Pers Mahasiswa Sebagai Nafas Tegaknya Demokrasi

Sumber : LPM Profesi UNM

Penulis : Muhammad Aidil Ikhsan (Pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Ukhuwah UIN Raden Fatah Palembang)

Mahasiswa dijuluki sebagai agent of change atau agen perubahan. Kita, yang menyandang gelar mahasiswa kerap kali dituntut memiliki kemampuan sebelum terjun ke dunia kerja. Namun, kemampuan tersebut tidak selalu didapatkan di bangku perkuliahan. Seorang mahasiswa harus bisa mencari dan mengembangkan potensinya, salah satunya dengan cara berorganisasi. Pada setiap kampus, ada banyak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berbeda-beda, salah satunya organisasi yang bergerak di bidang jurnalistik. Ya, Jurnalis Kampus atau Lembaga Pers Mahasiswa yang ada hampir ada diseluruh perguruan tinggi.

Pers/Jurnalis tidak dapat dipisahkan dengan beragam informasi yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani peradabannya. Dalam peradaban manusia, pers mempunyai fungsi yang esensial mulai dari fungsi pendidikan, sumber informasi, hiburan dan fungsi kontrol sosial. Inilah yang dijalankan oleh seorang jurnalis. Seperti kata Mark Twain bahwa hanya ada dua hal yang bisa membuat terang bumi, yaitu sinar matahari dilangit dan pers yang tumbuh dan berkembang di bumi ini. Sehingga tidak heran jika pers dan mahasiswa disebut sebagai roda penggerak serta menjadi suatu kebutuhan dan menjadi bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan, jika digabungkan keduanya akan sangat luar biasa sekali dampaknya.

Pers Mahasiswa, dua suku kata yang menjadi nafas bagi tegaknya demokrasi di sebuah negara. Berbeda dengan dunia jurnalistik pada umumnya, Pers mahasiswa yang berkegiatan di kalangan kampus memiliki ciri tersendiri dalam pergerakannya. Lembaga Pers Mahasiswa adalah penerbitan pers yang biasanya menerbitkan karya-karya jurnalistik. Seluruh proses mulai dari mencari berita, penulisan, tata letak, pracetak dan distribusinya benar-benar dikelola oleh mahasiswa.

Lembaga Pers Mahasiswa juga bersifat independen dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, serta tidak terikat dan dipengaruhi oleh kekuasaan organisasi kampus yang bersifat politik. Tahukah kamu, pers mahasiswa juga dianggap sebagai organisasi pers yang paling ideal karena tidak beroerientasi pada kepentingan ekonomi melainkan menjunjung tinggi idealisme seorang mahasiswa.

Sejarah Pers Mahasiswa Dulu dan Sekarang.

Dinamika gerakan mahasiswa sejak dulu tidak pernah lepas dari pengaruh aktivis pers mahasiswa atau yang biasa disebut Persma. Lahir bersama kebangkitan gerakan nasional yang dipelopori pemuda, pelajar, dan mahasiswa. Persma menjadi corong kekuatan dalam menyalurkan aspirasi kritis seorang tunas bangsa. Persma bahkan sudah ada sebelum perguruan tinggi di Indonesia ada, tahun 1924 menjadi awal sejarah Persma Indonesia saat Perhimpoenan Mahasiswa Indonesia di belanda yang kala itu di dalamnya ada Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir menerbitkan Majalah Indonesia Merdeka. Selain Majalah Indonesia Merdeka, mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Cairo, Mesir, pada 1930 juga menerbitkan Oesaha Pemoeda yang redaksinya diisi oleh Abdoellah Aidid dan Ahmad Azhari.

Namun saat penjajahan Jepang, Persma tak lagi terdengar karena represi yang diberikan pemerintah Jepang sangat keras. Setelah 1950 Persma mulai tumbuh dan mengadakan konferensi I Persma Indonesia di Yogyakarta pada 8 Agustus 1955 yang menghasilkan dua organisasi yaitu, Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI) dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI) serta lahirnya Kode Jurnalistik Mahasiswa. 16-19 Juli 1958, dalam konferensi persma indonesia II IWMI dan SPMI disatukan menjadi IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia).

Memasuki periode awal Orde Baru (Orba) suhu politik meningkat, Persma semakin berani dan lebih kritis dalam pemberitaannya. Namun, lama-kelamaan rezim Orba mulai mengontrol aktivitas kemahasiswaan sehingga kebebasan pers yang dinikmati pada awal Orba mulai kendur. Tahun 1978 menjadi tahun kemunduran bagi Persma, ketakutan penguasa waktu itu akan institusi pers membuat sejumlah pers umum dibredel oleh pemerintah yang tak lama juga membredel Persma dalam kampus dan membuat IPMI semakin padam di tahun 1982.

Menjelang tahun 90-an, dalam rangka menghidupkan kembali dinamika intelektual kampus aktivitas penerbitan dan beberapa Forum Pelatihan Dan Pendidikan Jurnalistik mulai marak diadakan oleh beberapa perguruan tinggi. Forum-forum pertemuan para aktivis Persma dari berbagai universitas mulai hidup kembali sehingga banyak aspirasi dan gagasan yang mewarnai berbagai forum pertemuan Persma. Pada dekade 90-an muncul Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), di era ini peran Persma kembali terlihat begitu dominan terutama pada masa reformasi. Persma semakin menunjukan keberaniannya dalam gerakan mahasiswa 1998. Pada saat itu pers umum sangat berhati-hati dalam pemberitaan namun Persma justru semakin berani, lugas, terbuka dan tidak terkesan menutup-nutupi.

Sampai saat ini Lembaga Pers Mahasiswa masih menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk melatih dan menyalurkan ide-ide kreatif. Ditengah cepatnya arus penyebaran informasi dan maraknya berita hoax, peran pers mahasiswa sebagai kontrol sosial masih sangat diperlukan guna menjembatani informasi antara civitas akademika dengan mahasiswa, agar tidak terjadi kesalahan penyampaian informasi. Tidak hanya itu, Persma juga menjadi ujung tombak dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat serta senantiasa bersikap independen dengan memberikan informasi yang berupa fakta.

Setelah melewati perjalanan yang begitu panjang, saat ini pers mahasiswa disebut sudah mencapai kebebasannya dalam bersuara, namun proses dalam menyuarakan kebebasan tersebut masih banyak mengalami cedera. Kebebasan berpendapat tetap diawasi pihak-pihak penguasa, tidak jarang dari mereka bertindak represif dengan perintah penurunan berita yang sudah dipublikasi. Namun terlepas dari itu semua, dengan peranan yang sangat penting di kampus, Persma diharapkan mampu menjadi lembaga yang mampu mengakomodir dan menjadi pelopor dalam menegakkan kebenaran.

Manfaat dan Keunggulan Pers Mahasiswa

Menjadi seorang Pers Mahasiswa, akan membuat tingkat kepekaan yang semakin meningkat, karena selain akan terlatih menganalisis dan menyaring sebuah informasi. Persma juga diharuskan menanggapi sebuah isu dengan kritis, inovatif dan kreatif. Seorang persma akan memiliki wawasan yang lebih luas, dikarenakan seorang Persma harus memperdalam banyak isu, baik isu kesehatan, kebudayaan sampai politik. Hal ini terkadang membuat kita menjadi lebih peka dalam memahami isu yang bukan berlatarbelakang jurusan saja.

Dalam setiap peliputan, tentu selalu membuat seorang persma bertemu dengan orang yang berbeda-beda, tak jarang Pers Mahasiswa melakukan wawancara ke petinggi kampus atau pejabat daerah seperti Walikota, Kapolda, Rektor, bahkan Gubernur. Hal ini dapat membuat kita terus berkembang dengan bertemu narasumber yang tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berbicang langsung dengan narasumber sepertitadi.

Biasanya seorang pers mahasiswa akan sering bertemu dengan wartawan profesional saat melakukan pelatihan jurnalistik, bahkan kebanyakan dari wartawan profesional sangat senang membagi pengalamannya ke kawan-kawan pers mahasiswa. Menjadi pers mahasiswa bukan hanya aktif dalam menulis tetapi juga mendalami bidang lain seperti Fotografi, Vidiografi, Desain Grafis bahkan manajemen keorganisasian. Secara tidak langsung hal ini yang menjadi modal bagi seorang pers mahasiswa untuk melanjutkan terjun ke dunia kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *