepulauan Seribu, Jakarta pada sabtu, (9/1/21). Kabar ini tentunya menorehkan duka mendalam bagi seluruh warga Indonesia.

Banyak pertanyaan yang bermunculan di kalangan masyarakat terkait apa yang menjadi penyebab pesawat tersebut hilang kontak dan mengalami kecelakaan. Dilansir dari CNBC Indonesia, Tim penyelam pencarian pesawat SJ182 sudah menemukan sinyal kotak hitam atau black box yang merupakan perekam data penerbangan dan perekam suara kokpit dalam pesawat terbang. Namun, sampai sekarang pun belum bisa diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab pesawat tersebut hilang kontak.

Pesawat yang sudah tua tidak bisa dijadikan penyebab ataupun alasan yang mendasari kecelakaan pada pesawat. Pesawat yang sudah tua masih laik untuk melakukan penerbangan selama pemeliharaan pesawat tersebut dilakukan dengan baik dan benar, serta perangkat harus diganti untuk beroperasi secara optimal.

Dilansir dari Beritasatu.com, Pengamat penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soejatman menilai, usia pesawat yang terlalu tua tidak bisa dijadikan alasan atas kecelakaan pesawat. Pasalnya, selama pesawat tersebut bisa dirawat dengan baik, niscaya kejadian hilangnya pesawat atau kecelakaan pesawat tidak akan terjadi.

Lebih lanjut, Gerry mengatakan bahwa usia pesawat yang tua juga memerlukan dana yang tidak sedikit untuk memperbarui komponen yang ada di dalam pesawat tersebut. Pertanyaannya adalah dana yang disediakan cukup atau tidak untuk merawat pesawat yang semakin tua itu.

Dilansir dari CNBC Indonesia, ia juga mengatakan tidak ada batasan usia pesawat untuk kelaikan pakai pesawat. Namun, ketika pesawat sudah mengharuskan banyak komponen yang perbaiki atau ganti maskapai akan melakukan perhitungan ekonomis kelanjutan penggunaan pesawat ini.

Perbaikan biasanya penambahan beban pesawat yang membuat konsumsi bahan bakar pesawat makin besar, membuat ongkos bahan bakar melambung. Selain itu ketersediaan suku cadang dan fasilitas maintenance juga menjadi pertimbangan tingkat keekonomisan pesawat.

Selain itu, Gerry juga mengatakan pesawat-pesawat baru malah punya tingkat risiko kecelakaan yang tinggi. Alasan utamanya pihak maskapai belum memahami betul dan terbiasa dengan permasalahan-permasalahan teknis pesawat tersebut. Menurutnya, maskapai butuh waktu paling cepat tiga bulan untuk beradaptasi dan benar-benar paham kondisi pesawat baru.

Jika pesawat sudah dalam pemeliharaan yang baik dan benar, dan ada kecelakaan dalam dunia penerbangan itu bisa disebabkan oleh banyak faktor. Dikutip dari CNN Indonesia, Menurut Laporan Keselamatan IATA 2017, faktor penyebab paling umum pesawat mengalami kecelakaan adalah kesalahan awak pesawat.

Kita ambil contoh kecelakaan pesawat Pada 9 Mei 2012, Pesawat Sukhoi Superjet 100 menabrak Gunung Salak saat melakukan demonstrasi penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sebanyak 45 penumpang dan awak pesawat tewas dalam kejadian tersebut. Sebagian penumpang merupakan wartawan yang meliput demonstrasi penerbangan perdana pesawat itu. Dari hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kecelakaan tersebut disebabkan oleh kelalaian pilot.

Oleh karena itu, bisa saja pesawat yang masih baru dapat mengalami kecelakaan jika tidak dirawat dengan baik, dan juga bisa saja pesawat yang sudah mencapai usia 50 tahun masih bisa melakukan penerbangan asalkan dengan syarat seperti diatas, yakni pemeliharaan pesawat yang baik dan komponen pesawat harus diganti secara berkala.

Editor : Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *